Jalur Gaza merupakan wilayah di barat daya Palestina dengan luas 365 km2 yang menjadi rumah bagi sekitar 2.1 juta jiwa penduduk Arab-Palestina. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu wilayah dengan populasi penduduk terpadat di dunia.[1] Wilayah dengan bentuk memanjang dan sempit ini terbagi menjadi lima provinsi, yaitu Gaza Utara, Kota Gaza, Deir al-Balah, Khan Yunis, dan Rafah.
Istilah Jalur Gaza muncul pada 1948 sejak “berdirinya negara Israel” untuk menyebut wilayah Palestina yang berada di barat daya[2]. Jalur ini terletak di pantai timur Laut Tengah (Mediterania), dekat dengan pesisir pantai, dan merupakan wilayah yang landai dengan ombak yang tenang, sehingga memungkinkan pelabuhan Gaza untuk beroperasi sepanjang tahun. Jalur Gaza menjadi pusat pemerintahan Palestina setelah Perjanjian Oslo pada 1994 yang dilaksanakan oleh Israel dan Palestina, diwakili oleh Palestine Liberation Organization (PLO)
Posisinya yang strategis sebagai wilayah pesisir, menjadikan aktivitas perikanan atau nelayan sebagai salah satu pilar utama ekonomi Palestina di Jalur Gaza dan merupakan pekerjaan pokok bagi 70.000 penduduknya[3]. Dengan realitas seperti ini, seharusnya penduduk Gaza dapat menggantungkan perekonomian untuk penunjang kesejahteraan keluarganya melalui sektor perikanan. Namun, kenyataanya tidak demikian. Penarikan diri Israel dari Jalur Gaza tidak serta merta membuat Israel hengkang begitu saja dari wilayah tersebut. Israel terus membatasi dan mengawasi seluruh wilayah Gaza melalui blokade yang diberlakukan sejak 2006, termasuk wilayah lautnya.
Blokade ini tidak ayal turut memengaruhi pekerjaan nelayan. Pada 2016, misalnya, Israel membatasi jangkauan perairan nelayan Gaza sejauh 6 mil dari lepas bibir pantai. Walaupun setelah Perjanjian Oslo terdapat kesepakatan yang mengizinkan nelayan Gaza untuk melaut sejauh 20 mil, Israel tidak pernah memenuhi kesepakatan tersebut. Jarak terjauh perairan yang pernah Israel izinkan untuk nelayan Gaza adalah 12 mil dari lepas pantai. Hal tersebut tentu memengaruhi hasil tangkapan nelayan karena kuantitas dan kualitas ikan dipengaruhi oleh habitat atau kedalaman laut tempat ikan berkumpul.
Batas Laut yang ditetapkan Israel terhadap nelayan Palestina dari tahun ke tahun.
Sementara itu, pada 2019 hingga 2021, jarak terjauh yang pernah diizinkan untuk nelayan Gaza ialah sejauh 15 mil. Kebijakan tersebut juga selalu berubah; pada April—Oktober 2019 misalnya, perubahan jarak tersebut terus berganti sebanyak 14 kali[4]. Hal ini membuat hasil tangkapan nelayan Gaza menurun.
Blokade juga menghambat produktivitas nelayan Gaza. Dalam hal ini, Israel membatasi masuknya bahan baku yang diperlukan para nelayan untuk melakukan perawatan dan perbaikan kapalnya, seperti fiberglass, kabel baja, mesin, dan suku cadang lainnya[5].
Israel juga melarang penjualan hasil tangkapan ke Tepi Barat dan “wilayah Israel”. Banyak dari nelayan yang tidak mampu menutup biaya operasional kapal penangkap ikan dan kekurangan peralatan keselamatan.
Data dari World Bank terkait indikator kinerja sektor perikanan di Gaza, menunjukkan hasil yang rendah dalam lingkup ekonomi, akses memancing, dan hak untuk mengambil ikan serta berbagai faktor lainnya. Hal tersebut membuat nelayan Gaza hidup di ambang garis kemiskinan.
