Sebelas pengungsi Palestina terluka, tujuh di antaranya dalam kondisi kritis, ketika peti bantuan yang dijatuhkan dari udara oleh militer Israel menghantam kamp tenda di kawasan Karama, barat laut Kota Gaza. “Ini bukan bantuan, ini adalah kematian dan penghinaan,” seorang jurnalis lokal menggambarkan kejadian tersebut.
Militer Israel mengklaim telah menjatuhkan tujuh paket bantuan ke Gaza utara dan menetapkan “koridor aman” untuk pengiriman bantuan. Namun langkah tersebut menuai kecaman dari para pakar dan lembaga kemanusiaan internasional. Kepala UNRWA Philippe Lazzarini menyebut airdrop hanyalah “opsi terakhir yang mahal, acak, dan berisiko.” Ia menambahkan bahwa satu-satunya solusi nyata adalah pembukaan penuh akses darat untuk truk bantuan, karena Gaza membutuhkan minimal 500 truk per hari—bukan tujuh paket dari udara.
Dewan Koalisi Suku-Suku di Gaza secara tegas menolak skema penerjunan bantuan dari udara. Dalam pernyataan resmi, mereka menyatakan “penyesalan dan keterkejutan mendalam” atas langkah yang dinilai sebagai gimmick simbolik, bukan solusi nyata atas kelaparan yang dialami penduduk Gaza. “Sudah cukup bom menghujani kami dari langit. Kami tidak butuh lebih banyak kekacauan yang disamarkan sebagai bantuan,” tegas pernyataan tersebut.
Mereka memperingatkan bahwa sebelumnya sejumlah paket bantuan jatuh di kepala warga dan di area berbahaya, sehingga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.
Organisasi Oxfam International juga mengecam keras airdrop yang disebutnya sebagai “bantuan mematikan” yang tidak menyentuh akar masalah. Bushra Khalidi, juru bicara kebijakan Oxfam untuk Israel dan Palestina, menyerukan pembukaan penuh semua perlintasan bantuan serta gencatan senjata permanen. “Apa pun yang kurang dari itu hanyalah isyarat taktis,” katanya.
Euro-Med Human Rights Monitor menambahkan bahwa airdrop bukan hanya gagal memenuhi ambang minimum kebutuhan kemanusiaan, melainkan juga menjadi alat propaganda yang menghinakan warga Palestina dan distraksi yang mengalihkan tekanan internasional terhadap Israel.
Saat ini, lebih dari 6.000 truk bantuan tertahan di Yordania dan Mesir akibat pembatasan dan kurangnya koordinasi dari pihak Israel. Dalam satu pekan terakhir, 55 warga Gaza telah meninggal dunia akibat kelaparan. Lebih dari 100 organisasi kemanusiaan dan HAM kini mendesak pemerintah dunia untuk bertindak tegas: mencabut seluruh pembatasan bantuan, membuka akses darat secara penuh, dan menghentikan perang melalui gencatan senjata permanen.
Sumber:
https://www.middleeasteye.net/live-blog/live-blog-update/oxfam-warns-minor-aid-steps-israel-cant-undo-months-deliberate?nid=425676&topic=Israel%2527s%2520war%2520on%2520Gaza&fid=546690
Gaza Tribal Council Slams Airdropped Aid Plans as Dangerous and “Media Stunt”
Gaza: Israeli Aid Airdrop Injures 11 Displaced Palestinians as Crates Fall on Tent Camp








