Mantan Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman, menuding Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sengaja memperpanjang perang di Gaza demi kepentingan politik menjelang pemilihan umum.
Dalam wawancara dengan penyiar publik Israel KAN pada Ahad (21/7), Lieberman yang kini memimpin partai sayap kanan Yisrael Beiteinu menyatakan bahwa tekanan politik internal terhadap Netanyahu akan meningkat setelah para tahanan yang ditangkap Hamas pada Oktober 2023 dikembalikan dan perang berakhir.
“Netanyahu ingin memperpanjang perang hingga Pemilu,” kata Lieberman tanpa menjelaskan apakah ia merujuk pada Pemilu reguler yang dijadwalkan pada Desember 2026, atau pemilu dini yang diperkirakan berlangsung akhir 2025 atau awal 2026.
Ia menambahkan bahwa tidak mungkin menghancurkan Hamas sebelum seluruh sandera dikembalikan secara bersamaan.
Sementara itu, negosiasi tidak langsung antara Hamas dan Israel kembali dimulai pada 6 Juli di Doha, Qatar. Kesepakatan yang dibahas mencakup gencatan senjata dan pertukaran tawanan. Menurut sumber dekat Hamas yang dikutip Anadolu, kelompok tersebut menerima peta terbaru dari mediator yang menunjukkan wilayah Gaza yang masih berada di bawah kendali Israel dan sedang melakukan evaluasi internal atas peta tersebut.
Sejak serangan Israel ke Gaza dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 59.000 warga Palestina terbunuh, mayoritas perempuan dan anak-anak. Serangan udara dan darat yang tiada henti telah menghancurkan wilayah tersebut hingga tidak layak huni.
Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Selain itu, Israel juga sedang menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas agresinya terhadap wilayah tersebut.
Sumber:
https://www.aa.com.tr/en/middle-east/netanyahu-seeks-to-prolong-gaza-war-until-elections-israels-ex-defense-minister/3636533
https://www.#/20250720-netanyahu-seeks-to-prolong-gaza-war-until-elections-israels-ex-defense-minister/\







