Tanggal 20 November seharusnya menjadi hari istimewa yang membuat mata dunia tertuju pada kami: anak-anak. Akan tetapi, ini adalah Hari Anak Sedunia ketiga yang kami, anak-anak Gaza, lewati di tengah genosida dan blokade ketat oleh Israel. PBB mengatakan bahwa tema Hari Anak Sedunia tahun ini adalah “My Day, My Rights” yang artinya “Hariku, Hakku”. Slogan tersebut terdengar pendek dan sederhana, namun kenyataannya begitu sulit terpenuhi. Dua tahun genosida telah membuat kami kehilangan nyaris seluruh hak-hak kami: hak atas pendidikan, kesehatan, keamanan, bahkan yang paling mendasar, hak untuk hidup.
Bulan lalu, orang-orang dewasa mengatakan bahwa mereka telah membuat kesepakatan gencatan senjata, yang disambut dengan tepuk tangan dari seluruh dunia. Namun faktanya, ledakan bom dan tembakan peluru sepertinya hanya berhenti di depan media, tidak di Gaza. Kami, anak-anak Gaza, masih menjadi target penyerangan, bahkan hingga meregang nyawa. Banyak di antara kami juga masih menderita akibat kelaparan dan wabah penyakit sebab truk-truk bantuan yang membawa makanan, susu, air bersih, serta obat-obatan tetap tidak diizinkan masuk. Kami masih terlalu kecil untuk memahami apa saja isi gencatan senjata itu, tetapi yang kami tahu, penderitaan kami masih belum berakhir.
Kami adalah anak-anak Gaza, yang sama seperti anak-anak lainnya di seluruh dunia. Kami tidak pernah bisa memilih oleh siapa, di mana, dan dalam kondisi seperti apa kami dilahirkan. Akan tetapi, tolong jangan lupakan bahwa kami, meskipun kecil, juga merupakan manusia yang utuh. Kami memiliki hak-hak yang harus dipenuhi, kami memiliki perasaan dan suara yang harus didengar. Dari balik puing-puing, di antara bisingnya ledakan bom, serta di tengah kebisuan dunia dan pihak-pihak yang berwenang, kami akan terus menuntut hak kami sebagai anak-anak.
Epigenetika: Kerusakan Genetik yang Diwariskan Antargenerasi

Rewan Aldreini adalah salah salah satu anak-anak Gaza yang tumbuh dengan menyaksikan genosida 7 Oktober. Usianya 22 bulan, artinya ia telah merasakan dampak genosida bahkan sejak saat ia masih berada dalam kandungan ibunya. Nahas, Rewan lahir pada waktu dan tempat yang kurang sesuai bagi anak-anak untuk bertumbuh dengan normal. Ia lahir di Gaza, di tengah genosida, dari rahim seorang ibu yang menderita trauma.
Sejak dilahirkan, Rewan sama sekali belum pernah merasakan air susu ibu, yang seharusnya menjadi asupan nutrisi utama pada tahun-tahun pertama kehidupannya. Ibunya terlalu lemah untuk menghasilkan ASI, terhalang oleh depresi akibat pengeboman dan pengungsian yang tiada henti. Rewan adalah anak keempat, yang artinya orang tuanya masih harus berusaha mempertahankan hidup tiga anak lainnya di tengah blokade ketat yang menghalangi masuknya makanan, air bersih, dan kebutuhan pokok lainnya.
Rewan, bayi mungil yang tidak mendapatkan hak-hak dasarnya sejak lahir itu, kini tumbuh dengan kondisi yang sangat tidak sesuai untuk anak seusianya. Beratnya hanya 7 kg, dia tidak bisa berjalan, hampir tidak bisa berbicara, menderita sistem kekebalan tubuh yang lemah, masalah jantung, dan kekurangan gizi parah. Seolah seluruh penyakit berkumpul di tubuh kecilnya, dan hal tersebut membentuk satu benang merah: kerusakan genetika.
Kasus Rewan bukanlah satu-satunya di Gaza. Masih banyak kondisi serupa; ketika seorang ibu mengandung dalam kondisi stres, trauma, dan depresi, mereka akan melahirkan anak-anak yang menderita berbagai masalah kesehatan. Ini menunjukkan bahwa genosida tidak hanya meninggalkan dampak pada individu, melainkan menjalar hingga generasi-generasi di bawahnya. Rewan memang bertahan hidup, namun para peneliti genetika memperingatkan bahwa ia kemungkinan akan mengalami masalah kesehatan jangka panjang, bahkan bisa menurun pada anak-anaknya di masa depan.
