Berdiri di depan apartemennya yang hancur, Rashad Al-Sayed, seorang pengungsi di Gaza mengenang bagaimana ia harus membanting tulang bekerja mengumpulkan uang untuk membeli rumah bagi keluarganya.
“Saya menjadi buta 15 tahun yang lalu dan menunggu anak-anak saya lulus dari sekolah untuk bekerja membantu saya. Saya baru saja menyelesaikan semua pembayaran di apartemen dan Ahmad baru saja lulus dari universitas sebagai fisioterapis. Dia baru memulai magang selama satu bulan sebelum agresi dimulai. Hidup kami telah hancur,” kata Rashad.
Seorang ayah bersama anaknya memandangi reruntuhan rumah mereka akibat agresi Israel di Jalur Gaza
(sumber: prc.or.uk)
Rashad dan keluarganya harus kehilangan rumah mereka seketika, saat agresi Israel terjadi pada Mei 2021. Sebuah ledakan terjadi sangat dekat dengan rumahnya pada saat keluarga itu terlelap tidur dan tidak dapat melarikan diri. Ledakan itu juga melukai setiap anggota keluarganya dan membuat putranya, Ahmad yang berusia 24 tahun, lumpuh ketika atap apartemen runtuh menimpa kepala mereka. Saat ini, keluarga itu merasa sudah cukup beruntung karena mendapatkan bantuan untuk membayar sewa apartemen dari lembaga bentukan PBB yang khusus menangani pengungsi Palestina, UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East).[1]
Baca juga “Pawai Yahudi, Parade Bendera yang Memicu Emosi Palestina” di sini
Tempat tinggal Rashad dan keluarganya hanyalah satu dari sekitar 1,770 rumah yang dilaporkan telah hancur akibat agresi Israel pada Mei 2021, selain 22,000 unit lainnya yang mengalami kerusakan. Sebanyak 113,000 orang kehilangan tempat tinggal mereka, berbagai sektor ekonomi hancur dan membutuhkan waktu yang lama untuk pulih akibat blokade Israel yang menghambat bahan baku bangunan, bantuan internasional, maupun investasi yang masuk ke Jalur Gaza.
Agresi Israel pada 2021 yang menghancurkan berbagai infrastruktur dan lingkungan Gaza juga meningkatkan kemiskinan di Gaza hingga 64% akibat tingginya angka pengangguran dan memburuknya kondisi sosial. Dilaporkan bahwa pada akhir 2021, tingkat pengangguran di Gaza mencapai 48,6%.[2] Angka tersebut menunjukkan kondisi kemanusiaan di Gaza sebagai daerah yang paling memprihatinkan di antara seluruh wilayah Palestina. Laporan OCHA pada Desember 2021 menyebutkan bahwa krisis kemanusiaan di Palestina didominasi oleh kebutuhan di Jalur Gaza, yaitu sebanyak 1,32 juta jiwa dari total 2,1 juta jiwa (63%).[3]
Sejarah Krisis Kemanusiaan di Gaza
Terletak di sebelah barat Laut Mediterania, Jalur Gaza merupakan wilayah kecil di Palestina yang memiliki sejarah panjang agresi militer Israel. Israel menduduki Gaza pada 1967, mempertahankan kendali atas wilayah udara, pinggir laut, kendaraan, dan akses pejalan kaki. Namun, Palestina kembali dapat mengambil alih Gaza dan menghapus permukiman ilegal Israel pada 2005.
“The First Rain” atau “Hujan Pertama” di Gaza, terkenal bukan sebagai turunnya air dari langit, tetapi itu adalah sebutan untuk operasi militer yang pertama kali diluncurkan Israel ke Jalur Gaza, yaitu pada 2005. Seolah kota itu adalah sebuah pangkalan musuh, Israel membombardir Jalur Gaza dan secara harfiah “menghujani” kota itu dengan segenap kekuatan militer. Operasi ini berlangsung intens, salah satu yang terburuk adalah pada September 2006 yang merekam hal brutal yang jauh dari sisi kemanusiaan; hampir setiap harinya warga Gaza tewas terbunuh, banyak di antara mereka adalah anak-anak. Ratusan orang cacat, terluka atau lumpuh.[4]
Operasi “First Rain” berlanjut menjadi “Summer Rains” pada Juni 2006. Hujan bom F-16 dan peluru artileri berlanjut menyasar wilayah kecil ini, menandai sebuah babak baru dari episode dalam kisah ‘hukuman punitif’ yang diciptakan Israel, yaitu invasi ke Jalur Gaza. “Summer Rains” telah membunuh sekitar 200 orang, setengah dari mereka adalah anak-anak dan perempuan. Korban jiwa kemudian semakin meningkat pada 2007, dengan mencatat 300 orang terbunuh, termasuk puluhan anak-anak.
