Mekanisme distribusi bantuan yang dirancang Israel di Jalur Gaza telah berubah menjadi “perangkap maut” bagi warga sipil yang kelaparan, demikian pernyataan Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini.
Pada Ahad (1/6), hampir 50 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 200 lainnya terluka akibat tembakan pasukan Israel saat mereka mencoba mengakses bantuan kemanusiaan di titik distribusi di Kota Rafah, Gaza selatan. Sejak sistem distribusi Israel diberlakukan pada 27 Mei, sedikitnya 49 orang terbunuh dan lebih dari 305 terluka di dekat lokasi bantuan, menurut kantor media pemerintah Gaza.
Israel disebut tengah membentuk empat titik distribusi bantuan di Gaza selatan dan tengah, yang menurut media Israel bertujuan mengosongkan wilayah utara Gaza dari penduduk. Radio Militer Israel bahkan menyebut bahwa rencana ini ditujukan untuk menjadikan Gaza utara sebagai “wilayah yang sepenuhnya kosong penduduk”.
Lazzarini mengkritik keras sistem ini yang memaksa ribuan orang yang kelaparan dan putus asa berjalan puluhan kilometer menuju area yang nyaris hancur total akibat pengeboman berat. “Distribusi bantuan harus berskala besar dan aman. Di Gaza, hal ini hanya bisa dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk UNRWA,” tegasnya.
Ia juga mendesak Israel untuk mencabut blokade dan mengizinkan akses aman serta tanpa hambatan bagi PBB untuk mengirim dan mendistribusikan bantuan. “Ini satu-satunya cara untuk mencegah kelaparan massal, termasuk di antara satu juta anak-anak,” katanya.
Lazzarini menambahkan bahwa di tengah kampanye disinformasi yang masif, media internasional harus diberi akses ke Gaza untuk melaporkan secara independen kekejaman yang terus terjadi, termasuk penembakan terhadap warga sipil yang tengah mencari bantuan.
Sumber:
https://www.#/20250601-israels-aid-distribution-becomes-death-trap-for-starving-gazans-un-agency/
https://www.aa.com.tr/en/middle-east/israel-s-aid-distribution-becomes-death-trap-for-starving-gazans-un-agency/3586052








