Mengapa Harus Al-Quds dan Bukan Kota Lainnya?[1]

Al-Maqdisi meski secara bahasa artinya orang yang berasal dan tinggal di Al-Quds. Namun, secara idiom, Al–Maqdisi digunakan untuk semua orang yang peduli dan turut memperjuangkan Al-Quds; siapa saja yang bekerja untuk Al-Quds dan membela Al-Quds, ia dapat disebut sebagai Al-Maqdisi. Ia membawa risalah atau pesan tentang Al-Quds, meskipun tidak tinggal di Al-Quds. Dengan demikian, Al-Maqdisi adalah mereka yang tinggal di Al Quds, juga kita yang memperjuangkan Al-Quds meski berjarak ratusan ribu kilometer darinya.
Mereka yang tinggal di Al-Quds, yang berjuang di garis terdepan dalam menghadapi Zionis Israel, membutuhkan bantuan kita untuk mengokohkan mereka, dan menyebarkan misi dan pesan dari Al-Quds agar diketahui oleh seluruh orang di penjuru dunia. Pertanyaan besarnya, kenapa harus Al-Quds dan bukan kota lainnya? Kenapa Al-Quds harus diprioritaskan? Hal ini sebab Al-Quds merupakan pintu gerbang langit; menjadi bagian dari peristiwa isra dan mi’raj.
Al-Quds merupakan kiblat pertama dan tempat suci ketiga setelah haramain. Tempat yang menjadi sumber dan pusat keberkahan dunia. Mengenai hal ini, terdapat dua ayat yang disebutkan Al-Quran. Pertama, Al-Anbiya ayat 71, disebutkan “baaraknaa fiiha.” Artinya tanah Al-Quds ini memang memiliki keberkahan atau diberi keberkahan. Kedua, dalam Al-Isra ayat 1 disebutkan, “baaraknaa haulaha,” artinya wilayah yang berada di sekitar Al-Quds pun diberkahi. Ia juga menjadi tempat dihimpun dan dikumpulkannya manusia kelak di hari kiamat.
Allah juga akan memuliakan siapa pun yang memuliakan Al-Quds, di mana pun mereka berada.
Dalam sebuah hadits dikatakan, meskipun kita hanya bisa menyumbang minyak untuk menerangi Al-Quds, maka itu dianjurkan. Maksudnya, setiap orang memiliki kemampuan dan ruang peran yang berbeda. Maka, tidak ada kendala yang bisa menghalangi, jika kita ingin berjuang membela, mendukung, dan mengikatkan diri dengan Al-Quds.
Namun demikian, ada beberapa sisi analisis kekinian yang penting kita ketahui tentang Al-Quds. Sepanjang sejarahnya, Al-Quds menjadi rebutan banyak kekuatan. Hal ini karena siapa pun yang bisa menguasai Al-Quds, akan mampu menguasai dunia. Tidak ada imperium atau kekuatan besar dunia, di lintas sejarah dunia, kecuali sangat ingin menguasai Al-Quds. Sejak masa Yunani, Romawi, Persia, kaum Salibis Eropa, semuanya memperebutkan Al-Quds. Saat ini, Zionis Israel dengan dukungan banyak sekutunya, menyatakan sudah menguasai Al-Quds. Akan tetapi, mereka belum/tidak akan menguasai seluruhnya.
Anggapan bahwa inilah saat-saat terakhir mereka menguasai Al-Quds, bukan hanya analisis angka atau perkiraan, tetapi realitanya memang demikian. Semakin banyak orang yang memperbincangkan Israel tengah digerogoti dari dalam. Para analis politik hingga politisi Zionis pun seakan mengaminkan hal ini dengan mengatakan bahwa mereka akan mengalami situasi kehancuran mental yang semakin hari semakin besar lingkupnya. Shimon Perez, orang yang paling banyak perannya dalam menguatkan Israel dan paling getol memasarkan ide Zionis Israel ke berbagai negara dunia, juga mengatakan bahwa ia ragu jika Israel masih bisa bertahan dalam satu abad. Demikian juga kita, para aktivis Palestina, harus yakin bahwa Israel memang semakin lama semakin mengerut.

