Beberapa waktu yang lalu, Pakistan mengalami bencana alam yaitu banjir bandang yang menyebabkan kerusakan parah. Banjir yang dibawa oleh rekor hujan monsun dan pencairan gletser ini telah berimbas pada 33 juta dari 220 juta populasi negaranya. National Disaster Management Authority (NDMA) Pakistan mencatat korban tewas mendekati angka 1.500 orang, dengan 530 di antaranya adalah anak-anak. Pemerintah Pakistan telah mengumumkan kondisi darurat di wilayah terdampak. Bencana banjir Pakistan juga telah menghancurkan sebagian infrastruktur, lahan pertanian, rumah penduduk, jalan, dan jembatan, hingga menghanyutkan hampir satu juta hewan.
Pertanyaannya, apakah musibah yang menimpa manusia disebabkan murkanya Allah sehingga disebut sebagai hukuman dari Allah? Hukuman bisa menjadi ujian, tetapi tidak semua ujian adalah hukuman. Orang-orang shalih diberikan ujian berupa musibah agar mendapatkan pahala karena kesabaran mereka, atau Allah ingin mengangkat derajat mereka di akhirat, atau Allah berkehendak untuk menghapuskan dosa-dosa mereka. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. menjelaskan tentang manusia yang mendapatkan musibah paling pedih,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya, dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”[1]
Hadis tersebut menunjukkan bahwa para nabi adalah golongan manusia yang mendapatkan musibah paling pedih, diikuti oleh orang-orang pilihan Allah, dan mereka yang menjadi panutan. Hal ini sebab seseorang akan mendapatkan ujian yang sebanding dengan kualitas imannya. Allah memberikan musibah sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada diri seseorang.
Namun demikian, Allah menciptakan manusia dengan tujuan yang sama, salah satunya adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Artinya, Allah telah meninggikan derajat manusia di antara makhluk-Nya yang lain, yaitu sebagai pemimpin di bumi untuk melaksanakan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya. Tugas ini tentu sangat berat sehingga setiap manusia wajib memiliki kemampuan untuk mengelola alam semesta dengan amanah dan tidak merusaknya. Allah berfirman,
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S. Al-Baqarah: 30)
Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk membuat kerusakan di bumi. Dengan demikian, musibah berupa bencana alam tidaklah terjadi karena kemurkaan Allah, tetapi karena ulah manusia itu sendiri. Kelalaian dalam merawat alam dan sifat serakah manusia yang terus mengeksploitasi kekayaan alam dan mengeruk isi bumi, menjadi sebab timbulnya bencana. Alam semesta merupakan ciptaan Allah sekaligus manifestasi-Nya, maka tidak mungkin Allah merusaknya dengan mengirimkan bencana tanpa sebab-sebab yang mengikutinya. Allah berfirman dalam surah Asy-Syura ayat 30,
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيْرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
Selain akibat dari kelalaian dan keserakahan manusia, bencana juga terjadi karena penyimpangan yang dilakukan manusia. Walaupun sudah ditetapkan sebagai khalifah di jagat raya ini, manusia sering kali abai dalam menaati Allah dan menjauhi laranganNya. Fenomena ini ditegaskan oleh Allah melalui ayat yang menerangkan asal mula tujuan Allah menurunkan hujan, yaitu sebagai pembawa rahmat, pendukung kehidupan yang membawa kebahagiaan bagi semua makhluk.
وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجْنَا بِهِۦ نَبَاتَ كُلِّ شَىْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًا وَمِنَ ٱلنَّخْلِ مِن طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّٰتٍ مِّنْ أَعْنَابٍ وَٱلزَّيْتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَٰبِهٍ ۗ ٱنظُرُوٓا۟ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثْمَرَ وَيَنْعِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكُمْ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-An’am: 99)
Namun, rahmat Allah ini kemudian berbalik menjadi sumber malapetaka. Banjir yang memusnahkan kehidupan manusia dapat disaksikan di mana-mana, baik oleh umat terdahulu maupun kemudian.
فَبَدَّلَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ قَوْلًا غَيْرَ ٱلَّذِى قِيلَ لَهُمْ فَأَنزَلْنَا عَلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ رِجْزًا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ بِمَا كَانُوا۟ يَفْسُقُونَ
“Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (perintah lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka Kami turunkan malapetaka dari langit kepada orang-orang yang zalim itu, karena mereka (selalu) berbuat fasik.” (Q.S. Al-Baqarah: 59)
Kisah kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam adalah salah satu contoh yang Allah Swt. abadikan di dalam Al-Qur’an. Allah Swt. menurunkan azab yang pedih berupa banjir bandang karena mereka menolak kebenaran.
وَقَوْمَ نُوحٍ مِنْ قَبْلُ ۖ إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَىٰ
“Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka.” (Q.S. An-Najm: 52)
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ ۚ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ
“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (Q.S. Hud :40)
Lantas, adakah hikmah di balik musibah? Bagi seorang muslim, seharusnya tidak sulit untuk mengambil hikmah karena segala perkara yang dihadapinya, baik dalam keadaan senang maupun susah, semuanya bernilai kebaikan di sisi Allah. Dalam buku yang berjudul Al-Shabr wa al-Dzawq (Akhlaq al-Mu’min) karya Amru Muhammad Khalid, beliau menyimpulkan beberapa hikmah di balik musibah, yaitu:
Pertama, mengangkat derajat.
