Kerumunan orang di tempat umum kadang kala terlihat biasa. Padahal, kerumunan atau crowd crush tersebut dapat membahayakan diri bahkan berujung maut. Belum lepas dari duka Kanjuruhan, tragedi kerumunan kembali terjadi di festival musik Jakarta dan festival di Itaewon, Korea Selatan. Kok bisa kerumunan memicu kematian?
Mengutip detikhealth, profesor yang mempelajari tentang kerumunan di University of Suffolk di Inggris mengatakan salah satu faktornya adalah kekurangan oksigen yang menyebabkan pasokan darah ke otak menjadi berkurang. “Dibutuhkan 30 detik sebelum Anda kehilangan kesadaran, dan sekitar enam menit, sebelum mengalami asfiksia kompresif atau restriktif. Itu umumnya penyebab kematian yang dikaitkan; karena mengalami lemas, ” ungkapnya.
Orang yang berada di kerumunan akan mendapat tekanan dari segala sisi sehingga tak bisa bernapas yang menyebabkan sesak napas. Tekanan meningkat secara bertahap, dan pada saat mereka menyadari bahwa mereka dalam bahaya, sudah terlambat. Jika seseorang jatuh ke tanah, tidak akan ada ruang bagi mereka untuk bangun. Tumpukan bisa terjadi dan itu membuat siapa pun yang berada di bawahnya berisiko mengalami sesak napas dan cedera remuk. Dokter asal Houston Methodist, Dr. Josh Septimus, menjelaskan bahwa tekanan di kerumunan mampu meremukkan rusuk sehingga menusuk paru-paru dan menyebabkan pendarahan. Diafragma tak bisa mengembang, sehingga oksigen tak beredar ke otak dan jantung, mengakibatkan henti jantung.
Crowd surge dan crowd crush dapat terjadi di tempat-tempat yang terlalu banyak orang berkerumun di satu tempat. Hal ini dapat terjadi di gerbang yang pintu masuk atau keluarnya terbatas, juga di jalan-jalan yang terlalu kecil. Lalu bagaimana bila hal tersebut terjadi?
Apabila menemukan orang yang tidak sadarkan diri, hal pertama yang harus dilakukan yakni cek denyut nadi, kendorkan semua pakaian, posisikan pasien di tempat yang nyaman/ruang terbuka dengan sirkulasi udara yang luas. Teknik ini dinamakan dengan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Bantuan ini tidak hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan, tetapi setiap warga pada umumnya dapat melakukan BHD ini dengan mempelajari langkah-langkahnya.
Korban yang pingsan perlu diselimuti agar suhu badan korban menjadi hangat. Jika korban telah kembali sadar atau pulih dari pingsan maka posisikan korban untuk duduk dan berikan minum kepada korban. Namun, apabila tidak kunjung sadar, segera bawa pasien ke rumah sakit atau panggil layanan kesehatan. Telepon darurat Indonesia untuk ambulan/Kemenkes adalah 119. Setelah mencari pertolongan, segera lakukan CPR sembari menunggu tindakan lanjutan.
CPR (cardiopulmonary resuscitation) atau dalam bahasa Indonesia biasa dikenal dengan istilah RJP (resusitasi jantung paru) biasa dikenal dengan singkatan D-R-C-A-B, yaitu danger, response, compression, airway, dan breathing. Danger dan response dilakukan sebagai persiapan sebelum melakukan CPR. Agar efektif, CPR lebih baik dilakukan minimal oleh 2 orang. 1 orang bertugas untuk kompresi dan seorang lainnya untuk airway dan breathing. Peran kedua orang tersebut dapat saling bertukar setelah 5 siklus atau 1 menit.
Menurut American Heart Association (AHA), CPR bisa meningkatkan potensi kesintasan (survival rate) dari henti jantung sebanyak dua hingga tiga kali lipat. AHA memaparkan langkah CPR secara sederhana, yaitu:
- Pastikan apakah pasien tidak bernapas atau terengah-engah. Jika kedua skenario tersebut terjadi, mulai CPR
- Letakkan dua tangan (saling bertumpuk) di bagian tengah dada pasien.
- Tekan dada pasien hingga kedalaman 2 inci (5cm) dengan irama 100 hingga 120 tekanan per menit. Pastikan dada pasien kembali ke posisi normal di setiap tekanan.
- Jika ada mesin AED, gunakan mesin AED. Namun, bila tak ada, tetap lakukan CPR hingga pasien kembali bernapas dan bergerak atau hingga pertolongan datang.
Sumber:
http://ksrpmi.student.uny.ac.id
https://www.siloamhospitals.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