Operasi militer kemudian berlanjut pada Oktober 2008, Haaretz menyatakan bahwa operasi yang berlaku di Gaza adalah ‘Dahiya Doctrine’, sebuah strategi militer yang mempertahankan peperangan asimetris di daerah perkotaan. Dengan strategi ini, pasukan dengan sengaja menyerang infrastruktur umum untuk memicu penderitaan di kalangan warga sipil sehingga mereka tidak sempat untuk mengambil tindakan.
Baca juga “Dome of the Rock dan Kisah Abrahah yang Terulang” di sini
Doktrin tersebut diambil dari nama sebuah lingkungan Dahieh di Beirut yang dihancurkan Israel pada Perang Lebanon 2006. Dari perang tersebut, Israel mendapat gagasan untuk memberlakukan hal yang sama ke Jalur Gaza. Seorang Jenderal senior Israel, Gadi Eisenkot, berbicara kepada pers Israel pada 2008, mengatakan bahwa Doktrin Dahiya “bukanlah sebuah saran” tetapi sebuah “rencana yang telah disahkan.”[5] Ia juga mengatakan bahwa bagi Israel, desa adalah pangkalan militer dan penghancuran desa secara total merupakan sebuah tindakan hukuman, yang dimaksudkan untuk merusak sedemikian rupa sehingga akan membutuhkan waktu lama untuk pulih’.[6]
Masih pada 2008, Israel menambahkan strategi baru untuk Gaza, yaitu menerapkan pengepungan. Ini merupakan versi terbaru dari sebuah ‘penjara besar’ yang diciptakan Israel di Palestina. Di Tepi Barat, penjara diciptakan terbuka, sementara di Gaza, dengan alasan memberikan hukuman punitif atas perlawanan rakyat Gaza, penjara diterapkan secara tertutup (blokade).[7]
Demonstrasi di Khan Younis pada Agutus 2021, warga Gaza memprotes blokade yang diberlakukan Israel
(Sumber: Al-Jazeera)
Hingga saat ini, kepungan Israel di Jalur Gaza telah berlangsung selama 14 tahun, mengontrol setiap pergerakan keluar masuk barang dan manusia di wilayah kecil yang hanya seluas 365 km2 tersebut. Bahkan, berkendara dari batas utara Gaza di Beit Hanoun menuju perbatasan Rafah di paling Selatan jalur itu hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 jam, dengan jarak 41 km.
Baca juga “Kurban sebagai Syariat dan Hikmah bagi Umat”‘ di sini
Pada akhir 2021, Israel mengumumkan penyelesaian pembangunan pembatas apartheid sepanjang 65 km yang mengepung Gaza, mulai dari perbatasan Mesir, terus mengelilingi Jalur Gaza hingga menjorok ke laut Mediterania8.[8] Di atas tanah, pembatas itu merupakan pagar dengan tinggi lebih dari enam meter, sementara di bawah tanah terdapat dinding dengan kedalaman beberapa meter dengan logam bawah tanah yang dilengkapi dengan sensor. Dengan bangga, Israel mengumumkan proyek tersebut memiliki teknologi tercanggih yang belum pernah ada, mencakup ratusan kamera, radar, dan sensor lainnya. Sebanyak 140.000 ton besi dan baja digunakan dalam konstruksinya yang memakan waktu selama tiga setengah tahun.[9]
Farah Islim, korban lumpuh akibat agresi Israel 2021 di Gaza, harus menggunakan kaki prostetik untuk membantunya berjalan (Sumber: Al-Jazeera)
Selain itu, selama 14 tahun pengepungan, agresi militer besar telah terjadi empat kali, yaitu pada 2008—2009, 2012, 2014, dan 2021. Tiga operasi besar pada 2008—2009, 2012, dan 2014 telah menewaskan lebih dari 3.500 warga Palestina, termasuk ratusan anak-anak, dan melukai lebih dari 15.000 orang, sebagian besar warga sipil. Sementara pada 2021, agresi Israel berlangsung selama 11 hari, yaitu pada 6—21 Mei, mengakibatkan korban jiwa sebanyak 253 orang, termasuk 66 anak dan 35 perempuan. Lebih dari 2.200 warga Palestina terluka, termasuk 685 anak-anak dan 480 wanita, banyak di antaranya mungkin menderita cacat jangka panjang yang membutuhkan rehabilitasi.
Kamp Pengungsian di Gaza
Pada Nakba 1948, sekitar 800,000 orang melarikan diri dari pembersihan etnis yang Israel lakukan di Palestina. Sebanyak 190,000 orang di antaranya mengungsi ke Gaza, yang pada saat itu merupakan wilayah tujuan kedua terbanyak para pengungsi. Jalur Gaza saat ini memiliki populasi sekitar 2 juta jiwa dan merupakan salah satu wilayah terpadat di muka bumi dengan kepadatan penduduk mencapai 5,855 orang/km2 pada 2021.
