Upaya pemulihan sedang berlangsung sejak Selasa (16/5) di Myanmar dan Bangladesh setelah topan kuat menghantam garis pantai negara tersebut. Topan menyebabkan kehancuran yang meluas dan sedikitnya 21 kematian, dengan ratusan lainnya diyakini hilang.
Mocha mendarat di dekat kotapraja Sittwe di negara bagian Rakhine dengan kecepatan angin hingga 209 kilometer (130 mil) per jam pada Minggu sore, kemudian melemah menjadi depresi tropis pada Senin tengah hari (15/5). Badai yang paling merusak di negara itu dalam satu dekade, membawa banjir bandang yang meluas dan pemadaman listrik, sementara angin kencang membelah atap bangunan dan menghancurkan menara ponsel.
Hujan deras di Bagan, kota kuno yang menjadi salah satu daya tarik wisata utama Myanmar, menyebabkan banjir yang melemahkan fondasi setidaknya empat candi. Pemerintah mengeluarkan deklarasi bencana untuk 17 kotapraja di Rakhine dan empat di negara bagian Chin, sebelah utara Rahkine, lokasi ratusan bangunan dilaporkan rusak.
Televisi pemerintah Myanmar MRTV mengatakan pada Selasa (16/5) bahwa 21 orang tewas dan 11.532 rumah, 73 bangunan keagamaan, 47 biara, 163 sekolah, 29 rumah sakit dan klinik, serta 112 gedung pemerintah rusak. Media lain mengatakan bahwa ratusan orang Rohingya diyakini hilang. Banyak dari mereka yang dilaporkan tewas atau tidak ditemukan. “Saya mendapat informasi dari kerabat saya di daerah bahwa di dua desa di Sittwe sejauh ini 150 orang Rohingya telah terbunuh oleh Topan Mocha yang menghancurkan,” kata Mojib Ullah, seorang pemimpin Rohingya.
Sulit untuk memastikan jumlah korban dan kerusakan karena fasilitas telekomunikasi di daerah itu rusak akibat angin kencang badai tersebut. Informasi sulit diperoleh bahkan dalam waktu normal karena militer membatasi media. Salah satu korban selamat Topan Mocha mengungkapkan kekesalannya atas berita tentang korban jiwa di Myanmar. “Bagaimana mungkin media internasional mengonfirmasi bahwa Mocha hanya membunuh enam atau beberapa orang di Myanmar? Orang yang kami cintai tidak lagi bersama kami. Ini bukan lelucon. Realitas harus menjadi sumber informasi,” katanya dalam pernyataan tertulis.
Di kamp pengungsi terbesar di dunia di Distrik Cox’s Bazar di Bangladesh, ribuan Rohingya dari Myanmar dipindahkan ke daerah yang lebih aman hingga Topan Mocha berlalu. Daerah dataran rendah sangat rentan terhadap banjir, dengan relatif sedikit tempat berlindung yang tersedia. Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina mengatakan lebih dari 700.000 orang dipindahkan ke tempat penampungan topan atau fasilitas darurat termasuk sekolah dan masjid.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








