Lantunan takbir menggema di seluruh penjuru kota, mengalun indah sejak malam Hari Raya. Bergantian para laki-laki dewasa, remaja, bahkan anak-anak diberikan kesempatan untuk mengambil alih pengeras suara, melangitkan puji-pujian dan doa untuk Sang Pencipta. Di jalanan, hewan-hewan kurban seperti sapi dan kambing semakin sering ditemukan. Beberapa dijual di pinggir jalan, yang lainnya terlihat sedang diangkut di atas kendaraan, juga ada yang telah disiapkan di halaman masjid-masjid untuk dikurbankan sesuai jadwal penyembelihan. Iduladha telah tiba, membawa suasana khas dan sukacita baru setiap tahunnya.
Namun, kemeriahan dan kebahagiaan Iduladha seperti itu tidak ditemukan di Gaza. Penduduk Gaza telah melewati dua Iduladha di tengah kejamnya genosida yang dilakukan Israel di tanah air mereka. Gema takbir sama-sama terdengar di penjuru kota, tetapi di Gaza, takbir dilantunkan dengan penuh air mata. Bukan dengan pengeras suara di masjid-masjid –karena seluruhnya telah dihancurkan– akan tetapi takbir dibacakan di hadapan jenazah para syuhada yang berpulang pada malam Hari Raya.
Tak ada hewan kurban tahun ini di Gaza, di tengah kemiskinan dan kelaparan parah yang terjadi akibat blokade ketat yang diberlakukan Israel. Jangankan menemukan daging, banyak warga Gaza bahkan hanya bisa makan dua atau tiga hari sekali dengan makanan seadanya dari truk bantuan yang diizinkan masuk. Air bersih juga menjadi sangat langka di tengah hancurnya pabrik desalinasi air dan pengolah limbah di Gaza. Semua orang di Gaza menderita kelaparan, bahkan tak sedikit yang kehilangan nyawa akibat malnutrisi dan dehidrasi.
Pada Iduladha tahun ini, warga Gaza belum bisa berkurban, sebab mereka masih diharuskan untuk berkorban; dengan darah, dengan air mata, dengan taruhan nyawa, untuk menjaga tanah air mereka dari penjajah. Iduladha di Gaza bukan lagi tentang Hari Raya yang hadir setahun sekali, tapi menjadi hari lain bagi mereka untuk berusaha bertahan hidup dari satu serangan ke serangan lainnya di tengah genosida yang tak berjeda.
Iduladha Kedua Warga Gaza di tengah Genosida

“Selama dua tahun berturut-turut, kami belum dapat merayakan Iduladha dengan layak karena pengepungan, pengeboman harian, dan pemindahan paksa,” kata Hussein Al-Ghalban, salah satu jemaah salat Iduladha di Khan Younis. Warga Palestina di Gaza melakukan salat Iduladha di atas puing-puing masjid yang dihancurkan oleh serangan udara Israel. Di Khan Younis, ratusan jemaah berkumpul di reruntuhan Masjid Imam Muhammad al-Albani.
Ketika jet Israel berputar rendah di langit Khan Younis, penduduk melaporkan tembakan artileri berat yang menargetkan bagian tengah, utara, dan timur kota. Saksi mata juga menggambarkan tembakan intens terhadap lingkungan permukiman. Sebelumnya, pada malam Iduladha, pasukan Israel telah membunuh 41 warga Palestina, termasuk anak-anak, perempuan, dan wartawan, dalam serangan di beberapa lokasi di Gaza.
Hari Raya Iduladha tidak menghentikan sedetik pun genosida yang terjadi di Jalur Gaza. Pada hari pertama Iduladha yang jatuh pada Jumat (06/06), tentara Israel memerintahkan warga di beberapa lingkungan di Gaza utara untuk mengungsi ke wilayah barat dengan alasan akan melakukan pengeboman di wilayah infrastruktur sipil.
Namun, perintah untuk mengungsi tidak serta merta menjamin warga Gaza bebas dari serangan pasukan Israel. Ketika umat Muslim di belahan dunia lainnya tengah merayakan Iduladha, sebanyak 34 warga Gaza kehilangan nyawa akibat serangan pasukan Israel. Di antara korban yang meninggal terdapat anak-anak, juga delapan warga sipil yang ditembak oleh tentara Israel ketika sedang berusaha mendapatkan bantuan di pusat distribusi bantuan yang dikelola AS di Rafah– suatu mekanisme penyaluran bantuan yang sejak awal telah ditentang oleh PBB.