Indikator Kinerja Perikanan
Sumber: https://openknowledge.worldbank.org/
Jumlah nelayan juga mengalami penurunan akibat blokade. Sebelum blokade pada tahun 2006, Gaza memiliki nelayan yag berjumlah 10.000 orang. Namun, setelah blokade dan berbagai pembatasan dilakukan, Asosiasi Nelayan Palestina menyatakan bahwa hanya sekitar 4000 nelayan yang kini terdaftar dalam lembaganya. Kebanyakan dari mereka merupakan satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga. Selain itu, setengah dari jumlah nelayan yang terdaftar, kehilangan pekerjaan dan 95% dari mereka hidup di bawah garis kemiskinan—diindikasikan dengan pendapatan bulanan kurang dari 2.294 shekel Israel atau USD 600. [6]
Jenis Tangkapan Ikan Menurut Kedalaman Laut dan Jarak Pantai
Sumber: https://www.ochaopt.org
Nelayan Gaza juga kerap mengalami tindakan represif dari Angkatan Laut Israel. Mereka sering kali menyita perahu nelayan Gaza secara berkala dan membebankan hingga 500 shekel Israel (lebih dari USD 155) per kapal untuk mengembalikannya. Selain itu, meskipun nelayan Gaza berlayar dan beraktivitas sesuai dengan jarak yang ditentukan, penangkapan dan penembakkan dengan peluru karet masih sering dilakukan. Banyak nelayan terluka, sekalipun kebanyakan dari mereka tidak bersenjata dan tidak menimbulkan ancaman bagi kapal Angkatan laut Israel atau lainnya.
Pelanggaran Hak Nelayan Palestina oleh Pendudukan Israel di Jalur Gaza
Sumber: http://www.miftah.org
Dahulu, Laut Mediterania merupakan penyelamat bagi 2 juta orang yang tinggal di Jalur Gaza. Ikan menjadi hidangan sarapaan dan makan malam tradisonal yang terus-menerus terhidang di atas meja makan. Namun, blokade dan segala bentuk penyerangan terhadap para nelayan, telah mengubah tradisi ini secara drastis. Kini, banyak di antara penduduk Gaza yang tidak mampu membeli ikan dari laut mereka sendiri. Pembatasan wilayah perikanan, penyitaan kapal, penembakan, penangkapan, dan berbagai tindakan represif lainnya telah menghancurkan kesejahteraan dan ekonomi penduduk Gaza secara keseluruhan. Para nelayan secara teratur dilecehkan dan menjadi sasaran pembunuhan yang disengaja oleh angkatan laut penjajah karena dianggap melanggar batas-batas selalu diubah dengan sewenang-wenang.
Menurut Pusat Hak Asasi Manusia Al-Mezan, pada 2021 hingga 2022, tiga nelayan Palestina, yaitu Mohammad Hijazi Lahham (27), Zakariya Hijazi Lahham (24), dan Yahia Mustafa Lahham (29), yang merupakan satu keluarga, dibunuh dalam perahu mereka dengan alat peledak besar yang ditempatkan di laut oleh pesawat tak berawak Israel. Sejak 2006 hingga 2020, sepuluh nelayan tewas, 183 terluka, 650 ditangkap, dan sedikitnya 167 kapal dihancurkan dan disita.[7]

Terlepas dari kerentanan industri perikanan, sektor tersebut tetap bertahan, sebagian besar karena itu adalah profesi pilihan para pekerja. Muhammad Bakr, seorang nelayan, berkata, “Saya suka laut dan baunya. Ini adalah hal yang tak terlukiskan. Saya menghabiskan waktu berjam-jam di laut tanpa bosan.”
Di sebelahnya duduk Majdy Al-Amoudi, lelaki tua yang telah bekerja sebagai nelayan selama 60 tahun. Ia mengambil pancingannya seraya menerawang, mengenang hal-hal indah yang telah dilaluinya, “Saya dibesarkan di antara perahu, dan ikan masih menjadi makanan favorit saya. Saya memakannya setiap pagi; itu sebabnya saya menikmati kesehatan yang baik dan gigi yang kuat.” Lelaki tua itu tertawa, kemudian terdiam beberapa saat, menghela napas, dan berbicara tentang tantangan yang ia hadapi di laut, “Perahu saya ditembak hingga rusak oleh angkatan laut penjajah. Saya bisa selamat adalah keajaiban,” katanya kepada kontributor Middle East Monitor.
Ada begitu banyak tantangan yang dihadapi oleh para nelayan Palestina di Jalur Gaza, tetapi perikanan tetap menjadi industri vital dalam perekonomian Gaza, dan laut telah menjadi magnet yang melekat dalam kehidupan pendududuknya. Dengan demikian, memulihkan keamanan dan memperluas akses bagi nelayan sangat penting untuk merevitalisasi Jalur Gaza yang diblokade ini.
Yunda Kania Alfiani
Penulis merupakan Relawan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan.
[1] https://www.aljazeera.com/news/2022/8/7/the-gaza-strip-explained-in-maps
[2] Agus Sugiato, dll. (2013). (2013). “Agresi Militer Israel Ke Jalur Gaza Tahun 2008-2009 (The Israeli military aggression to the Gaza Strip in 2008-2009)”. Artikel Penelitian Mahasiswa, h.9.
