• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, Januari 20, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Mengapa Harus Al-Quds dan Bukan Kota Lainnya?

by Adara Relief International
Oktober 8, 2021
in Artikel, Jelajah
Reading Time: 4 mins read
0 0
0
Mengapa Harus Al-Quds dan Bukan Kota Lainnya?
18
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Mengapa Harus Al-Quds dan Bukan Kota Lainnya?[1]

Al-Maqdisi meski secara bahasa artinya orang yang berasal dan tinggal di Al-Quds. Namun, secara idiom, Al–Maqdisi digunakan untuk semua orang yang peduli dan turut memperjuangkan Al-Quds; siapa saja yang bekerja untuk Al-Quds dan membela Al-Quds, ia dapat disebut sebagai Al-Maqdisi.  Ia membawa risalah atau pesan tentang Al-Quds, meskipun tidak tinggal di Al-Quds. Dengan demikian, Al-Maqdisi adalah mereka yang tinggal di Al Quds, juga kita yang memperjuangkan Al-Quds meski berjarak ratusan ribu kilometer darinya.

Mereka yang tinggal di Al-Quds, yang berjuang di garis terdepan dalam menghadapi Zionis Israel, membutuhkan bantuan kita untuk mengokohkan mereka, dan menyebarkan misi dan pesan dari Al-Quds agar diketahui oleh seluruh orang di penjuru dunia. Pertanyaan besarnya, kenapa harus Al-Quds dan bukan kota lainnya? Kenapa Al-Quds harus diprioritaskan? Hal ini sebab Al-Quds merupakan pintu gerbang langit; menjadi bagian dari peristiwa isra dan mi’raj.

Al-Quds merupakan kiblat pertama dan tempat suci ketiga setelah haramain. Tempat yang menjadi sumber dan pusat keberkahan dunia. Mengenai hal ini, terdapat dua ayat yang disebutkan Al-Quran. Pertama, Al-Anbiya ayat 71, disebutkan “baaraknaa fiiha.” Artinya tanah Al-Quds ini memang memiliki keberkahan atau diberi keberkahan. Kedua, dalam Al-Isra ayat 1 disebutkan, “baaraknaa haulaha,” artinya wilayah yang berada di sekitar Al-Quds pun diberkahi. Ia juga menjadi tempat dihimpun dan dikumpulkannya manusia kelak di hari kiamat.

Allah juga akan memuliakan siapa pun yang memuliakan Al-Quds, di mana pun mereka berada.

Dalam sebuah hadits dikatakan, meskipun kita hanya bisa menyumbang minyak untuk menerangi Al-Quds, maka itu dianjurkan. Maksudnya, setiap orang memiliki kemampuan dan ruang peran yang berbeda. Maka, tidak ada kendala yang bisa menghalangi, jika kita ingin berjuang membela, mendukung, dan mengikatkan diri dengan Al-Quds.

Namun demikian, ada beberapa sisi analisis kekinian yang penting kita ketahui tentang Al-Quds. Sepanjang sejarahnya, Al-Quds menjadi rebutan banyak kekuatan. Hal ini karena siapa pun yang bisa menguasai Al-Quds, akan mampu menguasai dunia. Tidak ada imperium atau kekuatan besar dunia, di lintas sejarah dunia, kecuali sangat ingin menguasai Al-Quds. Sejak masa Yunani, Romawi, Persia, kaum Salibis Eropa,  semuanya memperebutkan Al-Quds. Saat ini, Zionis Israel dengan dukungan banyak sekutunya, menyatakan sudah menguasai Al-Quds. Akan tetapi, mereka belum/tidak akan menguasai seluruhnya.

Anggapan bahwa inilah saat-saat terakhir mereka menguasai Al-Quds, bukan hanya analisis angka atau perkiraan, tetapi realitanya memang demikian. Semakin banyak orang yang memperbincangkan Israel tengah digerogoti dari dalam. Para analis politik hingga politisi Zionis pun seakan mengaminkan hal ini dengan mengatakan bahwa mereka akan mengalami situasi kehancuran mental yang semakin hari semakin besar lingkupnya. Shimon Perez, orang yang paling banyak perannya dalam menguatkan Israel dan paling getol memasarkan ide Zionis Israel ke berbagai negara dunia, juga mengatakan bahwa ia ragu jika Israel masih bisa bertahan dalam satu abad. Demikian juga kita, para aktivis Palestina, harus yakin bahwa Israel memang semakin lama semakin mengerut.

Al-Quds juga merupakan simbol yang bisa menghimpun dan menyatukan seluruh umat Islam. Tidak ada yang mengingkari hal ini. Orang baik ataupun jahat, semuanya pasti menerima hal ini, bahkan mereka (bangsa Arab) yang melakukan normalisasi diplomatik dengan Israel. Bangsa Palestina dan bangsa Arab barangkali memang memiliki pandangan berbeda soal politik dan soal pendudukan Zionis. Namun, tetap punya pandangan yang mengakui bahwa Al-Quds adalah simbol yang bisa menyatukan umat Islam dunia.

