Lebih dari 400 akademisi dan tokoh masyarakat terkemuka dari Israel, Palestina, dan komunitas Yahudi telah menandatangani surat terbuka yang mengkritik usulan perombakan yudisial pemerintah Israel dan penjajahannya atas wilayah Palestina. Surat tersebut, yang diterbitkan pada Selasa (8/8), menyerukan komunitas Yahudi di AS untuk turut bersuara dalam wacana tersebut.
Mereka yang menandatangani surat diantaranya adalah para pemimpin yayasan, cendekiawan, rabi, dan pendidik. Menurut mereka, perombakan yudisial ditujukan untuk “memperketat blokade di Gaza, merampas persamaan hak warga Palestina baik di luar Garis Hijau maupun di dalamnya, mencaplok lebih banyak tanah, dan secara etnis membersihkan semua wilayah dari penduduk Palestina di bawah pemerintahan Israel.”
Surat terbuka tersebut juga menekankan pentingnya persamaan hak bagi semua warga negara untuk setiap solusi politik, baik itu satu negara, dua negara, atau kemungkinan lainnya. Mereka memperingatkan bahwa tanpa persamaan hak, selalu ada bahaya kediktatoran. Mereka menuding Israel telah menjalankan “rezim apartheid” dan mengabaikan penderitaan rakyat Palestina, yang terus-menerus menghadapi kekerasan, penghancuran, dan perampasan.
Surat itu juga mengadvokasi dukungan terhadap organisasi hak asasi manusia dan mempromosikan pekerjaan mereka dalam komunitas, serta mendukung kurikulum pendidikan yang memberikan gambaran jujur tentang Israel. Selain itu, surat tersebut juga menekan komunitas Yahudi untuk mendesak perwakilannya agar mengakhiri penjajahan dan membatasi bantuan militer yang digunakan di Wilayah Palestina yang Dijajah (OPT). Mereka juga menyerukan penghentian impunitas Israel di organisasi internasional seperti PBB.
Lebih dari 100 akademisi yang berafiliasi dengan universitas-universitas Israel, termasuk tokoh-tokoh terkemuka seperti mantan kepala Badan Yahudi dan anggota Knesset Avraham Burg, berpartisipasi dalam penandatanganan surat tersebut. Pada 2021, Burg mengatakan bahwa Israel tidak ada hubungannya dengan esensi Yudaisme.
Surat terbuka itu mencerminkan ketidakpuasan dan perbedaan pendapat yang tumbuh di antara berbagai sektor masyarakat Israel dan diaspora Yahudi atas praktik apartheid Israel terhadap Palestina.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








