Perempuan di Yaman menghadapi kenyataan yang mengerikan, terutama dalam hak mereka atas keselamatan pribadi dan perawatan kesehatan selama kehamilan dan persalinan. Sebelum perang dimulai, Yaman sudah memiliki salah satu tingkat kematian ibu melahirkan tertinggi di dunia. Sekarang, hampir delapan tahun berada dalam situasi perang dan krisis kemanusiaan terburuk di dunia, penderitaan ibu hamil dan ibu melahirkkan semakin meningkat.
Lebih dari separuh persalinan di Yaman dilakukan oleh non-spesialis, yang mengakibatkan kematian ibu atau janin, selain juga komplikasi selama dan setelah kelahiran. Menurut UNICEF, 800 perempuan meninggal setiap hari karena komplikasi kehamilan, 7.000 bayi baru lahir meninggal setiap hari (kira-kira setengahnya masih hidup pada awal proses kelahiran), dan 7.000 bayi meninggal dalam bulan pertama kehidupan mereka. Meskipun angka-angkanya mengerikan, tetapi yang lebih mengerikan adalah perempuan harus menanggung pengalaman ini di dalam zona perang—situasi yang tidak aman dengan standar perawatan kesehatan, kebersihan, dan keselamatan pribadi yang tidak memadai.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pada 2016 bahwa perempuan hamil mengunjungi dokter mereka delapan kali selama periode antenatal untuk menerima perawatan yang diperlukan, meliputi tes darah dan urin, penerimaan suplemen gizi dan vaksinasi, dan pemeriksaan USG. Namun, karena mayoritas perempuan di zona konflik tidak dapat menerima perawatan kesehatan yang diperlukan untuk penyakit kronis atau cedera serius, bahkan di luar kehamilan, mengunjungi dokter delapan kali dalam waktu kira-kira 40 minggu tidak mungkin dilakukan bagi banyak orang.
Perempuan hamil sering dipaksa untuk mengurangi atau membatalkan janji dengan dokter di daerah yang terkena dampak konflik bersenjata—termasuk Suriah, Yaman, Libya, dan Irak—karena beberapa alasan, seperti kurangnya kamar perawatan atau psikiatri yang sesuai karena rumah sakit yang penuh sesak dengan korban perang. Pusat perawatan kesehatan juga mungkin tidak dapat diakses karena operasi militer dan semua kekerasan terkait, termasuk penahanan, penculikan, penyerangan, dan bahkan pembunuhan yang disengaja, mencegah banyak perempuan meninggalkan rumah mereka untuk perawatan medis lanjutan.
Dalam banyak kasus, seorang perempuan hamil dapat dikatakan cukup beruntung untuk mencapai pusat kesehatan di zona konflik, meski tidak ada jaminan untuk menerima perawatan, karena pusat-pusat ini kebanyakan kekurangan staf. Dokter spesialis adalah korban dari kekerasan yang sedang berlangsung itu sendiri, atau terpaksa melarikan diri untuk hidup mereka. Meskipun fasilitas kesehatan diklasifikasikan sebagai objek sipil, mereka masih sering menjadi sasaran.
Selain itu, menurut perkiraan Dana Kependudukan PBB, hampir 8,1 juta perempuan dan remaja putri di negara tersebut membutuhkan bantuan dalam mengakses layanan kesehatan reproduksi; 1,3 juta akan melahirkan pada 2022, sementara 195.000 diperkirakan akan mengalami komplikasi yang membutuhkan bantuan medis untuk menyelamatkan hidup mereka dan kehidupan bayi mereka yang baru lahir.
Tragisnya, situasi ini semakin diperparah oleh kenyataan bahwa hanya setengah dari fasilitas kesehatan Yaman yang beroperasi penuh, sementara 35% dari pusat kesehatan reproduksi dan klinik tidak beroperasi dan menderita kekurangan obat-obatan, peralatan, dan sumber daya manusia yang akut. Lebih dari 20 juta orang Yaman saat ini tidak memiliki pasokan makanan reguler, dengan perempuan hamil, ibu menyusui, dan anak-anak menjadi yang paling rentan terhadap kekurangan gizi. Jika krisis ini tidak segera diatasi, setidaknya dua juta ibu hamil diperkirakan akan meninggal.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







