Direktur Kompleks Medis Al-Shifa di Gaza, Dr. Mohammed Abu Salmiya, memperingatkan bahwa situasi kesehatan dan kemanusiaan di Jalur Gaza telah mencapai titik terburuk yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak agresi dimulai. Ia menegaskan, sistem kesehatan di Gaza kini berada di ambang kehancuran total.
Dalam pernyataannya di platform X pada Rabu (20/8), Abu Salmiya mengungkapkan bahwa tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit telah melampaui 300%. Kondisi ini membuat fasilitas medis tidak lagi mampu menampung gelombang pasien yang terus berdatangan, baik yang terluka, sakit, maupun kelaparan.
Sektor kesehatan juga mengalami kelangkaan obat dan peralatan medis yang sangat parah. Sekitar 60% obat-obatan esensial sudah tidak tersedia, sementara stok yang tersisa diperkirakan hanya akan bertahan beberapa hari ke depan.
Para dokter melaporkan peningkatan kasus cedera kompleks yang mengkhawatirkan, termasuk amputasi serta luka yang terinfeksi akibat penyebaran bakteri yang kebal antibiotik. Setiap hari, rumah sakit juga menerima puluhan jenazah pasien yang meninggal di tenda pengungsian karena kekurangan obat dan makanan, sebagian besar merupakan penderita penyakit kronis.
Kondisi anak-anak semakin memprihatinkan. Empat bayi baru lahir terpaksa berbagi satu inkubator akibat kepadatan yang ekstrem. Sementara itu, tenaga medis bekerja tanpa henti selama hampir 22 bulan agresi, menghadapi kelelahan berat, ditambah dengan krisis persediaan darah dan bahan laboratorium yang terus menipis.
Abu Salmiya juga memperingatkan bahwa ancaman Israel untuk menginvasi Kota Gaza akan berujung pada apa yang ia sebut sebagai “pembantaian terbesar dalam sejarah modern.” Ia kembali menyerukan komunitas internasional untuk segera turun tangan menghentikan “genosida” ini. Ia menekankan bahwa diamnya dunia hanya akan memicu bencana kemanusiaan yang tidak terkendali.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel telah melancarkan genosida di Gaza dengan dukungan penuh Amerika Serikat. Menurut otoritas kesehatan Gaza, sejauh ini agresi tersebut telah membunuh 62.064 orang dan melukai 156.573 lainnya, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.
Lebih dari 10.000 orang masih hilang tertimbun reruntuhan, sementara ratusan ribu warga terpaksa mengungsi di tengah ancaman kelaparan parah yang setiap hari terus merenggut nyawa.








