Pemandangan yang sebelumnya tak terbayangkan kini terjadi di dalam Masjid Al-Aqsa, salah satu situs tersuci umat Islam. Kelompok pemukim Yahudi masuk ke kompleks masjid dengan pengawalan ketat, mengibarkan bendera Israel, bernyanyi, menari, hingga melakukan ibadah secara terbuka.
Bagi warga Palestina, ini menandai tahap baru upaya Israel untuk memaksakan kedaulatan Yahudi atas Al-Aqsa dan membaginya secara paksa antara Muslim dan Yahudi, baik secara waktu maupun ruang.
Sejak 1967, Israel secara bertahap menggerus status quo yang menempatkan Al-Aqsa sepenuhnya di bawah pengelolaan Waqf Islam dengan mandat Yordania. Awalnya hanya berupa pembatasan masuk, kini berkembang menjadi serangkaian pelanggaran terbuka, penggalian di bawah masjid, pembatasan usia, hingga penutupan total kompleks.
Sejak 7 Oktober 2023, situasi memburuk secara drastis. Jumlah serbuan pemukim meningkat tajam, doa Yahudi dilakukan dengan bebas, dan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir secara terang-terangan mendukung langkah “lebih banyak pemuja Yahudi, lebih sedikit pengawasan”.
Bahkan, rencana resmi untuk membagi Al-Aqsa sudah diusulkan oleh anggota parlemen Likud Amit Halevi pada 2023, dengan dukungan tokoh-tokoh sayap kanan lain, termasuk Ben Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich.
Bagi banyak orang Palestina, skenario ini mengingatkan pada Masjid Ibrahimi di Hebron, yang awalnya dibagi berdasarkan waktu, kemudian secara fisik dipisah antara Muslim dan Yahudi. Kini, mereka khawatir hal serupa sedang dipaksakan di Al-Aqsa.
Seorang pejabat Waqf menegaskan, “Yang terjadi di Al-Aqsa bukan sekadar pelanggaran sesaat, namun merupakan proyek yahudisasi menyeluruh untuk memaksakan kedaulatan penuh Israel. Dunia Islam harus menyadari besarnya ancaman ini sebelum realitas yang dipaksakan menjadi permanen.”
Sumber:
https://www.middleeasteye.net/news/israel-closer-building-third-temple








