Warga Palestina pada Rabu (14/5) memperingati Nakba, peristiwa pengusiran massal mereka saat pendirian negara Israel, seraya menyatakan bahwa sejarah kelam tersebut kini terulang di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki.
Puluhan ribu orang telah terbunuh di Gaza, sementara blokade bantuan yang terus berlangsung mengancam wilayah itu dengan kelaparan. Di sisi lain, para pemimpin Israel terus menyuarakan keinginan untuk mengosongkan wilayah tersebut dari penduduk Palestina sebagai bagian dari agresi yang dimulai pada 7 Oktober 2023.
Di Tepi Barat yang telah diduduki sejak tahun 1967, pasukan Israel juga telah menggusur puluhan ribu warga Palestina dari kamp-kamp pengungsi dalam operasi militer besar-besaran.
Tahun ini menandai peringatan ke-77 Nakba — yang berarti “malapetaka” dalam bahasa Arab — merujuk pada pengusiran sekitar 700.000 warga Palestina saat berdirinya Negara Israel pada tahun 1948.
Di Kota Ramallah, Tepi Barat, bendera Palestina dan bendera hitam bertuliskan “kembali” berkibar di sejumlah persimpangan jalan. Anak-anak sekolah diangkut dengan bus menuju pusat kota untuk mengikuti serangkaian acara peringatan yang berlangsung selama sepekan.
Dalam salah satu acara, sejumlah anak laki-laki yang mengenakan syal khas Palestina (kufiyah) tampak melambaikan bendera dan membawa replika kunci berukuran raksasa — simbol rumah-rumah mereka yang telah hilang di wilayah yang kini menjadi bagian dari Israel, dan keyakinan bahwa suatu hari mereka atau keturunan mereka dapat kembali ke sana. Di Gaza sendiri tidak ada acara yang diselenggarakan. Lebih dari 19 bulan agresi dan pengeboman Israel telah membuat warga hidup dalam kehancuran dan keputusasaan.
Moamen al-Sherbini, warga kota Khan Younis di Gaza selatan, mengatakan kepada AFP bahwa ia merasa sejarah sedang berulang.
“Hidup kami di Gaza telah menjadi satu rangkaian panjang Nakba — kehilangan orang-orang tercinta, rumah kami hancur, dan mata pencaharian kami musnah,” ujarnya.
Hampir seluruh dari 2,4 juta penduduk Gaza telah mengalami pengungsian sedikitnya satu kali sejak agresi dimulai.
Pada awal Mei, kabinet keamanan Israel menyetujui rencana perluasan ofensif militer di Gaza yang bertujuan untuk “menaklukkan” wilayah tersebut dan menggusur penduduknya secara massal. Langkah ini memicu kecaman internasional.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa pemerintahnya sedang berupaya mencari negara ketiga untuk menampung penduduk Gaza, beberapa bulan setelah mantan Presiden AS Donald Trump mengusulkan pengusiran warga dan pembangunan ulang wilayah tersebut sebagai destinasi wisata.
Berbicara dari Nuseirat, Gaza tengah, Malak Radwan (36 tahun) mengatakan bahwa “Nakba bukan lagi sekadar kenangan — melainkan kenyataan yang kami jalani setiap hari di Gaza. Rumah saya hancur, kini hanya tumpukan batu, dan kami tidak punya tempat berlindung.”
‘Nakba Baru Setiap Hari’
“Ini adalah hari yang menyedihkan dalam kehidupan para pengungsi Palestina,” kata Nael Nakhleh (52 tahun) di Ramallah, yang keluarganya berasal dari Desa al-Majdal dekat Jaffa, wilayah yang kini menjadi bagian dari Israel.
Para pengungsi Palestina terus menuntut hak untuk kembali ke desa dan kota asal mereka — atau yang ditinggalkan oleh keluarga mereka pada tahun 1948 — yang kini berada dalam wilayah Israel.
Hak untuk kembali tetap menjadi isu utama dalam perundingan damai antara Israel dan Palestina yang telah lama menemui jalan buntu.
Nakhleh, yang tinggal di kamp pengungsi Jalazone dekat Ramallah, menyempatkan diri untuk mengikuti rangkaian peringatan di kota tersebut.
“Meski kenangan ini menyakitkan, kami masih terus hidup dalam Nakba baru setiap harinya, melalui serangan-serangan Israel terhadap kamp-kamp pengungsi Palestina di Tepi Barat,” ungkapnya.
Militer Israel meluncurkan operasi besar-besaran di Tepi Barat sejak Januari lalu, yang hingga kini masih berlangsung dan telah menyebabkan sedikitnya 38.000 orang terusir, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Operasi ini terutama menyasar kamp-kamp pengungsi di wilayah utara Tepi Barat, termasuk perintah evakuasi oleh tentara dan penghancuran rumah-rumah warga.
Wasel Abu Yusef, anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), kepada AFP menyatakan bahwa rakyat Palestina “semakin teguh dalam memperjuangkan hak mereka untuk kembali.”
Sumber:
https://www.newarab.com/news/palestinians-mark-nakba-amid-mass-displacement-gaza-and-west-bank








