Di Niger Selatan semakin banyak anak yang menderita malnutrisi dan situasinya bisa lebih buruk pada tahun ini karena krisis iklim membuat harga pangan menjadi lebih tinggi dan banyak perempuan dan anak-anak yang datang dari Nigeria untuk kabur dari kekerasan di negaranya.
Menurut PBB, Niger dan dua negara Sahel Tengah lainnya terdaftar di antara 15 negara yang paling terdampak krisis pangan dan gizi global yang belum pernah terjadi sebelumnya. PBB memperingatkan bahwa bantuan segera diperlukan untuk mengatasi kekurangan gizi akut di kalangan anak-anak. Selain itu, sebuah konferensi di ibu kota Niger, Niamey, pada minggu ini, menjelaskan bahwa kekerasan di wilayah Danau Chad di Niger, Nigeria, Kamerun, dan Chad telah memaksa sekitar 3 juta orang meninggalkan rumah mereka.
Di sebuah rumah sakit di Aguié, 70 km dari kota terbesar ketiga di Niger, Maradi, dokter mengatakan bahwa jumlah anak yang dirawat dengan kekurangan gizi pada tahun lalu naik 25% menjadi sekitar 2.300. Sebagian besar dari jumlah tersebut berhasil diobati tetapi juga terdapat 175 kematian. Moussa Boubacar, kepala kedokteran untuk Distrik Aguié, mengatakan bahwa dia khawatir jumlah ini akan meningkat pada 2023, seiring dengan terjadinya gagal panen, banjir bandang, lonjakan harga pupuk yang dikaitkan dengan perang di Ukraina, dan tingkat kelahiran yang meningkat.
Relawan perawat Ramadou Haro (42 tahun) mengatakan dia telah bekerja di rumah sakit selama sekitar 10 tahun dan belum pernah melihat situasi separah tahun lalu. Di Niger, hampir 3 juta orang (hampir 10% populasi) diperkirakan akan menghadapi kelaparan dalam enam bulan ke depan, dengan 80% populasi bergantung pada pertanian.
Saat ini, lebih dari 30 juta anak berusia di bawah lima tahun di 15 negara yang terkena dampak terburuk, menderita kekurangan gizi akut. Delapan juta di antaranya sangat kurus, menunjukkan tingkat kekurangan gizi yang sangat akut. Indatou* (22 tahun) ibu dari Zeinab*, bayi berusia 20 bulan yang dirawat di Rumah Sakit Aguié karena malnutrisi, diberitahu bahwa putrinya jatuh sakit karena terlalu kecil dan kualitas makanan yang buruk.
“Saya sangat bingung. Saya belum pernah melihat anak saya dalam keadaan seperti itu. Saya pikir dia akan kehilangan nyawanya. Nafasnya sangat buruk dan sangat lemah. Saya tidak ingin putri saya mengalami ini lagi,” katanya, seraya menambahkan bahwa Save the Children telah mengajarinya bagaimana memastikan putrinya memiliki pola makan yang lebih baik ketika dia kembali ke desanya.
Selain krisis pangan, Niger juga menerima semakin banyak pengungsi, beberapa melarikan diri dari kelompok bersenjata di barat laut Nigeria. Harga makanan juga melonjak, sebagaimana keterangan pedagang di pasar utama di Maradi yang mengatakan bahwa harga telah naik 50–75% dalam setahun terakhir, terutama untuk bahan pokok impor seperti minyak goreng, beras, dan gula.
Puluhan ribu orang telah menyeberang ke Niger sejak 2019. Pemerintah Niger bekerja sama dengan UNHCR dan lembaga bantuan lainnya mendirikan kamp pengungsi yang disebut Villages of Opportunity, dekat Maradi yang berjarak 40 km dari perbatasan Nigeria. Niger sekarang menampung lebih dari 300.000 pengungsi. Kepala kamp pengungsi mengatakan orang-orang terus berdatangan. Banyak perempuan datang sendirian karena suami mereka dibunuh atau pergi mencari pekerjaan di negara lain. Masyarakat setempat telah menyambut mereka, bahkan terdapat beberapa pernikahan antara kedua kelompok.
Sumber:
https://www.savethechildren.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








