Militer Israel pada Senin (1/7) mengakui bahwa warga sipil Palestina menjadi korban dalam insiden di pusat distribusi bantuan di Jalur Gaza. Pernyataan ini muncul setelah serangkaian laporan menyoroti jatuhnya korban jiwa akibat tembakan artileri di lokasi-lokasi distribusi bantuan.
Sejak Israel mencabut blokade total selama 11 minggu pada 19 Mei dan mengizinkan sebagian pengiriman bantuan PBB kembali masuk, lebih dari 400 warga Palestina dilaporkan terbunuh saat berusaha mendapatkan bantuan, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Seorang pejabat tinggi militer Israel dari Komando Selatan mengungkapkan bahwa tembakan artileri yang “tidak terkendali” telah menyebabkan puluhan korban luka dan terbunuh di antara warga yang sedang mengantre bantuan. Ia mengakui bahwa tembakan tersebut dilakukan untuk menjaga ketertiban di titik distribusi, meski mengakibatkan kematian warga sipil.
Media Haaretz sebelumnya menerbitkan kesaksian dari tentara dan perwira militer yang mengaku menerima perintah untuk menembaki kerumunan warga sipil tak bersenjata demi membubarkan mereka, sekalipun tidak ada ancaman langsung terhadap pasukan Israel. Salah satu insiden terburuk di pusat distribusi bantuan telah membunuh dan melukai antara 30 hingga 40 orang.
Juru bicara militer Israel menyebut pihaknya telah melakukan evaluasi dan mengeluarkan instruksi baru kepada pasukan di lapangan setelah “belajar dari kejadian sebelumnya.” Namun, penyelidikan masih berlangsung, termasuk kemungkinan pelanggaran hukum humaniter internasional.
Seorang pejabat tinggi PBB menyatakan bahwa sebagian besar korban terbunuh adalah warga yang mencoba mencapai titik distribusi bantuan dari Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga bantuan yang didukung AS-Israel. PBB menolak bekerja sama dengan GHF karena mempertanyakan netralitasnya dan menilai bahwa model distribusi tersebut memaksa warga sipil masuk ke zona militer berbahaya.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyatakan bahwa operasi bantuan yang disponsori AS tersebut “secara inheren tidak aman” dan “membunuh orang.” Ia mengecam sistem yang menjebak warga dalam zona berbahaya demi mendapatkan bantuan, sembari menekankan bahwa militerisasi distribusi bantuan adalah bentuk pelanggaran serius terhadap prinsip kemanusiaan.
Sumber:
https://www.reuters.com/world/middle-east/israel-acknowledges-palestinian-civilians-harmed-gaza-aid-sites-says-lessons-2025-06-30/
https://www.#/20250701-israeli-military-official-admits-targeting-civilians-near-aid-distribution-centres-in-gaza/