Sehari setelahnya, pasukan Israel kembali melakukan serangan terhadap warga sipil, membunuh sedikitnya 65 orang dan melukai 100 orang lainnya. Sumber-sumber medis mengatakan bahwa setidaknya 15 warga Palestina, termasuk enam anak-anak terbunuh dan lebih dari 50 lainnya terluka ketika pesawat tempur Israel meluncurkan dua rudal ke sebuah rumah di lingkungan Sabra di Kota Gaza. Banyak korban dilaporkan masih dinyatakan hilang dan diduga masih terkubur di bawah puing-puing.
Iduladha tahun ini terasa sangat pahit di Gaza, di tengah genosida dan krisis kelaparan yang sangat parah. Menurut data dari Kantor Media di Gaza, antara 27 Mei dan 6 Juni, pasukan Israel telah melakukan serangan terhadap warga Palestina yang kelaparan di pusat-pusat distribusi, membunuh 110 orang dan melukai 583 lainnya. Jenazah sembilan warga Palestina juga dilaporkan masih hilang. Angka tersebut telah meningkatkan jumlah korban jiwa menjadi 54.772 orang sejak awal genosida di Gaza dan 125.834 lainnya menderita cedera.
Iduladha kali ini hadir di tengah gencarnya serangan dan kelaparan parah yang melanda Jalur Gaza, membuat warga Gaza sama sekali tidak bisa melakukan penyembelihan hewan kurban seperti biasanya. Abu Hatim Al-Zarqa, seorang penduduk Gaza yang merawat beberapa ternak kecil, mengatakan bahwa sejak 7 Oktober tidak ada hewan hidup yang memasuki Gaza dan dia tidak dapat menemukan pakan ternak. Al-Zarqa mengatakan bahwa hewan kurban yang dijual tidak akan cukup bagi orang-orang di Gaza dan juga tidak dapat dibeli karena harga yang sangat tinggi.
Warga Gaza yang telah berkali-kali mengungsi akibat serangan Israel mengatakan mereka tidak dapat merasakan kegembiraan Iduladha, terlebih lagi dalam kondisi kelaparan yang mengancam nyawa selama berbulan-bulan akibat blokade yang mencekik. Israel telah menjadikan kelaparan sebagai senjata, menyebabkan harga daging dan sayuran meroket, sehingga mustahil untuk didapatkan oleh sebagian besar warga Gaza.
PBB menyatakan bahwa krisis kelaparan telah membuat Gaza menjadi “tempat paling lapar di dunia”. Seratus persen warga Gaza menderita kelaparan dan banyak di antaranya terancam kehilangan nyawa karena fasilitas kesehatan juga telah runtuh. Sebanyak 2.733 anak-anak dilaporkan menderita kekurangan gizi akut, sementara truk bantuan yang diizinkan memasuki Gaza hanya bagaikan “setetes air di lautan” karena jumlahnya yang tidak dapat mencukupi kebutuhan warga Gaza yang kelaparan.
Menurut Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC), sekitar 2,1 juta orang di seluruh Jalur Gaza diproyeksikan akan menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi pada kisaran bulan Mei hingga September. Ini termasuk hampir 469.500 orang yang diperkirakan mengalami kerawanan pangan yang parah. Pada bulan April, lebih dari 65.000 anak di Gaza telah dirawat di rumah sakit karena kekurangan gizi akut, dari sekitar 1,1 juta yang menghadapi kelaparan setiap hari, menurut Kantor Media Pemerintah yang berpusat di Gaza. Selain itu, hampir 17.000 ibu hamil dan menyusui juga memerlukan perawatan untuk kekurangan gizi akut dalam beberapa bulan mendatang.
Kelaparan di Gaza menjadi semakin parah sejak distribusi bantuan diambil alih oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), distributor bantuan swasta Israel-Amerika Serikat. GHF membuat kelaparan menjadi senjata perang dan metode distribusinya telah memaksa warga Gaza untuk terus berpindah-pindah. Tak sedikit warga Gaza yang akhirnya kembali dengan tangan kosong, atau lebih parah lagi, tidak kembali sama sekali karena ditargetkan oleh serangan pasukan Israel di pusat-pusat distribusi bantuan. Hanya di Gaza, pembagian bantuan telah dijadikan lokasi jebakan dan senjata perang yang mematikan bagi warga sipil.
Pelapor khusus PBB tentang hak atas makanan, Michael Fakhri, menggambarkan GHF sebagai “umpan untuk orang-orang kelaparan” yang “melanggar setiap prinsip hukum internasional”. “Ini adalah bantuan yang digunakan untuk mendorong orang keluar dari wilayah utara Gaza menuju zona militer … (distribusi seperti) ini hanya tentang mempermalukan orang dan mengendalikan populasi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan menghentikan kelaparan,” katanya.
