Palestine Solidarity Day: Momen Pengingat Bahwa Palestina Masih Memerlukan Kita – Tujuh puluh empat tahun yang lalu, tepatnya pada 29 November 1947, Sidang Majelis Umum PBB mengadopsi Resolusi 181 atau Resolusi Partisi mengenai pembagian wilayah Palestina menjadi dua, yaitu wilayah Yahudi dan Arab. Resolusi tersebut disetujui oleh 33 majelis, sementara 13 majelis lainnya menolak dan 10 majelis memilih untuk tidak bersuara. Sejak saat itu, sebagian besar wilayah Al Quds dan Betlehem berada di bawah kendali internasional.

Perbandingan wilayah Palestina sejak 1917 hingga 2020
Sumber : https://www.aljazeera.com/news/2021/5/18/mapping-israeli-occupation-gaza-palestine
Umat Yahudi mendapatkan bagian wilayah di pesisir sekitar Tel Aviv, sementara penduduk asli Palestina hanya mendapatkan 45 persen dari wilayah yang tersisa. Kecaman dan penolakan dari negara-negara Arab yang pro-Palestina sama sekali tidak diindahkan. Pada hari itu, tanah Palestina “dipotong” oleh pihak yang tidak memiliki, dan “diberikan” kepada pihak yang tidak berhak menerima.

Wilayah Palestina pasca Resolusi Partisi
Sumber : https://www.aljazeera.com/news/2020/6/26/palestine-and-israel-mapping-an-annexation
Resolusi ini adalah awal dari perampasan wilayah-wilayah Palestina yang terjadi selanjutnya. Hanya dalam satu tahun, wilayah Palestina yang tersisa untuk penduduk asli tersisa 22 persen saja, yaitu Tepi Barat dan Gaza. Jumlah yang sangat sedikit ini kemudian diambil alih juga oleh Zionis pada 1967, membuat penduduk Palestina layaknya orang asing di tanah kelahiran mereka sendiri, terusir dari rumah tempat mereka menetap dari generasi ke generasi.
Pada 1977, PBB menetapkan tanggal 29 November sebagai Hari Solidaritas Palestina.[1] Tanggal ini dipilih sebagai pengingat bahwa pada tanggal tersebut, Israel telah membuka “gerbang” penjajahan terhadap Palestina melalui Resolusi Partisi yang dari hari ke hari semakin bertambah parah. Dipilihnya tanggal ini juga sebagai pengingat bahwa pada 1967, Israel melakukan pelanggaran dengan mengakui kota suci Al Quds sebagai ibukota mereka secara sepihak, tanpa persetujuan dari seluruh dunia.
Hingga hari ini, penjajahan belum juga usai. Pada Oktober 2021, diumumkan bahwa sebanyak 3.100 permukiman Yahudi direncanakan akan didirikan di atas tanah Palestina, menggilas rumah-rumah penduduk asli yang telah dihuni dari generasi ke generasi. Semakin banyak keluarga Palestina terancam kehilangan rumah, perempuan dan anak-anak terancam tidur beratapkan langit, beralaskan tanah. Jangan tanyakan ketika musim dingin menyapa, mereka hanya bisa berdoa, sembari menggigil menahan hawa dingin yang menerpa. Tak hanya rumah, sejak 1967 hingga sekarang, sebanyak 2,5 juta pohon di Palestina telah dicabut secara paksa, dan 800.000 di antaranya adalah pohon zaitun, “Pohon Kehidupan” yang menjadi simbol negara Palestina dan sumber mata pencaharian penduduknya. Pohon-pohon yang menjadi saksi perjuangan bangsa Palestina, dicabut paksa hingga ke akarnya demi menghapus identitas asli penduduk Palestina.
Hingga hari ini, penjajahan belum juga usai. Lima dari sepuluh saluran listrik yang berfungsi menyediakan pasokan listrik ke Gaza telah dihancurkan. Bahan bakar juga dilarang untuk masuk, membuat listrik hanya bisa menyala selama empat jam, dan sisanya dipenuhi dengan kegelapan. Aktivitas tidak bisa berjalan baik; siang yang panas menyengat bagai tak berujung dan malam yang menusuk tulang bagai tak berkesudahan. Dalam dua tahun terakhir ini, lebih dari 114 fasilitas air telah dihancurkan, sehingga air bersih yang merupakan sumber kehidupan menjadi langka. Keran air tidak berfungsi, membuat air menjadi terlalu asin untuk diminum, sementara sumber air lainnya telah dipenuhi oleh limbah. Akibatnya, anak-anak Palestina sangat rentan tertular penyakit, dan tidak sedikit yang meregang nyawa.
