Retorika ekstrem di Knesset kembali meningkat ketika isu lingkungan di Tepi Barat terus dikaitkan dengan dalih keamanan yang bertujuan untuk menargetkan warga Palestina. Praktik pembakaran sampah yang terutama terjadi akibat minimnya infrastruktur pengelolaan limbah karena pembatasan Israel, kini dijadikan alasan baru untuk menyerukan penggunaan kekuatan mematikan terhadap warga sipil.
Dalam sesi rapat Knesset pada Rabu (3/12), Anggota Knesset Tzvi Sukkot dari partai ekstrem kanan Otzma Yehudit menyerukan agar Angkatan Udara Israel “menyerang dan membunuh” warga Palestina yang membakar sampah di Tepi Barat. Seruan ini didukung oleh Menteri Perlindungan Lingkungan Idit Silman dan anggota Knesset Yitzhak Kroizer, yang juga berasal dari partai yang sama.
Dalam rapat Komite Dalam Negeri dan Perlindungan Lingkungan, ketiganya mengklaim bahwa pembakaran sampah adalah “aksi terorisme” dan harus diperlakukan seperti tuduhan pelemparan batu terhadap warga Palestina. Silman bahkan mengusulkan pemotongan dana pajak yang ditransfer ke Otoritas Palestina dengan alasan biaya pemadaman kebakaran sampah, serta meminta kewenangan lebih luas bagi kementeriannya untuk beroperasi di Tepi Barat.
Sukkot turut menyerukan pembentukan komite investigasi khusus untuk mengatasi apa yang ia sebut sebagai “masalah lokasi pembakaran sampah.”
Namun pada saat yang sama, Silman mengakui bahwa salah satu penyebab utama pembakaran sampah adalah tidak adanya fasilitas resmi untuk pengumpulan dan pengolahan limbah di kota-kota Palestina. Ia mengklaim kementeriannya tengah berupaya memperluas dua fasilitas pengolahan limbah yang ada dan mendorong pembangunan dua pabrik pembangkit energi berbahan bakar sampah.
Dua tahun lalu, pemerintah Israel menyetujui rencana penanganan kerusakan lingkungan di Tepi Barat, tetapi rencana tersebut belum mendapat persetujuan akhir dari pemerintah. Menurut Silman, kementeriannya masih menunggu persetujuan dari Kementerian Pertahanan untuk melaksanakan rencana bernilai NIS 134 juta itu.
Sebuah laporan Pusat Penelitian dan Informasi Knesset menyebut bahwa Unit Pemeriksaan Perlintasan menggagalkan sekitar 150 truk setiap tahun yang mencoba menyelundupkan sampah dari Israel ke Tepi Barat, angka yang hanya sebagian kecil dari jumlah truk Israel yang membuang limbah secara ilegal di wilayah Palestina.
Sukkot juga mengklaim bahwa tim pemadam kebakaran siap memasuki Tepi Barat untuk memadamkan kebakaran sampah, namun pihak militer “tidak memberikan perlindungan.” Perwakilan tentara yang hadir dalam sesi tersebut mengatakan bahwa ia tidak memiliki informasi terkait rencana tersebut.
Sementara itu, Administrasi Sipil Israel—yang bertanggung jawab atas pengangkutan dan pembersihan limbah—mengatakan pihaknya mengalami kesulitan menjalankan tugas tersebut meskipun telah menerima anggaran pemerintah pada Mei lalu untuk membersihkan beberapa lokasi pembakaran sampah terbesar di Tepi Barat.
Haaretz menyimpulkan bahwa lokasi-lokasi lain akan terus mengalami pembakaran sampah kecuali pemerintah Israel mengubah kebijakannya terhadap pengelolaan limbah di wilayah yang berada di bawah Otoritas Palestina.
Sumber: Palinfo








