Anak-anak Palestina tidak pernah merdeka sepenuhnya. Tidak hanya kenyataan bahwa tanahnya dirampas, airnya dijarah, tetapi juga menghirup udara kebebasan saja sulit bagi mereka. Setiap detiknya, mereka mendapati bahwa mereka bisa saja menjadi korban sasaran bom atau peluru, korban penangkapan tanpa alasan, dan tentu saja kenyataan bahwa mereka bisa menemui kematian kapan saja.
Tahun 2021 menjadi tahun terburuk bagi anak Palestina sejak 2014. Pembunuhan anak-anak Palestina tercatat menempati angka tertinggi; sebanyak 78 anak terbunuh pada 2021, dengan rincian 61 anak berasal dari Gaza dan merupakan korban serangan agresi udara Israel pada Mei tahun itu, sementara, 15 anak lainnya berasal dari Tepi Barat.[1]
Berbeda dengan Gaza, Israel menargetkan anak-anak di Tepi Barat sebagai sasaran pembunuhan secara rutin. Pembunuhan terhadap anak-anak terkesan mengacak dan menyebar di berbagai belahan Palestina dalam waktu yang berlainan, tetapi sangat terpola dan terstruktur, menjadi bagian dari silent war yang dilangsungkan Israel terhadap Palestina.

Israel bisa membunuh anak-anak Palestina kapan saja, sekehendak mereka. Entah ketika anak-anak sedang tidur, bermain-main dengan teman sebayanya, pergi bersekolah, sekadar berbelanja, atau sedang merayakan hari raya. Mohammaed Shehadeh (14 tahun) pada Selasa (22/02) ditembak mati oleh militer Israel dengan dugaan bahwa ia merupakan salah satu pelempar bom molotov. Namun, kenyataannya, jarak antara dinding dan Mohammed sejauh 300 meter, sehingga jika diasumsikan Mohammed yang melempar molotov, tidak akan melukai tentara ataupun pemukim. Israel bahkan melarang tim medis untuk menolong Mohammed. Ini menunjukkan bahwa militer Israel memang berkeinginan untuk mencari target yang dibunuh.[2]

Sumber : MEE
Terlepas dari upaya pembunuhan, anak-anak Palestina selalu menghadapi ancaman penangkapan dan pemenjaraan. Setiap harinya Israel menangkapi anak-anak Palestina. Ketika mereka pergi ke sekolah, bermain dengan teman-temannya, atau bahkan ketika berada di dalam rumahnya. Tidak ada tempat yang aman untuk berlindung dari tentara Israel. Namun, hukuman Penjara saja tidak cukup menurut Israel untuk ‘menghukum’ anak-anak Palestina yang kesalahannya hanya satu: menjadi anak Palestina. Mereka juga harus mengalami berbagai intimidasi hingga kekerasan yang melukai fisik mereka dan mencederai psikologis mereka.
Ahmad Manasra ditangkap dan dipenjara pada 2015 ketika ia berusia 13 tahun. Ia diinterogasi dan dipaksa mengakui kesalahan yang tidak pernah dilakukan, mengalami kekerasan berulan gkali hingga tengkoraknya retak. Ia juga dimasukkan ke dalam sel isolasi. Ia akhirnya diperbolehkan untuk diperiksa psikiater setelah perjuangan panjang keluarga, pengacara dan sejumlah lembaga hak asasi manusia.
Menurut psikiater, ia mengalami gangguan psikologis akibat kekerasan, isolasi, dan tekanan yang ia terima di dalam penjara. Penempatannya di dalam sel isolasi yang amat tertutup dan menjauhkannya dari interaksi sosial merupakan alasan utama penyakit kejiwaan yang dideritanya. Meski demikian, hingga saat ini Ahmad masih tetap berada di dalam penjara.[3]

Sumber: The Palestine Chronicle
Bahkan jika anak-anak Palestina masih bisa lolos dari pembunuhan dan penangkapan, mereka belum benar-benar terbebas. Bayangan ancaman dan penangkapan oleh pasukan Israel akan selalui menghantui. Ketika perjalanan menuju sekolah, mereka bisa saja ditangkap saat melewati pos pemeriksaan Israel yang berada di setiap sudut jalanan menuju sekolah mereka.[4]
Pada Kamis lalu (4/3) di wilayah Hebron, Tepi Barat yang dijajah, militer Israel menutup sejumlah pos pemeriksaan sehingga sejumlah anak-anak usia sekolah terjebak di pos tersebut dan tidak bisa pulang ke rumah. Israel tidak memiliki alasan penutupan pos, tetapi mereka memang menargetkan anak-anak untuk diintimidasi dan ditakuti.[5] Sementara itu, di wilayah Alluban, militer Israel menghadang anak-anak yang hendak pergi ke sekolah.[6]

Sumber : DCIP
Lembaga pendidikan juga tidak terbebas dari serangan militer Israel. Pasukan pendudukan bisa dengan tiba-tiba mendatangi sekolah, melemparkan granat asap yang membuat takut anak-anak, dan dengan seenaknya menangkapi anak-anak. Strategi penahanan administratif (administration detention) yang diberlakukan oleh Israel memungkinkan seorang anak Palestina untuk ditangkap tanpa tuntutan bahkan tanpa pengadilan.
Militer Israel bahkan mendatangi lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD). Ini adalah ironi yang menunjukkan kualitas militer mereka yang terus menunjukkan taring tumpulnya kepada anak-anak Palestina.[7] Pasukan Israel juga dapat dengan mudahnya mendatangi rumah dan menangkap anak-anak. Dalam penggerebekan malam, mereka akan mendobrak setiap kamar, membangunkan anak-anak pada tengah malam, memotret wajah mereka, dan menahan mereka.[8]

