Lebih dari satu tahun genosida Israel sudah terlewati dan kengerian itu tentu saja belum berakhir hingga memasuki tahun 2025. Pembunuhan massal terhadap warga Palestina telah disiarkan di televisi dan disaksikan oleh seluruh dunia sejak awal tragedi ini.
Tahun baru selalu menjadi momen untuk refleksi. Amina Sheikh berbagi opininya tentang pengalaman menjadi seorang ibu di tengah pergantian tahun, saat genosida di Gaza terus berlangsung. Hal ini membuatnya merenungkan perjuangan yang harus dihadapi oleh para ibu di Palestina.
Bagi saya, sebagai seorang ibu yang baru saja menyambut tahun baru, genosida di Gaza membuat saya merenungkan penderitaan para ibu Palestina.
Setahun setelah kelahiran putri saya, Fatima Wicahpiwin, saya sering berpikir tentang bagaimana saya dapat memastikan dirinya tetap sehat, aman, dan bahagia. Tinggal di Kanada memberi saya akses mudah terhadap obat-obatan, vaksin, dan semua kebutuhan gizi. Namun, saya selalu teringat pada nasib ibu-ibu Palestina yang tidak seberuntung itu. Keamanan yang saya miliki terasa sebagai sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki semua orang.
Dalam dunia yang penuh simpati, penderitaan mereka seharusnya menggugah hati nurani siapa pun.
Pada 7 Oktober 2023, saya berada di trimester pertama kehamilan. Perjalanan ini penuh dengan tantangan yang umum dialami ibu hamil di seluruh dunia, seperti mual berkepanjangan dan kelelahan karena kekurangan elektrolit. Meskipun kehamilan biasanya membawa kebahagiaan, saya justru merasa sedih memikirkan ibu-ibu Palestina.
Setiap kali menghadapi penyakit baru, saya membatin, “Bagaimana jika saya harus mengalami ini di Palestina?” Saya membayangkan kondisi tanpa obat-obatan, makanan, atau dukungan keluarga yang memadai.
Dunia macam apa ini?
Sejak serangan Israel dimulai, Save the Children melaporkan bahwa Wilayah Palestina yang Diduduki menjadi “tempat paling mematikan di dunia bagi anak-anak.” Lembaga ini mencatat bahwa sekitar 30% anak-anak yang terbunuh di Gaza berusia di bawah lima tahun.
Banyak bayi meninggal akibat hipotermia ketika suhu udara turun drastis selama musim dingin. Kekurangan makanan, air, pakaian, dan tempat tinggal yang layak—semua akibat blokade Israel—menyebabkan angka kematian yang terus meningkat.
Kita juga menyaksikan bayi-bayi yatim piatu di inkubator kekurangan susu formula, serta merebaknya polio dan penyakit menular lainnya yang sebenarnya bisa dicegah. Para ibu bahkan terpaksa melahirkan tanpa anestesi.
Saya masih ingat seorang ibu yang memasukkan kurma ke mulut anaknya untuk mengganjal rasa lapar karena ia tak mampu menyediakan susu akibat kekurangan makanan.
Banyak gambar menyayat hati yang tersebar menunjukkan ibu-ibu yang kelelahan, kelaparan, dan trauma, tetapi mereka tetap membersihkan, memasak, bermain, dan memeluk anak-anak mereka meski tinggal di tenda yang bocor, tanpa privasi, dan dalam kondisi tidak higienis.
Ketika putri saya tertidur, saya sering memeriksa tubuh mungilnya, memastikan ia bernapas. Pikiran menakutkan ini terus menghantui setelah mendengar kisah ibu-ibu Palestina yang mendapati bayi mereka telah meninggal dunia.
Kengerian yang terus berlanjut
Kisah-kisah mengerikan dari Palestina terlalu banyak untuk dihitung. Salah satunya adalah seorang ayah yang pulang membawa sertifikat kelahiran bayi kembarnya, hanya untuk menemukan mereka telah terbunuh bersama istrinya akibat serangan Israel.
Tragedi semacam ini membangkitkan pertanyaan: bagaimana mungkin masih ada orang yang meragukan penderitaan rakyat Palestina? Bagaimana mungkin gambar-gambar tubuh kecil tak bernyawa yang diselimuti kain putih tidak memaksa dunia untuk bertindak?
Para profesional kesehatan dan para ahli di badan-badan internasional secara konsisten menggemakan bahwa pembunuhan anak-anak dan perempuan oleh Israel bersifat sistematis dan disengaja.
Memang, sejak Israel menjajah Palestina, tidak ada belas kasihan, apalagi keselamatan yang diberikan kepada ibu-ibu Palestina. Tidak ada “zona aman” untuk dituju, untuk melindungi anak-anak dan orang-orang terkasih. Israel terus menebar kematian, kehancuran, dan kesulitan yang amat berat.
Dokter Amerika, Mark Perlmutter, yang menjadi relawan di sebuah rumah sakit di Gaza, menceritakan rincian mengerikan tentang anak-anak dengan luka tembak di kepala mereka, dan menyatakan bahwa penembak jitu IOF sebenarnya dengan sengaja menargetkan anak-anak.
Kenyataannya, kisah-kisah kengerian yang dialami orang tua Palestina terlalu banyak untuk dihitung. Tragedi-tragedi mengerikan ini membuat saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin ada orang yang tidak yakin dengan penderitaan rakyat Palestina? Bagaimana mungkin gambar-gambar tubuh kecil tak bernyawa yang diselimuti kain putih tidak memaksa dunia untuk mengambil tindakan terhadap genosida yang didukung AS ini?
Pembunuhan ibu dan anak
Sejak awal, Israel sudah jelas dalam niatnya untuk memusnahkan segalanya. Selama berbulan-bulan, kita mendengar anak-anak disebut sebagai makhluk non-manusia atau “human-animal” yang harus disingkirkan. Bahkan, politikus Israel Meirav Ben Ari pada Oktober 2023 mengatakan bahwa “anak-anak Gaza telah membawa malapetaka ini pada diri mereka sendiri.”
Pada November, hampir 70% korban terbunuh di Gaza adalah perempuan dan anak-anak. Laporan Lancet menegaskan bahwa angka kematian sebenarnya lebih tinggi dari yang dilaporkan.
Sepanjang tahun, Kementerian Kesehatan Gaza dan para dokter telah melaporkan pembunuhan sistematis terhadap ibu dan anak. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyebut Gaza sebagai “kuburan bagi anak-anak.”
Keteguhan ibu-ibu Palestina
Meski menghadapi penderitaan luar biasa, ibu-ibu Palestina tetap teguh. Mereka terus menunjukkan keberanian yang luar biasa di tengah penindasan. Banyak ibu di seluruh dunia yang memimpin aksi solidaritas melalui demonstrasi, kampanye, hingga media sosial untuk menyuarakan kebenaran tentang kejahatan Israel.
Sebagai seorang ibu, saya tidak bisa tinggal diam. Begitu saya merasa mampu, saya ikut serta dalam aksi langsung, demonstrasi, dan gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS). Ini adalah pesan yang ingin saya sampaikan kepada putri saya: kita tidak boleh bersikap acuh terhadap penindasan. Kita, sebagai ibu, harus melakukan apa pun untuk menghentikan penderitaan dan ketidakadilan yang dialami rakyat Palestina.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








