Serangan Israel yang mematikan di Tepi Barat telah memicu kesedihan dan kemarahan di Gaza. Setelah sembilan warga Palestina tewas dalam serangan Israel di Jenin, kelompok-kelompok bersenjata di Gaza mengumumkan keadaan siaga tinggi, menyebut serangan itu “kejahatan baru Israel” terhadap rakyat Palestina. Roket ditembakkan ke Israel, dan ratusan warga Palestina berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa untuk mengutuk pembantaian di Jenin.
Menyusul pengumuman tersebut, dua roket ditembakkan dari Gaza ke Israel, sebuah serangan yang diklaim oleh Jihad Islam Palestina. Kedua roket tersebut kemudian ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Iron Dome Israel. Sebagai balasan, Israel meluncurkan serangan udara di lokasi-lokasi perlawanan di Gaza.
Pesawat tempur Israel menembakkan 15 rudal ke sebuah lokasi di kamp pengungsi al-Maghazi, menyebabkan kerusakan properti dan mengakibatkan pemadaman listrik di daerah tersebut. Pesawat tempur juga menghancurkan dan membakar dua lokasi lainnya, di utara dan tenggara. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari kedua belah pihak.
Khader Habib, juru bicara Jihad Islam, mengatakan bahwa rakyat Palestina telah “menjadi sasaran pembunuhan dan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya oleh pemerintah baru Israel di semua bagian Tepi Barat di tengah tidak adanya intervensi internasional sama sekali”. Ia menambahkan, “Selama rakyat Palestina sendirian dalam konfrontasi, kami tidak punya pilihan selain melawan dengan semua yang kami miliki sebagai satu-satunya cara untuk membela diri,” kata Habib.
Reham Owda, seorang analis politik yang berbasis di Gaza, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa eskalasi besar tidak mungkin terjadi meskipun faksi Palestina mengancam akan menanggapi serangan di Jenin. “Saya pikir tanggapan fraksi adalah tanggapan moral,” kata Owda. “Mereka masih mengadopsi kebijakan menahan diri karena tidak ingin mengalihkan perhatian dari Tepi Barat ke Gaza.” Hal tersebut masuk akal mengingat serangan tiga hari Israel atas Gaza baru saja terjadi pada Agustus lalu dan menewaskan sedikitnya 49 orang.
“Sulit untuk tetap diam menghadapi kejahatan ini. Kami di Gaza menyerukan perlawanan untuk merespons dan protes meningkat, bahkan jika kami harus membayar harganya lagi,” kata Habib. “Gaza tidak akan meninggalkan Jenin meskipun ada blokade [di Gaza] dan semua kekhawatiran yang kami derita dari sini,” katanya. “Memang benar kami takut akan perang baru, tetapi pilihannya sempit bagi kami. Pendudukan masih melanjutkan agresinya. Haruskah kami diam saja?”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








