Lonjakan kasus meningitis kini menjadi ancaman serius bagi anak-anak Palestina di Gaza, di tengah krisis kemanusiaan akibat agresi yang telah berlangsung sejak Oktober 2023.
Di sebuah ruang rawat Rumah Sakit Nasser, Gaza selatan, Umm Yasmin menenangkan cucunya yang berusia 16 bulan yang merupakan salah satu dari banyak anak yang terdampak wabah ini.
“Suhu tubuh Sham tiba-tiba naik drastis dan tubuhnya kaku,” kata Umm Yasmin. “Kami tak bisa menemukan mobil untuk membawanya, Dia nyaris meninggal.” Ia mengungkap bahwa cucunya sudah dua kali terkena meningitis sejak mereka mengungsi. “Di tenda yang kami tempati ini, bahkan binatang pun tidak layak tinggal di dalamnya,” ujarnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Médecins Sans Frontières (MSF) memperingatkan bahwa situasi kesehatan di Gaza sangat mengkhawatirkan. Kondisi padat di kamp pengungsian, sanitasi yang buruk, terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan dan makanan bergizi, serta terganggunya vaksinasi rutin telah meningkatkan risiko penyebaran penyakit, termasuk meningitis akibat infeksi virus dan bakteri.
“Kasus meningitis pada anak-anak meningkat,” ungkap Dr. Rik Peeperkorn, perwakilan WHO di Wilayah Pendudukan Palestina. WHO mencatat bahwa meningitis yang biasa melonjak antara Juni hingga Agustus kini diperburuk oleh kondisi lingkungan yang ekstrem. Meningitis menyebar melalui jalur feses ke mulut, sementara jenis bakteri yang lebih mematikan dapat menyebar lewat udara di tenda-tenda yang sesak.
Rumah-rumah sakit yang masih beroperasi, seperti Rumah Sakit Nasser di Khan Younis dan Rumah Sakit Anak Rantisi di Gaza City, telah mencatat puluhan hingga ratusan kasus baru dalam beberapa minggu terakhir. Namun, keterbatasan alat tes laboratorium dan kultur darah menghambat proses diagnosis dan penanganan.
Dr. Ahmad al-Farra dari Rumah Sakit Nasser menambahkan bahwa kerusakan sistem pembuangan limbah dan meluasnya air kotor mempercepat penyebaran penyakit. Kekurangan vitamin dan rendahnya imunitas anak akibat kelangkaan sayur dan protein juga memperparah kondisi.
Di tengah reruntuhan dan penderitaan, wabah meningitis menambah beban baru bagi anak-anak Gaza yang kini bertarung untuk hidup di tengah agresi, kelaparan, dan krisis kesehatan yang tak kunjung reda.