Sementara itu, pengungsi Palestina merupakan yang terlama dan terbesar di dunia. Pada Desember 2020, UNRWA mencatat bahwa jumlah pengungsi Palestina yang terdaftar adalah sekitar 6,4 juta orang. Sebanyak 28,4% dari mereka tinggal di 58 kamp pengungsian.[10] Meski demikian jumlah ini merupakan jumlah minimum, mengingat lebih banyak lagi pengungsi yang tidak terdaftar. Di Jalur Gaza, sebanyak 66% populasinya atau sekitar 1,4 juta jiwa penduduknya adalah pengungsi. Jumlah ini merupakan kedua yang terbanyak setelah pengungsi Palestina di Yordania yang berpopulasi sekitar 2,4 juta jiwa. Meski demikian, jika dibandingkan dengan di Yordania, kondisi pengungsi di Gaza jauh lebih memperihatinkan. Survei pemantauan krisis UNRWA 2021 menunjukkan bahwa kemiskinan pengungsi Gaza adalah sebesar 81,5%, tidak jauh dari tingkat kemiskinan pengungsi Palestina di Suriah yang sebesar 83 persen.[11]
Saat ini terdapat 8 kamp pengungsi di Gaza, yaitu Kamp Jabalia, Kamp Bureij, Deir El-Balah, Khan Younis, Maghazi, Nuseirat, Rafah, dan Kamp Shati/Pantai. Keseluruhan kondisi kamp-kamp tersebut tidak berada dalam kondisi yang cukup layak untuk hidup penghuninya yang berada dalam kepungan dan ancaman agresi Israel.
1-Kamp Jabalia
Gaza Utara adalah rumah bagi kamp pengungsi terbesar di Jalur Gaza, yaitu Kamp Pengungsi Jabalia. Setelah Nakba 1948, sekitar 35,000 pengungsi, yang kebanyakan berasal dari desa-desa di selatan Palestina, bermukim di kamp ini. Populasi ini terus bertambah dan hingga saat ini, jumlah pengungsi di Kamp Jabalia tercatat sebanyak 114.000 orang. Dengan area hanya seluas 1.4 km persegi, kamp ini menjadi salah satu tempat terpadat di bumi. Studi menunjukkan bahwa Kamp Jabalia membutuhkan banyak renovasi dan perluasan tempat tinggal dan sekolah serta peningkatan pusat kesehatan untuk dapat memenuhi kebutuhan penduduknya.
Anak-anak di Kamp Jabalia menengok keluar dari “rumah” mereka.
(Foto: Rizek Abdeljawad/Xinhua, 16 November 2021)
Pada periode 1967—1993, beberapa proyek pembangunan untuk memenuhi kebutuhan Kamp Jabalia telah dilakukan. Namun, sejak Israel melakukan agresi pada 2006 yang dilanjutkan dengan pengepungan terhadp Gaza, seluruh pembangunan terhenti. Bahan material untuk pembangunan pun hampir tidak dapat memasuki Jalur Gaza.
Distrik Gaza Utara berbatasan dengan “Israel” sepanjang 10 km (6 mil). Jalur ini dikelilingi oleh garis keliling yang dijaga ketat dan terdiri atas dinding beton dan pagar berkabel ganda. Siapa pun yang melangkah dalam jarak 1 km (0,6 km) dari batas ini akan berada dalam bahaya tembak oleh tentara Israel yang berpatroli di perbatasan utara dan timur Gaza. Persimpangan Erez/Beit Hanoun Crossing adalah fasilitas penyeberangan di perbatasan Gaza-Israel di ujung utara Jalur Gaza, antara kibbutz “Israel” di Erez dan kota Palestina, Beit Hanoun.
2-Kamp Rafah
Kamp pengungsi Rafah berdiri pada 1949, terletak di Jalur Gaza selatan dekat perbatasan Mesir. Tidak lama setelah Kamp Rafah dibuat, ribuan pengungsi pindah dari kamp ke proyek perumahan terdekat di Tel el-Sultan, membuat kamp pengungsi ini hampir tidak bisa dibedakan dari kota yang berdekatan. Kamp Rafah awalnya menampung 41.000 pengungsi Palestina yang melarikan diri dari Perang 1948. Lebih dari tujuh dekade kemudian, kepadatan penduduk yang tinggi merupakan masalah utama di kamp tersebut, dengan orang-orang yang tinggal di tempat penampungan yang padat di sepanjang jalan yang sangat sempit.