Tidak Ada Makanan di Gaza Kecuali Makanan “Palsu”

Di samping tungku kayu bakar darurat, di ruang kelas sebuah gedung sekolah yang telah menjadi tempat tinggal mereka selama setahun terakhir, Um Kamal Ubeid dengan lembut memberi makan cucunya yang berusia satu tahun, Kareem. Hidangan yang disajikan sederhana: roti yang direndam dalam teh, tetapi bagi warga Palestina di Gaza, makanan ini telah menjadi penyelamat di tengah kelangkaan makanan yang ekstrem.
Penduduk Gaza menyebut hidangan tersebut sebagai teh fattah. Bagi banyak orang tua di Gaza, teh fattah bukan sekadar cara untuk memberi makan anak-anak mereka, melainkan untuk menggantikan hidangan fattah Gaza asli, hidangan favorit yang secara tradisional dibuat dengan merendam roti di dalam kaldu daging sapi atau ayam dan disajikan dengan daging dalam porsi besar dan nasi putih.
Biasanya hidangan fattah disiapkan pada Jumat, saat keluarga berkumpul untuk berakhir pekan. Sekarang, dalam kondisi yang memburuk, hidangan fattah dibuat hanya dengan merebus air, menambahkan sedikit garam dan merica, merendam roti di dalamnya, dan disajikan untuk anak-anak. Itulah yang tersisa bagi keluarga Ubeid untuk bertahan hidup ketika beras, biji-bijian, dan makanan kaleng telah habis akibat pengepungan total Israel.
Kegiatan memasak di tengah genosida telah menjadi pertaruhan nyawa bagi warga Gaza sebab nyala api atau cahaya bisa saja menarik perhatian quadcopter Israel. Minimnya ketersediaan bahan bakar membuat warga Gaza mengandalkan kayu bakar untuk memasak, meski harga kayu bakar terus naik dan melambung tinggi. Bagi yang tidak memiliki kayu bakar, mereka terpaksa menggunakan apa pun yang bisa dibakar, entah itu plastik, karet, ataupun sampah. Pembakaran tersebut sangat membahayakan karena asap yang memedihkan mata, meracuni udara yang dihirup, bahkan mencemarkan makanan yang mereka masak. Akan tetapi, warga Gaza tak punya pilihan lain.
Di Gaza, dulunya makanan tidak hanya berperan sebagai kebutuhan pokok untuk menghilangkan rasa lapar. Setiap hidangan adalah gambaran budaya yang telah mengakar dalam, bahkan jauh sebelum penjajah menduduki jengkal demi jengkal tanah air mereka. Di dalam makanan ada kisah, kehangatan, dan ciri khas, mulai dari bahan baku yang digunakan, tata cara memasak dan penyajian, hingga pada hari atau momen apa saja hidangan tersebut biasa disantap. Akan tetapi, blokade telah melunturkan seluruh makna tersebut, secara perlahan menggerus budaya hidangan khas Palestina yang telah mengakar bertahun-tahun lamanya.
“Saya tidak ingat persis kapan pertama kali saya makan teh fattah, tetapi saya berusia sekitar 14 tahun pada tahun-tahun awal blokade dan agresi 2008–2009,” kata ayah Kareem, Kamal Ubeid, 32 tahun, saat berbicara kepada Middle East Eye. “Saat itu, kami tidak punya apa-apa untuk dimakan, jadi kami bertahan hidup dengan teh dan potongan roti kering yang bisa kami temukan.” Kamal mengingat bagaimana ibunya menyiapkan teh untuknya dan saudara-saudaranya, terutama saat mereka menangis karena kelaparan. “Bahkan hingga hari ini, dia masih membuatnya, untuk saya dan keluarga saya,” katanya.
Umm Kamal tidak asing dengan pengumuman blokade Israel. Setiap kali mendengar bahwa blokade akan segera terjadi, ia mulai menimbun kebutuhan pokok – makanan kaleng, biji-bijian, tepung gandum – dan, yang terpenting, teh dalam jumlah besar. “Pada masa normal, kami sangat menyukai teh sehingga kami meminumnya siang dan malam. Namun pada masa sulit, teh menjadi sumber nutrisi saat kami lapar, penghibur saat kami cemas, dan bahkan pengganti kopi saat kami berjuang melawan kecanduan,” kata Umm Kamal Ubeid kepada MEE.