Al-Quds juga merupakan simbol yang bisa menghimpun dan menyatukan seluruh umat Islam. Tidak ada yang mengingkari hal ini. Orang baik ataupun jahat, semuanya pasti menerima hal ini, bahkan mereka (bangsa Arab) yang melakukan normalisasi diplomatik dengan Israel. Bangsa Palestina dan bangsa Arab barangkali memang memiliki pandangan berbeda soal politik dan soal pendudukan Zionis. Namun, tetap punya pandangan yang mengakui bahwa Al-Quds adalah simbol yang bisa menyatukan umat Islam dunia.
Perihal lainnya, Al-Quds adalah titik utama yang bisa menaikkan dan membangkitkan umat Islam. Andaikan umat ini memberi dukungan yang baik terhadap persoalan Al-Quds, pasti mereka akan bangkit, bersatu, dan terlepas dari kondisi keterbelakangan yang saat ini dialami oleh umat Islam. Kita bisa melihat sejarah. Bagaimana Shalahuddin—yang didahului oleh Nuruddin dan sebelumnya, Imaduddin Zanki—berhasil menjadikan Al-Quds sebagai simbol yang mengangkat umat dari keterpurukan akibat perpecahan.
Pada masa itu, setiap kota yang didiami umat Islam, membuat negara atau pemerintahan sendiri-sendiri. Ada kekuasaan tersendiri di Aleppo, Syam di Damaskus, Mesir, dan berbagai daerah lainnya. Mereka umumnya berseteru dengan “pemerintahan” yang ada di sekelilingnya. Ketika itu, umat Islam berada dalam perpecahan yang sangat parah. Maka, Salahuddin datang dengan memberi target dan sasaran yang harus dicapai oleh umat Islam, sehingga dapat menyatukan mereka kembali. Target itu adalah embebaskan Masjid Al-Aqsa, membebaskan Palestina, dan mengusir pasukan Salib dari Eropa.

Untuk mewujudkan misi ini, bahkan telah dibuat sebuah mimbar untuk Masjid Al-Aqsa sejak masa Nuruddin Zanki. Mengapa Nuruddin merasa perlu membuat mimbar Masjid Al-Aqsa, meski saat itu belum dibebaskan? Bahkan, terkadang mimbar itu dibawa ke berbagai daerah untuk diperlihatkan kepada orang banyak. Hal tersebut dilakukan untuk menanamkan target dan sasaran atau misi utama yang harus dicapai oleh umat Islam. Tentunya, upaya itu harus menempuh sejumlah tahapan, seperti melakukan penguasaan berbagai wilayah, mengusir basis pasukan Salib di berbagai tempat, dan menyatukan kekuatan umat dari satu tempat ke tempat lain. Pesan lain yang tersirat adalah, Mimbar Masjid Al-Aqsa ini sudah ada. Maka bersatulah seluruh umat Islam dan perangilah kaum Salib agar pada akhirnya dapat membebaskan Masjid Al-Aqsa. Dengan demikian, bisa dikatakan terjadi apa yang disebut dengan Daulah Madinah.
Secara internal, rakyat Palestina juga tidak bisa disatukan kecuali oleh Al-Quds. Perbedaan aliran pemikiran, organisasi, partai politik, atau hal lainnya, tidak menjadikan mereka berpikir untuk melepaskan Al-Quds. Siapa pun yang menjual dan menyerahkan sejengkal tanah dari Al-Quds, bukan saja dilaknat oleh Allah, tetapi seluruh rakyat Palestina akan mengecamnya. Kenapa, karena mereka semua merasakan bahwa Al-Quds adalah inti hati mereka.
Alasan lain kenapa Al-Quds harus diprioritaskan adalah karena ia adalah magnet yang bisa menggerakkan dan menghidupkan umat. Apa pun yang terjadi di Al-Quds, secara otomatis akan memberikan pengaruh dan respon dunia. Misalnya, kasus pengusiran warga Palestina yang terjadi di Syaikh Jarrah. Di berbagai tempat terjadi penolakan besar. Dari Maroko hingga ke Indonesia, bahkan Amerika dan berbagai negara dunia lainnya. Kenapa? Karena Al-Quds memang mempunyai nilai yang khusus.
Al-Quds harus terus dan selalu diprioritaskan karena ternyata prestasi perjuangan yang dilakukan untuk membebaskan Al-Quds semakin hari semakin nyata. Sejak berpuluh tahun, umat Islam mampu memberi pukulan besar terhadap zionis Israel dan menggagalkan penguasaan atas Masjid Al-Aqsa. Di berbagai sisi pintu gerbang Al-Aqsa, para pemuda berhasil menggagalkan upaya Zionis yang ingin masuk dan menguasai Al-Aqsa, misalnya pada Ramadhan lalu, saat tentara Zionis ingin masuk ke dalam Al-Aqsa dan berhasil dihalangi.
Pertanyaannya kemudian, apakah prestasi “kecil” itu berarti? Pasti dan tentu sangat berarti. Hal ini sebab kemenangan-kemenangan “kecil” inilah yang mengangkat kembali mental perjuangan umat Islam, sekaligus memukul mentalitas orang-orang zionis Israel. Itulah mengapa Al-Quds harus menjadi prioritas, bukan bukan kota-kota lain.
Penerjemah : M.Lili Aulia
Penyunting : FNF
[1] Rangkuman Kajian Al-Quds yang disampaikan dalam Konferensi Aktivis Palestina Internasional yang diselenggarakan pada 13 September, 2021 di Istanbul, Turki.