Hingga hari ini, penjajahan belum juga usai. Sebanyak 4.650 penduduk palestina masih mendekam di penjara-penjara Israel yang dingin. Sebanyak 500 di antaranya ditangkap tanpa pengadilan, hanya karena satu alasan: mereka berkebangsaan Palestina. Mereka dipisahkan dari orang-orang tercinta, tanpa kepastian berapa lama lagi bisa berjumpa, atau apakah mereka bisa keluar penjara dalam kondisi masih bernyawa. Sebanyak 160 tawanan adalah anak-anak, yang dipisahkan dari orang tua mereka bahkan sebelum mereka bisa memahami apa sebenarnya kesalahan mereka, dan 34 tawanan adalah perempuan, yang sedang mengandung dipaksa melahirkan di penjara, yang telah memiliki anak tak bisa mendampingi anak mereka tumbuh dewasa.
Hingga hari ini, penjajahan belum juga usai. Sejak 2000 hingga 2021, sebanyak 2.193 anak Palestina yang tidak berdosa telah kehilangan nyawa, hanya karena mereka dilahirkan dari rahim seorang Palestina. Tak ada tempat yang aman di Palestina, bahkan bagi anak-anak yang belum bisa memegang senjata. Sekolah juga tidak menjadi tempat yang aman bagi mereka, sebab sepanjang perjalanan ke sekolah, mereka ditakut-takuti oleh para pemukim dan tentara yang menghalangi perjalanan mereka. Begitu sampai di sekolah, mereka belum bisa tenang karena sesi pelajaran seringkali diinterupsi oleh ledakan bom dan tembakan gas air mata. pada 2019, PBB melaporkan bahwa telah terjadi 257 insiden terkait pendidikan di Palestina, menimbulkan trauma mendalam bagi anak-anak Palestina untuk sekedar hadir untuk belajar dan bermain sekolah.
Hingga hari ini, penjajahan memang belum usai, tetapi dukungan dan bantuan dari Adara dan Indonesia tetap akan selalu ada. Presiden Joko Widodo, selaku perwakilan dari Indonesia, pada peringatan Hari Solidaritas Palestina di New York tahun 2020 menunjukkan dukungannya dengan mengatakan:
“Tantangan yang dihadapi oleh penduduk Palestina semakin besar saat ini. Pandemi Covid-19 membahayakan kesehatan dan keselamatan penduduk Palestina, sementara mereka juga harus menghadapi aneksasi merayap yang terus-menerus dan selalu meningkat bersama dengan semakin intensifnya kontestasi geopolitik global dan regional yang membahayakan prospek perdamaian di Timur Tengah. Sehubungan dengan itu, saya ingin menegaskan kembali dukungan dan solidaritas penuh dari rakyat dan Pemerintah Indonesia atas perjuangan rakyat Palestina[2] untuk menentukan nasibnya menjadi negara Palestina yang berdaulat dan merdeka.”
Oleh karena itu, pada Hari Solidaritas Palestina tahun ini, kita kembali diingatkan bahwa Palestina sedang tidak baik-baik saja. Penjajahan dari hari ke hari semakin menyiksa, sehingga kita tidak bisa menutup mata, membiarkan saudara-saudara kita terusir dan teraniaya di tanah airnya. Kita tidak bisa diam saja, ketika mengetahui bahwa zionis menodai tanah suci yang di atasnya berdiri kiblat pertama. Palestina membutuhkan kita, agar penduduknya tidak lagi dipenjara tanpa perkara, agar para perempuannya tidak lagi disiksa, agar anak-anaknya tidak lagi dihantui oleh trauma. Palestina membutuhkan kita agar dapat merdeka jiwa dan raga, karena masalah Palestina bukan sekadar politik atau agama semata, melainkan masalah kemanusiaan darurat yang membutuhkan kepedulian dan tindakan nyata dari kita semua.
Salsabila Safitri
Sumber :
https://www.aljazeera.com/news/2020/6/26/palestine-and-israel-mapping-an-annexation
https://www.aljazeera.com/news/2021/5/18/mapping-israeli-occupation-gaza-palestine
https://www.aljazeera.com/news/2018/11/30/palestinians-mark-40th-international-solidarity-day
https://interactive.aljazeera.com/aje/palestineremix/palestine-divided.html#/27
https://kemlu.go.id/newyork-un/en/read/message-from-president-of-indonesia-to-the-observance-of-the-international-day-of-solidarity-with-the-palestinian-people-new-york-29-november-2020/4204/etc-menu
https://aqsainstitute.org/2019/11/26/sejarah-penetapan-hari-solidaritas-palestina/
https://en.unesco.org/commemorations/solidaritypalestinianpeopleday
https://www.un.org/en/observances/international-day-of-solidarity-with-the-palestinian-people
https://www.addameer.org/statistics
https://www.dci-palestine.org/child_fatalities_by_month
[1] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/adara-dukung-millennial-peacemaker-festival/
[2] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/kami-bersama-pemerintah-indonesia-dukung-penuh-kemerdekaan-palestina/