“Selama blokade di Gaza utara pada tahun pertama genosida ini, kami biasa merebus teh tujuh atau delapan kali sehari. Kami tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan atau diminum,” kenangnya. “Saat hari mulai gelap dan bom mengguncang kota, kami akan berkumpul di sekitar kayu bakar, minum teh, dan membuat teh fattah untuk anak-anak agar kami dapat mengalihkan perhatian mereka.”
Hidangan pokok yang biasa disajikan ada akhir pekan atau hari raya adalah makloubeh, hidangan yang namanya berarti “terbalik” dalam bahasa Arab, mengacu pada cara penyajiannya dengan membalikkan posisi panci. Hidangan ini biasanya berisi lapisan nasi, daging (seperti daging domba, ayam, atau sapi), sera sayuran seperti terong, kembang kol, dan kentang. “Selama genosida, kami tidak memiliki bahan utama makloubeh kecuali nasi dan paprika. Jadi kami membuat apa yang kami sebut ‘makloubeh palsu’ – dibuat tanpa daging dan sayuran penting,” Umm Nashwan, seorang ibu di Gaza, menjelaskan.
Ketika Israel mencabut blokade secara singkat selama gencatan senjata pada bulan Januari, daging dan sayuran dalam jumlah terbatas diizinkan masuk. Saat itulah Umm Nashwan memutuskan untuk menyiapkan makloubeh yang layak untuk keluarganya – yang pertama dalam hampir setahun. “Putra bungsu saya, yang berusia tujuh tahun, bertanya kepada saya apa yang saya masak. Ketika saya mengatakan kepadanya bahwa itu makloubeh, dia mengerutkan kening dan berkata, ‘Saya harap kali ini bukan (makloubeh) palsu.’
Warga Gaza Tidak Berkurban, Tetapi Mereka Setiap Hari Telah Berkorban

Tahun ini, mungkin sama sekali tidak ada hewan kurban yang bisa disembelih di Jalur Gaza. Tak ada yang mampu membeli hewan kurban, juga tak ada hewan bernyawa yang memasuki Jalur Gaza sejak awal genosida. Akan tetapi, warga Gaza telah melakukan hal yang lebih besar dari berkurban, yaitu berkorban. Setiap orang di Gaza, baik anak-anak, perempuan, laki-laki, hingga lansia dan penyandang disabilitas, tak ada yang tidak berkorban di Gaza.
Sudah empat hari raya dijalani oleh warga Gaza di bawah genosida. Dua Idulfitri, dan kini dua Iduladha telah berlalu, sedang kondisi Gaza semakin buruk akibat krisis kemanusiaan yang berlangsung. Tak hanya di Gaza, di Tepi Barat, Al-Quds, dan di wilayah Palestina lainnya, warga Palestina tidak luput dari kekejaman yang dilakukan oleh Israel. Mereka semua telah berkorban, dan keteguhan mereka juga merupakan teguran bagi kita, untuk ikut melakukan “pengorbanan” baik dengan harta, tenaga, maupun suara untuk terus menuntut keadilan bagi saudara-saudara kita di Palestina.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
https://www.middleeasteye.net/news/israeli-strikes-kill-dozens-palestinians-eid-day-amid-closing-aid-points
https://www.middleeasteye.net/news/feast-survival-fake-makloubeh-and-fattah-starving-gaza
https://www.#/20250607-death-toll-in-gaza-nears-54800-as-israel-continues-genocidal-war-on-palestinians-during-eid-al-adha/
https://www.#/20250606-israel-orders-evacuation-of-several-neighborhoods-in-northern-gaza-on-eids-1st-day-with-plan-to-bomb/
https://www.#/20250607-at-least-65-palestinians-killed-100-more-injured-as-israel-continues-attacks-on-gaza-on-2nd-day-of-eid/
https://www.#/20250602-no-meat-for-palestinians-this-eid-in-gaza-farmer-warns/
https://www.#/20250608-civilians-in-gaza-face-heavy-attacks-while-seeking-food-at-aid-centers-un-agency/
https://www.aljazeera.com/video/newsfeed/2025/6/6/nine-palestinians-killed-as-gaza-aid-distribution-centres-again-close
https://www.aljazeera.com/opinions/2025/5/24/cooking-in-gaza-is-now-a-toxic-affair
https://www.aljazeera.com/news/2025/5/31/gaza-hungriest-place-on-earth-all-its-people-at-risk-of-famine-un-warns
https://www.aljazeera.com/program/newsfeed/2025/5/30/un-100-percent-of-gazans-on-brink-of-famine
https://www.aljazeera.com/video/newsfeed/2025/5/28/a-timeline-of-israels-starvation-of-gaza-in-2025