Perihal lainnya, Al-Quds adalah titik utama yang bisa menaikkan dan membangkitkan umat Islam. Andaikan umat ini memberi dukungan yang baik terhadap persoalan Al-Quds, pasti mereka akan bangkit, bersatu, dan terlepas dari kondisi keterbelakangan yang saat ini dialami oleh umat Islam. Kita bisa melihat sejarah. Bagaimana Shalahuddin—yang didahului oleh Nuruddin dan sebelumnya, Imaduddin Zanki—berhasil menjadikan Al-Quds sebagai simbol yang mengangkat umat dari keterpurukan akibat perpecahan.

Pada masa itu, setiap kota yang didiami umat Islam, membuat negara atau pemerintahan sendiri-sendiri. Ada kekuasaan tersendiri di Aleppo, Syam di Damaskus, Mesir, dan berbagai daerah lainnya. Mereka umumnya berseteru dengan “pemerintahan” yang ada di sekelilingnya. Ketika itu, umat Islam berada dalam perpecahan yang sangat parah. Maka, Salahuddin datang dengan memberi target dan sasaran yang harus dicapai oleh umat Islam, sehingga dapat menyatukan mereka kembali. Target itu adalah embebaskan Masjid Al-Aqsa, membebaskan Palestina, dan mengusir pasukan Salib dari Eropa.

Untuk mewujudkan misi ini, bahkan telah dibuat sebuah mimbar untuk Masjid Al-Aqsa sejak masa Nuruddin Zanki. Mengapa Nuruddin merasa perlu membuat mimbar Masjid Al-Aqsa, meski saat itu belum dibebaskan? Bahkan, terkadang mimbar itu dibawa ke berbagai daerah untuk diperlihatkan kepada orang banyak. Hal tersebut dilakukan untuk menanamkan target dan sasaran atau misi utama yang harus dicapai oleh umat Islam. Tentunya, upaya itu harus menempuh sejumlah tahapan, seperti melakukan penguasaan berbagai wilayah, mengusir basis pasukan Salib di berbagai tempat, dan menyatukan kekuatan umat dari satu tempat ke tempat lain. Pesan lain yang tersirat adalah, Mimbar Masjid Al-Aqsa ini sudah ada. Maka bersatulah seluruh umat Islam dan perangilah kaum Salib agar pada akhirnya dapat membebaskan Masjid Al-Aqsa. Dengan demikian, bisa dikatakan terjadi apa yang disebut dengan Daulah Madinah.

Secara internal, rakyat Palestina juga tidak bisa disatukan kecuali oleh Al-Quds. Perbedaan aliran pemikiran, organisasi, partai politik, atau hal lainnya, tidak menjadikan mereka berpikir untuk melepaskan Al-Quds. Siapa pun yang menjual dan menyerahkan sejengkal tanah dari Al-Quds, bukan saja dilaknat oleh Allah, tetapi seluruh rakyat Palestina akan mengecamnya. Kenapa, karena mereka semua merasakan bahwa Al-Quds adalah inti hati mereka.

Alasan lain kenapa Al-Quds harus diprioritaskan adalah karena ia adalah magnet yang bisa menggerakkan dan menghidupkan umat. Apa pun yang terjadi di Al-Quds, secara otomatis akan memberikan pengaruh dan respon dunia. Misalnya, kasus pengusiran warga Palestina yang terjadi di Syaikh Jarrah. Di berbagai tempat terjadi penolakan besar. Dari Maroko hingga ke Indonesia, bahkan Amerika dan berbagai negara dunia lainnya. Kenapa? Karena Al-Quds memang mempunyai nilai yang khusus.

Al-Quds harus terus dan selalu diprioritaskan karena ternyata prestasi perjuangan yang dilakukan untuk membebaskan Al-Quds semakin  hari semakin nyata. Sejak berpuluh tahun, umat Islam mampu memberi pukulan besar terhadap zionis Israel dan menggagalkan penguasaan atas Masjid Al-Aqsa. Di berbagai sisi pintu gerbang Al-Aqsa, para pemuda berhasil menggagalkan upaya Zionis yang ingin masuk dan menguasai Al-Aqsa, misalnya pada Ramadhan lalu, saat tentara Zionis ingin masuk ke dalam Al-Aqsa dan berhasil dihalangi.

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Pertanyaannya kemudian, apakah prestasi “kecil” itu berarti? Pasti dan tentu sangat berarti. Hal ini sebab kemenangan-kemenangan “kecil” inilah yang mengangkat kembali mental perjuangan umat Islam, sekaligus memukul mentalitas orang-orang zionis Israel. Itulah mengapa Al-Quds harus menjadi prioritas, bukan bukan kota-kota lain.

Penerjemah : M.Lili Aulia
Penyunting : FNF

[1] Rangkuman Kajian Al-Quds yang disampaikan dalam Konferensi Aktivis Palestina Internasional yang diselenggarakan pada 13 September, 2021 di Istanbul, Turki.

ShareTweetSendShare
Previous Post

Rute 60, Jalur Kematian bagi Penduduk Palestina #2

Next Post

Angkatan Laut Israel Menargetkan Nelayan Palestina

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
23

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
25
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
113
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Angkatan Laut Israel Menargetkan Nelayan Palestina

Angkatan Laut Israel Menargetkan Nelayan Palestina

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630