Mata minus adalah kondisi bentuk bola mata tidak bulat sempurna. Kondisi itu menyebabkan jatuhnya cahaya berada di depan retina sehingga menyebabkan orang dengan kondisi miopia atau mata minus mengalami kesulitan untuk melihat objek pada jarak jauh. Beberapa faktor penyebab yakni faktor genetik, kebiasaan melihat gawai pada jarak dekat secara terus-menerus, hingga faktor kurangnya pancaran sinar matahari yang disebabkan oleh kurangnya aktivitas di luar ruangan.
Menurut data yang dirilis oleh American Academy Of Ophtalmology atau persatuan dokter spesialis mata di Amerika menyebutkan bahwa pada 2050 nanti akan ada sekitar 4.758 juta jiwa atau 49,7 persen dari populasi dunia mengalami mata minus atau miopia. Meningkatnya kasus miopia ini disebut sebagai myopia booming.
Pascapandemi Covid-19, banyak anak usia sekolah yang terindikasi memiliki gangguan penglihatan, baik itu mata minus maupun silinder. Hal tersebut terjadi karena semenjak pandemi COVID-19, anak usia sekolah kurang memiliki waktu beraktivitas di luar rumah sehingga hal tersebut menjadi salah satu pemicu terjadinya mata minus. Faktor penggunaan gadget yang intens menjadi salah satu penyebab fenomena myopia booming. Ledakan Mata Minus (myopia booming) kerap terjadi di beberapa negara Asia Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia dengan pertumbuhan kasus mata minus yang sangat signifikan.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap 2.322 siswa pada rentang usia 7 tahun hingga 12 tahun didapatkan data bahwa terdapat sekitar 50% anak usia sekolah dasar belum pernah melakukan pemeriksaan mata dan hampir 70% dari partisipan mengalami gangguan penglihatan seperti mata minus dan silinder. Hal tersebut melebihi prediksi American academy of Ophtalmology pada 2016 silam, mengenai myopia booming sebelum adanya pandemi.
“Perlu diketahui bahwa kondisi miopia atau minus dapat menurunkan kualitas hidup seseorang, selain itu kondisi miopia atau mata minus juga dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan mata penderitanya,” kata dokter spesialis mata dr Weni Puspitasari Sp.M, seperti dilansir pada Rabu (10/1)
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