[3] People’s Dispatch. (2021). “Israel Uses the Gaza Fishing Zone as a Tool for Collective Punishment Against Palestinians”. https://peoplesdispatch.org/2021/08/11/israel-uses-the-gaza-fishing-zone-as-a-tool-for-collective-punishment-against-palestinians/. Diakses pada 24 Juli 2022, 15:11.
[4] Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA). (2021)“Gaza’s fisheries: record expansion of fishing limit and relative increase in fish catch; shooting and detention incidents at sea continue”. https://www.ochaopt.org/content/gaza-s-fisheries-record-expansion-fishing-limit-and-relative-increase-fish-catch-shooting. Diakses pada 24 Juli 2022, 20.29.
[5] The Israeli Information Center for Human Rights in the Occupied Territories (B’Tselem ). (2021). “Israel Destroying Gaza’s Fishing Sector”. https://www.btselem.org/gaza_strip/20170129_killing_the_fishing_sector. Diakses pada 24 Juli 23.06.
[6] [6] People’s Dispatch. (2021). “Israel Uses the Gaza Fishing Zone as a Tool for Collective Punishment Against Palestinians”. https://peoplesdispatch.org/2021/08/11/israel-uses-the-gaza-fishing-zone-as-a-tool-for-collective-punishment-against-palestinians/. Diakses pada 25 Juli 2022, 09:12.
[7] https://www.#/20220430-gazas-fishermen-struggling-for-a-catch-to-feed-their-families/
Referensi:
Aljazeera. (2019). “Israel Reinstates Gaza Fishing Zone Restrictions”. https://www.aljazeera.com/news/2019/5/29/israel-reinstates-gaza-fishing-zone-restrictions.
Al-Monitor. (2021). “Israel Expands Gaza Fshing Zone After Demonstrations”. https://www.al-monitor.com/originals/2021/09/israel-expands-gaza-fishing-zone-after-demonstrations#:~:text=%22It%20has%20been%20decided%20to,for%20the%20impoverished%20Palestinian%20enclave.
CNN Indonesia. (2021). “Israel Beri Serangan Udara Usai Palestina Kirim Balon Peledak”. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20210726044846-120-672055/israel-beri-serangan-udara-usai-palestina-kirim-balon-peledak.
Kurnialam, Alkheidi. (2021). “Israel Tahan Kapal dan Nelayan Gaza”. https://www.republika.co.id/berita/qx19im382/israel-tahan-kapal-dan-nelayan-gaza.
Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA). (2017). “Restricted livelihoods: Gaza fishermen”. https://www.ochaopt.org/content/restricted-livelihoods-gaza-fishermen.
Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA). (2021). “Gaza’s fisheries: record expansion of fishing limit and relative increase in fish catch; shooting and detention incidents at sea continue”. https://www.ochaopt.org/content/gaza-s-fisheries-record-expansion-fishing-limit-and-relative-increase-fish-catch-shooting
People’s Dispatch. (2021). “Israel Uses the Gaza Fishing Zone as a Tool for Collective Punishment Against Palestinians”. https://peoplesdispatch.org/2021/08/11/israel-uses-the-gaza-fishing-zone-as-a-tool-for-collective-punishment-against-palestinians/.
Sugianto, Agus., dkk. (2013). “Agresi Militer Israel Ke Jalur Gaza Tahun 2008-2009 (The Israeli military aggression to the Gaza Strip in 2008-2009)”. Artikel Penelitian Mahasiswa. Diakses dari: http://repository.unej.ac.id/handle/123456789/61687.
The Israeli Information Center for Human Rights in the Occupied Territories (B’Tselem ). (2021). “Israel Destroying Gaza’s Fishing Sector”. https://www.btselem.org/gaza_strip/20170129_killing_the_fishing_sector.
The Palestinian Initiative for The Promotion of Global Dialogue and Democracy (MIFTAH). (2020). “Violation of Palestinian Fisherman’s Rights by the Israeli Occupation in the Gaza Strip”. http://www.miftah.org/Doc/Factsheets/Miftah/English/FactSheet_Violation_of_Palestinian_Fisherman_Rights_by_the_Israel_%20Occupation_in_the_Gaza_Strip_En.pdf.
Wafa Aludaini (2022). “Gaza’s Fishermen Struggling for a Catch to Feed Their Families.”
https://www.#/20220430-gazas-fishermen-struggling-for-a-catch-to-feed-their-families/
World Bank. (2020). “Rapid Fishery and Aquaculture Sector Diagnosis Using Fishery Performance Indicators in the Gaza Strip”. https://openknowledge.worldbank.org/bitstream/handle/10986/33839/Rapid-Fishery-and-Aquaculture-Sector-Diagnosis-Using-Fishery-Performance-Indicators-in-the-Gaza-Strip.pdf?sequence=1.
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








