Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan rencana untuk mengambil alih kendali Jalur Gaza, dengan alasan keamanan dan untuk membentuk pemerintahan sipil lokal yang “bebas dari pengaruh Hamas” dan tidak mengancam keberadaan Israel.
Dalam wawancara dengan FOX News, Netanyahu mengatakan Israel tidak berniat memerintah Gaza secara permanen, tetapi akan membentuk “perimeter keamanan” dan menyerahkan kendali kepada pihak ketiga—termasuk mitra Arab regional—yang dianggap mampu “memerintah dengan baik” tanpa mengancam Israel.
Rencana ini mencakup pendudukan Kota Gaza di bagian utara. Menurut laporan Axios, kabinet politik-keamanan Israel telah menyetujui proposal Netanyahu untuk “mengalahkan Hamas” melalui pengambilalihan Kota Gaza disertai penyaluran bantuan kemanusiaan di luar zona pertempuran.
Seorang pejabat senior Israel menyebut, semua warga sipil Palestina akan dievakuasi dari Gaza City ke kamp-kamp pusat dan wilayah lain sebelum 7 Oktober, diikuti pengepungan terhadap pejuang Hamas yang tersisa dan melancarkan operasi darat.
Media Israel sebelumnya melaporkan bahwa keputusan untuk menduduki seluruh Jalur Gaza sudah dikuasai dan akan segera diumumkan.
Langkah ini diambil di tengah kecaman internasional atas agresi Israel yang sejak Oktober 2023 telah membunuh lebih dari 61.100 warga Gaza, mayoritas perempuan dan anak-anak. Netanyahu saat ini menghadapi surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) bersama mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Israel juga tengah digugat di Mahkamah Internasional (ICJ) atas tuduhan genosida.
Sumber:
https://www.aljazeera.com/news/2025/8/8/israeli-security-cabinet-approves-plan-to-occupy-gaza-city-report
https://www.#/20250807-netanyahu-says-israel-intends-to-occupy-gaza/