Salah satu hikmah Allah memberi musibah adalah untuk mengangkat derajat hamba-Nya,
فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ…
“Jika agamanya kuat, maka akan ditambahkan musibahnya.” Manusia sebaiknya tidak cepat merasa puas dengan amal-amalnya, sehingga terlalu percaya diri dapat masuk surga hanya dengan amal-amalnya saja. Maka, seseorang butuh diuji dengan musibah atau cobaan agar membuktikan keimanannya.
Kedua, kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mukmin.
Allah berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 142,
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.”
Allah juga menegaskan hikmah di balik musibah dalam Surat Ali ‘Imran ayat 179,
مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.”
Betapa luar biasa ayat-ayat tersebut, sehingga melalui musibah, dapat diketahui dan dibedakan orang-orang yang memiliki keistimewaan dengan yang tidak.
Ketiga, agar tidak sombong dan tidak tertipu.
Dapat dibayangkan apabila manusia menjalani kehidupan dengan kondisi yang selalu nyaman, tidak kurang suatu apa pun, dan terpenuhinya segala sarana kenikmatan. Kondisi tersebut biasanya membuat manusia dihinggapi rasa sombong seperti tidak membutuhkan Allah. Oleh karena itu, Allah menurunkan musibah kepada manusia agar kembali mengingat-Nya, merendahkan diri di hadapan-Nya, dan menggantungkan diri hanya kepada-Nya. Hati manusia akan peka apabila dalam hidupnya pernah mengalami kekurangan, keterbatasan, atau ketidakmampuan. Ia menjadi lebih mampu memahami kesulitan yang dialami oleh orang lain.
وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ اَنْ يَّفْتِنُوْكَ عَنْۢ بَعْضِ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكَۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ اَنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّصِيْبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوْبِهِمْ ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ لَفٰسِقُوْنَ
“Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (Surat Al Maidah ayat 49)
Keempat, agar merindukan surga.
Allah Maha Adil, salah satu buktinya Allah menciptakan surga di akhirat bagi orang-orang yang tidak mendapatkan keadilan di dunia atau hidup dalam kesengsaraan. Sejatinya manusia tidak akan pernah merindukan surga kecuali merasakan kepahitan dunia. Tidak mungkin manusia merindukan surga, kalau hidupnya hanyalah kenikmatan dan keindahan saja. Bukan berarti manusia tidak diperkenankan untuk menikmati dunia dan hanya boleh membenci dunia, tetapi Allah mencicipkan kepahitan dunia kepada manusia agar manusia mengharapkan kenikmatan yang abadi di surga.
Allah Swt. menyediakan ganjaran bagi mereka yang bersabar, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Furqan ayat 75 :
أُو۟لَٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ ٱلْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا۟ وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَٰمًا
“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.”
Kelima, agar senantiasa ingat kepada Allah.
Musibah akan mengingatkan seseorang kepada Allah dan menjauhkan sikap lalai. Dengan musibah, manusia dapat merenungi nikmat yang selama ini telah Allah sediakan secara cuma-cuma, menjadi jeda untuk bersyukur kepada Allah atas segala bentuk kenikmatan yang Allah beri. Dengan demikian, musibah merupakan sarana dalam mendidik seseorang untuk rela dan rida atas segala ketetapan Allah.
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. At-Taghabun: 11)
Keenam, agar tahu bahwa Allah saja yang Maha Kuat.
Kita diperintahkan untuk salat lima waktu dalam sehari dan pada setiap rakaatnya kita membaca Surah Al- Fatihah. Di dalamnya terdapat ayat yang luar biasa, yaitu:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”
Bila seseorang ditimpa musibah dan telah merasakan kekuatan Allah, ia akan menganggap lemah seluruh kekuatan di luar kekuatan Allah. Hanya dengan Allah, manusia akan kuat. Allah Maha Kuat, maka dengan musibah Allah ingin hamba-Nya berlindung hanya kepada-Nya. Allah akan menolong hamba-Nya, meraih tangan hamba-Nya yang lemah dan butuh pertolongan. Dengan demikian, manusia akan menyadari bahwa hanya Allah saja yang Maha Kuasa, Maha Kuat, dan Maha Penyayang.
Hendaknya kita meneladani perkataan Nabi ‘Ibrahim ‘alaihis salaam ketika beliau akan dilempar ke dalam api. Nabi Ibrahim berkata, “hasbunallah wa ni’mal wakiil”. Perkataan tersebut diabadikan Allah dalam firman-Nya, yaitu Ali Imran ayat 173
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”
Ketujuh, Allah mencintai hamba-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya balasan terbesar adalah dari ujian terberat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa merasa rida, maka Allah pun rida. Dan barangsiapa murka, maka baginya murka Allah.”
(HR. Tirmidzi, beliau katakan derajat hadis ini adalah hasan gharib)
Allah mencintai hamba yang keadaannya suci, bersih, bertakwa, dan hanya menggantungkan dirinya kepada Allah semata. Semua itu hanya dapat diraih saat seseorang menghadapi musibah.
Kedelapan, meraih ampunan melalui kesabaran.
Terdapat hadis yang dapat memberikan motivasi agar manusia kuat menghadapi musibah. Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, mereka mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa, melainkan dosa-dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim)
Allah berfirman dalam As-Syura ayat 30,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
Maka, jika hari ini musibah datang silih berganti dan roda kehidupan seolah burputar di jalan yang penuh dengan kesulitan, berilah ruang di hati untuk berprasangka baik kepada Allah, seraya terus menginstropeksi diri, adakah hal-hal di luar batas yang telah dilakukan? Semoga Allah memberikan taufik dan kekuatan kepada kita dalam menghadapi musibah.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Ya Tuhan kami, tuangkan lah kesabaran atas diri kami, kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami atas orang-orang kafir.”
(FAA)
[1] HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








