Dalam konteks kondisi kemanusiaan di Palestina, agresi di Gaza pada tanggal 7 Oktober lalu laksana ledakan gunung api yang menyisakan reruntuhan bangunan dan puluhan ribu korban jiwa. Tragedi tersebut menciptakan bencana kemanusiaan berkepanjangan di Jalur Gaza. Hal ini karena kelaparan dan kurangnya akses terhadap berbagai kebutuhan dasar seperti air bersih, obat-obatan, dan tempat tinggal. Blokade yang terjadi sejak tahun 2007, memperparah situasi ini. Keadaan semakin buruk ketika serangan menghujani langit-langit Gaza dan darah-darah para syuhada membanjiri wilayah tersebut. Sejak tahun 2012, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memberi isyarat dalam sebuah laporannya, yang mempertanyakan “kelayakhunian” tanah Gaza. Sudah puluhan tahun wilayah ini telah menghadapi masalah serius mengenai penyediaan kebutuhan pokok. Hal ini yang akhirnya menghambat bantuan kemanusiaan internasional dan merintangi usaha pemulihan. Setelah hadirnya serangan mematikan yang tiada henti sejak 7 Oktober 2023, banyak keluarga terpaksa mengungsi untuk mencari perlindungan diri.
Kondisi yang terjadi di “penjara terbuka” Gaza saat ini sangat relevan dengan salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau yang lebih familiar dengan sebutan Sustainable Development Goals’ (SDG’s). Proyek besar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini memiliki tujuan agar masyarakat di seluruh dunia mencapai tingkat kehidupan yang sejahtera. Salah satunya adalah “Zero Hunger”, yang berarti tidak adanya kelaparan. SDGs berupaya mengakhiri fenomena kelaparan, mencapai ketahanan pangan, dan meningkatkan nutrisi dalam makanan. Sayangnya, tujuan ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Palestina saat ini.
Meningkatnya angka kelaparan, terganggunya sistem pangan, dan kurangnya akses makanan bergizi menjadi masalah utama bagi masyarakat Palestina. United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA) melaporkan bahwa sejak agresi 7 Oktober, hampir setengah juta orang tidak bisa mengakses jatah makanan. Kacaunya kondisi ini menjadikan tertutupnya pusat distribusi makanan serta adanya pembatasan masuknya bantuan makanan melalui gerbang Rafah. Penyerangan juga terjadi pada pihak yang mengumpulkan bantuan pangan. Tentunya, serangan ini menimbulkan dampak buruk pada upaya pemberian bantuan penyelamatan di Gaza.
Di tengah kekacauan yang melanda Gaza saat ini, memberikan bantuan kemanusiaan menjadi salah satu upaya penting yang dapat kita lakukan. Rafah sebagai wilayah aman pada awalnya, sekarang menjadi target dalam serangan agresi Israel. Hal ini membuat kondisi Gaza semakin kacau. Bayangkan, lebih dari 800.000 masyarakat yang telah mengungsi di wilayah Rafah, terpaksa harus mencari makan dan tempat berlindung di wilayah Gaza lainnya, seperti Khan Younis dan Deir Balah. Maka, bantuan kemanusiaan berupa pangan menjadi solusi utama dalam meringankan penderitaan para pengungsi. Namun, kelaparan akut akan terus melanda warga Gaza, jika pemberian bantuan pangan tidak tereksekusi secara berkelanjutan. Bahkan, kondisi kelaparan yang telah terjadi selama enam bulan terakhir akan semakin parah.

Ibadah Kurban di Tengah Krisis Kemanusiaan
Menjelang hari Raya Idul Adha tahun ini, ibadah kurban merupakan salah satu bantuan yang memberikan dampak positif untuk masyarakat Palestina. Ibadah kurban menjadi sarana untuk memberikan bantuan pangan yang masyarakat Gaza butuhkan, sebab saat ini mereka sedang mengalami krisis kemanusiaan. Dengan berkurban, kita dapat menyumbangkan daging dengan kaya protein. Hal ini dapat memperbaiki asupan gizi masyarakat, terutama bagi anak-anak dan perempuan, serta keluarga rentan. Pemanfaatan potensi ibadah kurban merupakan upaya yang perlu untuk diperjuangkan. Mengingat keseriusan yang telah dicurahkan oleh global dalam program “Zero Hunger”. Pelaksanaan ibadah kurban, meskipun hanya dilakukan satu kali dalam setahun, setidaknya hal ini akan memberikan kesempatan bagi masyarakat Palestina untuk bisa mengonsumsi daging dan dapat terpenuhi nutrisinya. Sehingga, tujuan dalam mengentaskan kelaparan dapat tercapai.