Seperti seluruh penyakit yang berkumpul di tubuh kecil Rewan, seluruh masalah kini berkumpul di Jalur Gaza yang sempit: pengeboman, kelaparan, kehausan, wabah penyakit, gangguan mental, dan masih banyak lagi. Para peneliti menyebutkan bahwa meskipun kelaparan, stres, dan trauma tidak terbukti dapat mengubah DNA, namun mereka tetap menandainya dengan perubahan kimia yang memengaruhi bagaimana gen diekspresikan, tanpa mengubah urutan yang mendasarinya. Proses ini dikenal sebagai epigenetika, ketika beban genosida diwariskan antargenerasi. Anak-anak yang lahir dari ibu yang menderita malnutrisi dan gangguan mental berpotensi menghadapi risiko kesehatan yang lebih tinggi di kemudian hari.
Serangan dan blokade Israel telah merusak genetika anak bahkan sejak sebelum mereka dilahirkan. Para dokter di Gaza telah mencatat lonjakan angka keguguran, kelahiran prematur, dan cacat lahir yang terjadi akibat paparan bahan kimia beracun dan senjata yang digunakan oleh Israel selama genosida. Pada tahun 2025 saja, telah tercatat ada 400 kasus kelainan bawaan dan tingkat deformitas janin atau penyimpangan bentuk bagian tubuh, tulang, atau organ mencapai 200 kasus per 1.000 kelahiran di Gaza.
Meski belum ada penelitian resmi yang mengkaji tentang epigenetika di Gaza, namun Profesor Tessa Roseboom, seorang ahli biologi di Universitas Amsterdam, pernah memimpin penelitian serupa tentang dampak genetik kelaparan di Belanda sekitar tahun 1944–1945. Ia mengatakan “Penelitian menunjukkan bahwa hormon stres pada ibu memengaruhi tubuh dan otak bayi. Kami juga mempelajari bagaimana ayah yang tinggal dalam kondisi tidak aman, penuh tekanan, dan kekurangan gizi akan tuurt memengaruhi (tumbuh kembang) bayi mereka.”
Di Jalur Gaza yang dilanda genosida, penderitaan yang dihadapi anak-anak menimbulkan dampak yang berlipat ganda. UNICEF menyebutkan bahwa 50.000 anak di Gaza telah kehilangan nyawa atau terluka, dan sedikitnya 20.000 anak telah meninggal sejak awal genosida. Lebih dari 12.800 anak yang bertahan hidup menderita kekurangan gizi akut dan 40.000 bayi tidak bisa mendapatkan susu formula. Selain itu, lebih dari 453 anak telah meninggal akibat bencana kelaparan yang disengaja oleh Israel dan 650.000 anak terancam meninggal akibat malnutrisi. Anak-anak Gaza menanggung beban yang tidak seharusnya diemban oleh anak-anak, meninggalkan kerusakan epigenetik yang parah dan berkelanjutan.
Epigenetik yang terjadi di Gaza bukanlah suatu kondisi yang muncul secara tiba-tiba, melainkan sebuah proyek yang disengaja oleh Israel untuk menghancurkan seluruh generasi di Jalur Gaza. Dokter-dokter internasional yang bertugas di Gaza bahkan melaporkan bahwa Israel memiliki pola dalam menyerang anak-anak. Sebanyak 15 dokter menyatakan kepada De Volkskrant bahwa mereka menangani sedikitnya 114 anak berusia 15 tahun ke bawah dengan luka tembak tunggal di kepala atau dada dan itu terjadi di 10 fasilitas medis yang berbeda. Luka-luka tersebut identik, dan sebagian besar anak meninggal akibat luka tersebut. Ini menunjukkan bahwa tidak ada yang kebetulan di genosida Gaza, baik itu penyerangan, kelaparan, maupun kerusakan genetika.
“Tidak diragukan lagi bahwa bencana genetika sedang menanti warga Gaza, terutama ibu hamil dan remaja laki-laki yang sedang mengalami masa pubertas, masa kritis pembentukan sperma,” terang Profesor Hassan Khatib, seorang ahli epigenetika di Universitas Wisconsin-Madison. ”Apa yang terjadi akan mengakibatkan bencana di masa depan yang akan kita lihat pada generasi yang tumbuh di Gaza karena Jalur Gaza menyaksikan banyak faktor kompleks yang memberikan tekanan negatif pada orang-orang di sana,” tambahnya.