Pada 17 November 2021 B’Tselem merilis sebuah foto yang menunjukkan anak-anak yang dipaksa untuk berdiri dan berfoto pada tengah malam oleh militer Israel.
Israel tidak pernah memilih targetnya, dewasa atau kanak-kanak, perempuan atau laki-laki, bahkan yang memiliki disabilitas sekalipun. Selama mengalir darah Palestina di tubuhnya, selama itu pula mereka akan menjadi sasaran penangkapan atau pembunuhan tanpa alasan.[9]
Gerbang Damaskus menjadi salah satu saksi kekejaman yang dilakukan Israel. Pada peringatan Isra Mi’raj lalu, Israel menyerang penduduk Palestina yang berkumpul di Gerbang Al Amud dengan melemparkan granat kepada Munawar Burqan, gadis tuli berusia 11 tahun, hingga meretakkan rahangnya.[10] Pada saat yang sama, Israel juga memukuli anak perempuan bernama Iman Al Kiswani. [11]

Foto Munawar Burqan yang hendak menjalani operasi karena rahangnya mengalami keretakan.

Foto: Iman Al-Kiswani yang tengah dipukuli militer Israel
Ketika anak-anak Palestina diam pun, Israel masih bisa menghukum mereka melalui hukuman kolektif atas ‘kesalahan’ salah seorang anggota keluarga mereka. Mayar Mahmoud Jaradat, puteri kecil seorang tawanan Israel, adalah satu contoh bagaimana seorang anak Palestina harus ikut merasakan hukuman dari Israel.
Pada Februari 2022, rumahnya diledakkan, sebagai bagian hukuman bagi ayahnya. Namun, Mayar tidak menyerah, “Palestina akan segera merdeka, sesuai keinginan Tuhan. Kemenangan akan segera datang, sebagaiman penderitaan tidak akan berlangsung selamanya,” ujar gadis kecil tersebut dengan lantang.[12]
Kisah Shehadeh, Manasra, Burqan, Kiswani, dan Mayar Jaradat hanyalah segelintir kisah dari banyak kasus lainnya yang menimpa anak-anak Palestina. Kisah-kisah tersebut hanyalah sekelumit dari beratnya hari-hari yang harus dilalui anak-anak. Tiada hari tanpa penjajahan, tiada hari tanpa bayangan ketakutan. Mereka selalu dihantui oleh usaha pembunuhan, penangkapan, pemukulan, dan hal-hal lain di luar imajinasi manusia normal.
Tentu saja kesalahan mereka hanya satu di mata Israel: terlahir sebagai anak Palestina.
Fitriyah Nur Fadilah, S.Sos., M.I.P.
Penulis merupakan Ketua Departemen Resource Development and Mobilization Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana dan master jurusan Ilmu Politik, FISIP UI.
[1] TRT World, 2021 Becomes Deadliest Year for Palestinian Children Since 2014, diakses dalam https://www.trtworld.com/magazine/2021-becomes-deadliest-year-for-palestinian-children-since-2014-52904, pada tanggal 04 Maret 2022.
[2] MEE, Israeli Soldiers Kill 14-Year-Old Palestinian in Occupied West Bank, diakses dalam https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-soldiers-kill-14-year-old-bethlehem, pada tanggal 04 Maret 2022.
[3] The Palestine Chronicle, Palestinian Minor Manasra Suffers from Psychological Disorder in Israeli Prison, diakses dalam https://www.palestinechronicle.com/palestinian-minor-manasra-suffers-from-psychological-disorder-in-israeli-prison/, pada tanggal 04 Maret 2022.
[4] Lihat dalam https://www.dci-palestine.org/return_to_school_rekindles_fear_of_israeli_soldier_and_settler_violence.
[5] Lihat dalam https://www.instagram.com/p/CapeNL8oKPl/?utm_medium=copy_link.
[6] Lihat dalam https://www.instagram.com/p/CaolzXeoZJ9/?utm_medium=copy_link.
[7] Lihat dalam https://qudsnen.co/video-israeli-forces-arrest-two-palestinian-schoolchildren-after-raiding-school-in-ramallah/.
[8] Lihat dalam https://www.timesofisrael.com/video-shows-idf-soldiers-waking-palestinian-kids-to-photograph-them-in-dead-of-night/.
[9] Lihat dalam https://adararelief.com/66-anak-di-bawah-umur-dan-3-perempuan-ditawan-tanpa-alasan/
[10] https://www.instagram.com/p/Cahsw9nrbOM/?utm_medium=share_sheet
[11]Lihat dalam https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-jerusalem-girl-dragged-kicked-muslim-festival
[12] Qudsnen, “Prison won’t remain forever,” says daughter of Palestinian prison in Israeli prison, diakses dalam https://qudsnen.co/34519-2/, pada tanggal 04 Maret 2022.
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS








