Kementerian Kesehatan Gaza mengeluarkan seruan darurat pada Rabu (11/06) malam, memperingatkan kekurangan unit darah yang sangat parah dan kritis di seluruh rumah sakit di Jalur Gaza. Lonjakan jumlah korban luka akibat agresi Israel dan memburuknya kondisi gizi warga membuat masyarakat semakin tidak mampu mendonorkan darah.
Dalam pernyataan resminya, kementerian menyerukan kepada organisasi internasional, lembaga kemanusiaan, dan PBB untuk segera mengirimkan pasokan darah yang mencukupi. “Rumah sakit di Gaza menghadapi krisis akut akibat terus meningkatnya jumlah korban luka, blokade ketat Israel yang menghalangi masuknya pasokan medis, dan kondisi gizi warga yang semakin memburuk,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Kementerian juga meminta intervensi segera dari WHO dan Komite Palang Merah Internasional agar menekan Israel untuk mengizinkan masuknya kantong darah dan bahan medis penting lainnya. Komunitas internasional dan organisasi hak asasi manusia pun diminta untuk segera mengambil tindakan demi menyelamatkan nyawa ratusan pasien dan korban luka.
Kondisi ini diperparah dengan ketiadaan obat-obatan dan peralatan medis yang sudah berlangsung sejak April, dengan lebih dari 37% obat esensial dan 59% alat medis habis total di gudang. Ratusan pasien dan korban luka di rumah sakit yang tersisa pun terpaksa menghentikan pengobatan.
Sementara itu, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengumumkan bahwa Rumah Sakit Al-Amal di Khan Younis, Gaza selatan, telah berhenti beroperasi akibat meningkatnya serangan di sekitar wilayah rumah sakit. Akses ke rumah sakit tersebut terhalang, membuat pasien baru tidak dapat dirawat dan menyebabkan semakin banyak kematian yang seharusnya bisa dicegah. Kini, satu-satunya rumah sakit dengan unit perawatan intensif (ICU) yang masih tersisa di Khan Younis hanyalah Kompleks Medis Nasser.
Tedros kembali menyerukan gencatan senjata segera, perlindungan terhadap fasilitas kesehatan, dan akses tanpa hambatan untuk pengiriman obat-obatan dan perlengkapan medis. Ia menegaskan bahwa sistem layanan kesehatan di Gaza telah nyaris runtuh total akibat serangan sistematis militer Israel terhadap fasilitas kesehatan dalam agresi genosida yang terus berlangsung.
Sejak dimulainya agresi militer pada 7 Oktober 2023 dan penutupan total perbatasan Gaza pada 2 Maret 2024, wilayah tersebut mengalami krisis kemanusiaan yang sangat parah. Blokade Israel tidak hanya menghentikan masuknya makanan, obat, bahan bakar, dan bantuan, tetapi juga menjerumuskan Gaza ke jurang kelaparan dan kehancuran total.
Hingga kini, lebih dari 182.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, telah gugur. Lebih dari 11.000 orang dilaporkan hilang, ratusan ribu lainnya mengungsi, dan kelaparan telah merenggut nyawa banyak anak, sementara situasi di Gaza semakin memburuk setiap harinya.
Sumber:
https://www.#/20250611-who-al-amal-hospital-in-gaza-out-of-service/
Gaza Health Ministry urges immediate global intervention to supply blood units