Gangguan Mental Membentuk Generasi Tanpa Suara di Gaza

Pada momen Hari Anak Sedunia ini, anak-anak Gaza seharusnya diberi kesempatan untuk bersuara, menceritakan kondisi keras yang mereka hadapi dan menuntut hak-hak mereka pada dunia. Sayangnya, anak-anak Gaza telah kehilangan kemampuan berbicara mereka, bukan akibat cedera fisik, melainkan akibat trauma psikologis selama genosida. Terapis wicara Heba Haidar, seorang spesialis gangguan bahasa dan menelan, mengatakan bahwa laporan dari UNICEF dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengonfirmasi kasus-kasus kegagapan dan kehilangan bicara yang terkait langsung dengan paparan pengeboman Israel. “Anak-anak yang ditarik dari bawah reruntuhan telah berhenti berbicara,” kata Haidar. “Bahkan remaja pun kesulitan membentuk kata-kata—seolah-olah bahasa itu sendiri telah hancur di bawah beban trauma.”
Laporan Program Kesehatan Mental Komunitas Gaza (GCMHP) menunjukkan semakin banyak anak di Gaza telah menunjukkan gejala pascatrauma parah, termasuk mimpi buruk kronis, hipersensitivitas terhadap suara keras, dan mengompol. Ini termasuk banyak kasus anak yang tetap memilih diam meskipun pita suaranya sama sekali tidak rusak. Diam adalah satu-satunya bahasa yang tersisa bagi mereka, setelah menyadari bahwa jerit tangis dan teriakan ketakutan tidak pernah bisa membebaskan mereka dari serangan pasukan Israel.
Para dokter mengidentifikasi kondisi ini sebagai “mutisme traumatis”, yaitu gangguan psikologis ketika ketakutan atau keterkejutan yang luar biasa membungkam suara anak, membuat mereka terpaksa berkomunikasi melalui gerakan, tatapan, atau gestur berulang. “Kelelahan psikologis di Gaza telah meluas,” kata Dr. Yasser Abu Jamea, Direktur GCMHP. “Tim medis bekerja dalam kondisi yang sangat buruk sehingga perawatan hampir mustahil untuk dilanjutkan.” Seorang dokter dari Dokter Lintas Batas (MSF) menggambarkan situasi tersebut dengan gamblang: “Seorang anak di Gaza tidak hidup dengan kenangan akan satu serangan udara—mereka hidup dengan menunggu serangan berikutnya.”
PBB menyatakan bahwa saat ini, lebih dari satu juta anak Gaza sangat membutuhkan dukungan mental dan psikososial. Sebuah studi yang dilakukan oleh Pusat Pelatihan Masyarakat untuk Manajemen Krisis di Gaza yang diterbitkan pada 12 Desember 2024 mengungkapkan bahwa 96% anak-anak di Gaza merasa bahwa kematian mereka sudah dekat, sementara 49% menyatakan keinginan untuk mati. Perkara tersebut bukanlah ide yang seharusnya muncul di pikiran anak-anak yang normal. Seharusnya anak-anak hanya memikirkan permainan, petualangan, dan hal-hal menyenangkan lainnya, namun genosida telah merenggut itu semua dari kehidupan anak-anak Gaza.
Direktur Unit Informasi di Kementerian Kesehatan di Gaza, Zaher Al-Wahidi, menyebutkan bahwa sekitar 38.500 anak di Gaza telah menjadi yatim piatu sejak genosida dimulai dua tahun lalu. Sekitar 32.151 anak kehilangan ayah mereka, 4.417 kehilangan ibu mereka, dan 1.918 kehilangan kedua orang tua. Lebih dari 40 persen keluarga di Gaza kemudian mengambil tanggung jawab untuk merawat anak-anak yang sebatang kara ini, sebab empat panti asuhan yang ada di Gaza telah beralih fungsi menjadi tempat penampungan pengungsi, meninggalkan anak-anak yang tak lagi memiliki orang tua. Mereka kehilangan tempat pengasuhan dan terpaksa tinggal bersama keluarga lain yang tidak mereka kenal. Petugas medis Gaza kemudian memberikan sebutan khusus untuk anak-anak ini: Wounded Child No Surviving Family (WCNSF).
