Sudah hampir delapan bulan sejak Yara Eid kembali ke Gaza setelah enam tahun tinggal di Inggris untuk belajar hubungan internasional. Selama itu, tidak sekali pun perempuan berusia 22 tahun itu pulang ke Gaza untuk mengunjungi keluarganya karena blokade Israel selama 15 tahun dan pembatasan perjalanan, benar-benar menyulitkannya. Eid mengatakan dia mengalami “masa-masa sulit” setelah serangan Israel berulang kali di Gaza selama berada di luar negeri.
“Selama di Inggris, setiap kali ada pengeboman di Gaza, jantung saya akan berhenti berdetak,” kata Eid. “Saya akan terpaku pada ponsel saya selama 24 jam setiap hari, mencoba menelepon keluarga saya untuk memeriksa apakah mereka baik-baik saja.” Menurutnya, yang paling mengerikan adalah serangan yang terjadi setelah dia kembali ke rumah, yaitu agresi tiga hari Israel yang dimulai pada 5 Agustus yang merenggut nyawa empat puluh sembilan warga Palestina.
Ketika itu, Eid merasa harus melakukan sesuatu, jadi dia memutuskan untuk menggunakan ponselnya, pergi ke jalan-jalan untuk melaporkan secara langsung, berbicara tentang serangan udara Israel di Gaza, dan berupaya agar suaranya didengar dunia. “Biasanya, saya merasa sangat takut dengan suara bom,” kata Eid. “Kali ini berbeda. Saya memutuskan untuk mengatasi ketakutan saya. Saya memiliki kemampuan bahasa Inggris yang sangat baik, serta memiliki banyak hubungan dan teman di Inggris. Saya memutuskan untuk menggunakan potensi itu dalam menyampaikan pesan dari Gaza; tentang ketidakadilan, penindasan, dan pengeboman terus-menerus yang terjadi terhadap orang-orang di sini.”
Influencer lainnya, Bisan Odeh, (23), sedang mengerjakan proyek yang mendukung pemuda Gaza, menginisiasi komunitas dan memproduksi konten. Dia menulis cerita yang memotret realitas masyarakatnya dan menghasilkan video sosial. Selama serangan terakhir di Gaza, Bisan merasa bahwa Gaza telah dilupakan, bahwa korban–banyak di antara mereka adalah anak-anak dan perempuan–hanya dilaporkan sebagai angka. Bisan kemudian mulai merekam video setelah menyelidiki orang-orang yang terbunuh dalam serangan Israel.
Video yang difilmkan Bisan dalam bahasa Inggris menjadi viral di platform media sosial dan dibagikan oleh banyak pengikut. “Bicara tentang Gaza selalu berbeda, tetapi melalui media sosial, kami dapat menyampaikan keseimbangan dalam liputan. Kami tidak bisa mengatakan kehidupan di sini selalu cerah, tetapi kami juga tidak bisa hanya berbicara tentang pengeboman dan penghancuran.”
Sementara bagi mahasiswi kedokteran gigi, Salma Shurrab (20), aktivitasnya di media sosial jauh dari ranah geopolitik. Dia mengkhususkan diri dalam pemasaran, fashion, periklanan dan perjalanan. Setelah pecahnya serangan tiga hari pada Agustus lalu, Shurrab mengatakan dia merasa dia harus memberitahu teman-teman dan kenalannya tentang apa yang terjadi. Shurrab memfilmkan sebuah video yang menggambarkan hidupnya selama serangan Israel untuk menyampaikan pesan bahwa orang-orang di Gaza dapat mengubah hidup mereka kapan saja.
“Apa yang saya perhatikan adalah bahwa saya tidak berbeda dari mereka (teman-teman),” katanya. “Saya seorang gadis yang berbudaya, sadar akan pendidikan, bahkan mengikuti mode dan gaya terbaru. Akan tetapi, setelah bertemu banyak orang, menjadi jelas bahwa “ada bagian dari Gaza yang tidak diketahui dunia.” lanjutnya, “Kita tidak bisa lepas dari kenyataan di Gaza yang membuat kebanyakan dari kami tidak bisa pergi jauh meraih impian dan ambisi kami sebebas yang kami inginkan.”
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