Dalam mencapai tujuan pengentasan kelaparan, kolaborasi dari berbagai pihak menjadi poin penting. Kolaborasi ini menciptakan solidaritas yang mendukung upaya mencapai Zero Hunger. Pertama, melaksanakan ibadah kurban menunjukkan kesiapan untuk mendistribusikan hewan kurban kepada pihak yang membutuhkan. Adapun prioritas utama penerima manfaat dalam hal ini adalah masyarakat Palestina. Kedua, meningkatnya permintaan hewan kurban, akan berdampak pada peningkatan penyediaan hewan ternak secara sistemik. Ini mengharuskan sektor ternak untuk menyediakan fasilitas yang memadai untuk pengelolaan hewan ternak ini. Di sisi lain, sumber daya manusia juga penting, karena dibutuhkan pengetahuan peternakan untuk mengelola hewan yang akan disembelih. Hal ini bertujuan agar hewan tersebut layak untuk disembelih pada saat momen Idul Adha mendatang. Dalam konteks kurban untuk Palestina, hal ini akan sangat memberikan dampak positif bagi para peternak dan masyarakat Palestina secara keseluruhan. Solidaritas dan kerjasama lintas sektor menjadi kunci dalam menjalankan upaya ini untuk mencapai Zero Hunger.
Tahun 2023, atas partisipasi masyarakat di belahan dunia lain dalam ibadah kurban telah tercipta solidaritas global yang luar biasa. Pada momen Idul Adha tahun lalu, Adara Relief International berhasil mendistribusikan daging kurban yang Sahabat Adara berikan dari seluruh wilayah Indonesia. Dari kurban yang dihimpun pada tahun itu, sebanyak 15.400 penerima manfaat di Palestina pun akhirnya dapat menikmati daging untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang sangat jarang mereka rasakan. Pemberian hadiah berupa daging kurban untuk para pengungsi, bukan hanya menghilangkan rasa lapar bagi mereka, melainkan mengobati duka mendalam yang dirasakan.

Berkurban untuk Palestina memiliki arti yang mendalam dan sangat komprehensif dalam kontribusi kita. Kondisi ekonomi di Palestina yang sangat tidak stabil, menegaskan bahwa dukungan kita bukan hanya bersifat simbolis, tapi juga memberikan dampak nyata pada perekonomian lokal masyarakat setempat. Kita menyaksikan dengan penuh takjub, bagaimana masyarakat Palestina tidak pernah lelah untuk berjuang, belajar, dan berkembang menjadi individu yang kuat meski berada dalam situasi yang sulit. Ketika kita berkurban untuk mereka, kita bukan hanya memberikan sumbangan berupa materi, melainkan juga menghormati dan mengakui keteguhan hati mereka dan berkontribusi nyata terhadap perjuangan mereka untuk bertahan hidup.
Lebih dari sekadar bantuan finansial, tindakan berkurban untuk Palestina adalah sebuah pernyataan solidaritas yang kuat dari kita. Hal ini menegaskan bahwa mereka tidaklah sendirian dalam berjuang; bahwa di samping mereka, ada saudara-saudara dari belahan bumi lainnya yang tegak bersama, siap mendukung dan berbagi sukacita serta harapan. Pentingnya memberikan dukungan bagi masyarakat yang membutuhkan di Palestina tidak hanya mencakup aspek materi, tapi juga menggarisbawahi nilai-nilai kemanusiaan yang mendasari tindakan kita. Tentu, kita semua menginginkan kurban ini bukan hanya sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt, tetapi juga bisa meringankan beban penderitaan saudara kita. [AM]