Selain kehilangan orang tua, banyak anak Gaza juga telah kehilangan satu atau lebih anggota tubuh mereka akibat serangan Israel. Baru-baru ini, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya ada 6.000 kasus amputasi di Gaza dan kasus anak-anak mencapai 25 persen. Jumlah tersebut membuat WHO merilis laporan yang menunjukkan bahwa Jalur Gaza telah mencatat tingkat amputasi anak tertinggi di dunia jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Kurangnya peralatan medis dan obat-obatan telah memperparah penderitaan korban cedera, membuat luka-luka mereka semakin lama untuk pulih.
PBB juga menambahkan bahwa anak-anak Gaza kehilangan kesempatan mereka untuk bersekolah. Sebanyak 660.000 anak usia sekolah terpaksa putus sekolah karena lebih dari 88 persen sekolah telah hancur selama genosida. Kini ransel sekolah mereka diisi dengan pakaian dan barang-barang penting untuk dibawa berlari ketika Israel melancarkan serangan terbaru. Tanpa sekolah, hari-hari anak Gaza diisi dengan perjalanan untuk mencari makanan dan air bersih, juga pengungsian yang seolah tiada henti.
Cedera fisik memang menjadi permasalahan yang serius di Gaza, namun gangguan psikologis juga menjadi hal yang tak kalah penting untuk ditangani. Cedera fisik dapat dilihat dengan mata, rasa sakitnya juga disadari oleh tubuh, namun gangguan psikologis seringkali tak terlihat. Dalam beberapa kasus gangguan ini bahkan tidak disadari oleh penderitanya, padahal gangguan psikologis juga dapat memengaruhi kesehatan fisik. Anak-anak Gaza yang lahir dan tumbuh di tengah genosida mungkin belum sepenuhnya memahami apa yang saat ini terjadi, namun mereka akan selalu mengingat rasa sakit, trauma, dan kehilangan yang disebabkan oleh genosida di tanah kelahiran mereka.
Harapan Sederhana Anak Gaza: Tumbuh Dewasa Tanpa Genosida

Ketika kalian selesai membaca tulisan ini, kemungkinan ada beberapa dari kami, anak-anak Gaza, yang telah ditargetkan lagi oleh pasukan Israel. Setiap hari, selama genosida belum sepenuhnya berakhir, jumlah kami semakin lama semakin berkurang. Hari ini kami kehilangan teman sekolah kami, hari sebelumnya kami kehilangan adik dan kakak kami, sebelumnya lagi kami kehilangan teman sepermainan, dan bukan mustahil jika besok lusa kalian akan kehilangan kami.
Kami, anak-anak Gaza, sudah sangat akrab dengan kematian hingga kami menuliskan nama kami di tangan dan kaki masing-masing, agar kalian dapat mengenali kami jika jasad kami terburai oleh ledakan bom. Sebagaimana kami memercayai bahwa kematian pasti akan datang, sebesar itu pula kami sebenarnya mencintai kehidupan. Namun jangankan bermimpi untuk meraih cita-cita saat kami dewasa, kami bahkan tidak bisa menjamin apakah satu menit lagi tidak ada peluru yang akan menembus kepala atau dada kami.
Pada Hari Anak Sedunia ini, kami memang masih menderita, namun kami juga tahu bahwa kami tidak sendirian. Berkali-kali bantuan dari sahabat-sahabat kami di Indonesia telah kami terima, baik itu berupa susu formula, baju hangat dan selimut, makanan, air bersih, tenda, maupun bantuan pendidikan. Ketika kami melihat lambang hati berwarna biru yang tercetak di kotak-kotak bantuan dan di rompi para relawan, kami menyadari bahwa Sahabat Adara mencintai kami sebagaimana kami mencintai kehidupan. Saat ini, kami masih sangat membutuhkan uluran tanganmu, sebab satu bantuan darimu sangat berharga bagi kami untuk bertahan hidup. Teruslah membersamai kami, hingga kelak kami tumbuh dewasa dan bisa menunjukkan indahnya pantai di Gaza, besar dan manisnya stroberi Gaza, dan gemerlapnya Gaza yang telah bersama-sama kita bangun kembali di masa depan.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
UNICEF
Al Jazeera
CNN
Defense for Children International Palestine
Drop Site News
Middle East Eye
Middle East Monitor
Reliefweb
Reuters
The Arab News
The Palestine Chronicle








