Musim dingin yang menghantam Jalur Gaza membawa duka mendalam bagi para pengungsi Palestina. Dalam kondisi cuaca yang ekstrem, seorang bayi perempuan dilaporkan meninggal dunia di dalam tenda yang rapuh di kawasan al-Mawasi, Khan Younis, Jalur Gaza selatan. Cuaca dingin yang menusuk terus memperburuk penderitaan hampir 2 juta pengungsi, yang terpaksa bertahan di tenda-tenda usang dengan fasilitas seadanya.
Para pengungsi, yang kehilangan tempat tinggal akibat serangan brutal Israel sejak 7 Oktober 2023, hidup dalam kondisi kemanusiaan yang sangat sulit. Kekurangan makanan, air bersih, dan pakaian hangat membuat mereka rentan terhadap cuaca yang membeku. Tenda-tenda yang menjadi tempat berlindung sering kali tidak mampu menahan hujan deras dan angin kencang, menambah penderitaan mereka pada musim dingin kedua sejak agresi militer Israel.
Shadia Aiyada, seorang ibu yang mengungsi bersama delapan anaknya, mengungkapkan betapa sulitnya menjaga keluarganya tetap hangat. Dengan hanya satu selimut dan botol air panas, mereka berusaha melawan dingin yang menusuk. “Kami takut setiap kali mendengar ramalan cuaca buruk karena tenda-tenda kami sering terangkat oleh angin kencang,” ujarnya. Kekhawatiran serupa dirasakan Reda Abu Zarada, seorang pengungsi lainnya, yang tidur sambil memeluk anak-anaknya agar tetap hangat, meskipun tikus-tikus berkeliaran di sekitar mereka pada malam hari.
Upaya bantuan internasional untuk meringankan penderitaan para pengungsi menghadapi tantangan besar. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan bahwa meskipun telah mendistribusikan ribuan tenda dan selimut, bantuan tersebut jauh dari cukup. Banyak bantuan yang terjebak di Yordania dan Mesir karena Israel tidak memberikan izin untuk memasukkan barang-barang tersebut ke Gaza. Akibatnya, lebih dari 945.000 orang di Gaza kini membutuhkan perlengkapan musim dingin, sementara harga kebutuhan tersebut melambung tinggi, membuatnya tidak terjangkau oleh sebagian besar penduduk.
Louise Wateridge, juru bicara UNRWA, menyatakan bahwa persediaan bantuan seperti tenda, selimut, dan kasur telah rusak akibat cuaca dan binatang pengerat. Sementara itu, Komite Penyelamatan Internasional menghadapi kesulitan besar dalam mendatangkan pakaian musim dingin untuk anak-anak karena rumitnya proses perizinan.
Serangan Israel tidak hanya menyebabkan kehancuran fisik, tetapi juga krisis kemanusiaan yang parah. Hingga saat ini, lebih dari 45.000 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak, menjadi korban terbunuh. Kondisi ini diperburuk oleh blokade yang menciptakan kekurangan besar kebutuhan pokok, termasuk makanan, air, listrik, dan obat-obatan.
Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kemanusiaan di Gaza. Selain itu, Israel menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas agresi yang berlangsung.
Musim dingin yang mematikan di Gaza menjadi pengingat pahit akan dampak blokade dan serangan yang tak henti-hentinya terhadap warga sipil. Tanpa tindakan nyata dari komunitas internasional, penderitaan mereka akan terus berlangsung, menciptakan luka yang mendalam bagi generasi mendatang.
Sumber:
https://www.trtworld.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








