Pada 31 Juli 2025, pasukan Israel menyerang Bank Benih Palestina di Al-Khalil (Hebron) dengan merusak Unit Perbanyakan Benih, fasilitas utama yang menjaga dan memperbanyak benih asli yang sesuai dengan kondisi lokal. Serangan ini memutus pasokan listrik dan air serta menghancurkan sistem irigasi dan peralatan teknis, memaksa para petugas untuk mengungsi di bawah ancaman kekerasan.
Bank Benih Al-Khalil adalah satu-satunya di Tepi Barat yang melindungi varietas tanaman asli dan memasok benih untuk petani lokal. Kerusakan ini menghancurkan siklus benih penting, menghilangkan keanekaragaman genetik langka, dan mengancam ketahanan pangan Palestina.
Fuad Abu Saif dari Union of Agricultural Work Committees menyatakan serangan tersebut merusak hak rakyat Palestina untuk menentukan apa yang mereka tanam dan makan, sekaligus menghancurkan warisan budaya dan lingkungan.
Penghancuran pertanian Palestina berjalan beriringan dengan ekspansi permukiman ilegal Israel, terutama di Al-Khalil (Hebron), yang berusaha untuk menguasai sumber air dan tanah produktif, membatasi akses petani Palestina, dan menekan pasar lokal.
Sejak Oktober 2023, sektor pertanian Palestina mengalami kerusakan besar. Ribuan petani terdampak dan kerugian material mencapai puluhan juta dolar, termasuk pembakaran pohon zaitun, perampasan lahan, dan pencemaran lingkungan oleh limbah berbahaya yang dibuang Israel ke Tepi Barat.
Israel terus memperluas kejahatan yang menciptakan hambatan besar bagi penduduk Palestina melalui penyitaan tanah, perluasan permukiman, tembok pemisah, pos pemeriksaan, dan pembatasan air, yang secara sistematis melemahkan pertanian Palestina dan memaksa ketergantungan pada produk impor Israel.
Bank Benih Al-Khalil kini berupaya meminta bantuan internasional untuk membangun kembali fasilitas yang hancur, namun tantangan di bawah pendudukan sangat berat. Penghancuran ini bukan sekadar serangan fisik, melainkan juga serangan terhadap masa depan, kebebasan, dan kedaulatan pangan rakyat Palestina.
Fuad Abu Saif menegaskan, “Ketika benih hilang, hilang pula hak untuk memberi makan diri sendiri, dan ketika itu hilang, kebebasan juga ikut hilang.”