Rafah sendiri merupakan distrik dengan populasi 250,000 orang yang terletak paling Selatan di Jalur Gaza, berbatasan dengan penyeberangan Rafah yang terhubung ke Mesir. Dalam pengepungan Israel, jalur keluar masuk Gaza melalui penyeberangan ini sangat sulit. Mereka yang ingin pergi harus mengajukan sejumlah izin untuk meninggalkan Gaza, yang bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Mereka yang mampu melewati penyeberangan Rafah kemudian harus melakukan perjalanan enam sampai delapan jam melalui Gurun Sinai melewati beberapa pos pemeriksaan Mesir dalam perjalanan mereka ke Kairo sejauh 400 km (250 mil). Penyeberangan kedua Rafah ke Mesir adalah gerbang Salah al-Din yang digunakan untuk mengangkut barang.
3-Kamp Shati’ atau Pantai
Kamp Shati’ merupakan kamp ketiga terbesar di antara semua kamp pengungsi di Gaza. Kamp ini disebut sebagai kamp pantai karena terletak di pesisir Mediterania. Pengungsi di wilayah ini kebanyakan datang dari daerah Lydd, Yaffa, dan Bir Saba.
Dengan luas hanya 0,52 km persegi, Kamp Shati’ disesaki oleh 23,000 penghuni. Dalam banyak kasus, para penghuni harus meletakkan lantai tambahan seadanya untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Jalan dan gang yang sempit antarbangunan menjadi ciri dari kamp ini, dengan fasilitas seadanya dan ruang terbuka yang terbatas.
Pada serangan 14 Mei 2021, Kamp Shati’ terkena serangan udara Israel dan memakan banyak korban. Salah satu keluarga di kamp ini kehilangan 10 anggota, termasuk lima siswa sekolah UNRWA. Sembilan belas mahasiswa UNRWA tewas selama periode pengeboman sebelas hari.
Dua orang anak tampak berjalan di gang yang berada di Kamp Pengungsian Shati’
(sumber: Palestine Chronicle, 2020)
4-Kamp Bureij
Kamp Bureij terletak di tengah-tengah Jalur Gaza dan berdekatan dengan Kamp Maghazi dan Nuseirat. Kamp yang dibangun pada tahun 1950-an ini menampung sekitar 13,000 pengungsi yang kebanyakan berasal dari kota-kota di timur Gaza.
Kondisi yang paling mengkhawatirkan dari kamp Bureij adalah ketersediaan air bersih, karena 90% sumbernya telah tercemar. Kamp Bureij berdekatan dengan Wadi Gaza, sebuah kolam pembuangan limbah terbuka yang mengalir langsung ke laut. Menurut studi pada 2019, jumlah total air tercemar yang mengalir ke laut mencapai sekitar 146,5 mm3/tahun. Total luas pencemaran laut pesisir kurang lebih mencapai 38,8 km2 dan berorientasi ke utara sepanjang pesisir pantai dan pengaruhnya meluas hingga ke Pelabuhan Gaza.[12] Akibatnya, lingkungan ini memiliki risiko kesehatan lingkungan yang serius terutama bagi anak-anak pengungsi.
5-Kamp Deir el-Balah
Terletak di pesisir Mediterania, Kamp Deir el-Balah merupakan yang terkecil di Jalur Gaza. Kamp ini pertama kali berdiri untuk menampung 9000 pengungsi yang melarikan diri dari wilayah tengah dan selatan Palestina. Penamaan Deir al-Balah yang berarti ‘Biara Kurma’ sebab merujuk pada kebun kurma yang melimpah di daerah tersebut.
Seperti Kamp Shati’, Deir el-Balah juga sangat terpengaruh oleh pemberlakuan batas penangkapan ikan oleh militer Israel, yang secara signifikan mengurangi batas laut yang sebelumnya telah disepakati sejauh 20 mil laut. Akibatnya, banyak nelayan yang kehilangan mata pencaharian karena tangkapan ikan yang berkurang. Selain itu, tentara Israel juga seringkali melakukan penembakan pada nelayan dengan peluru tajam.
Air di kamp ini pun tercemar sehingga berbau dan terasa asin. Buruknya kualitas air menyebabkan penyakit kulit yang menjangkiti penduduknya, terutama anak-anak.
Penduduk Kamp Deir Balah bergantung dengan air yang tersedia di tempat-tempat pengisian air
(Foto: Yusef Abu Watfa, Maret 2022)
6-Kamp Al-Maghazi
Kamp Pengungsi Al-Maghazi terletak di tengah Jalur Gaza. Kamp ini berdiri pada 1949 dan merupakan salah satu kamp kecil di Gaza, baik dari segi ukuran maupun populasi.
Al-Maghazi ditandai dengan gang-gang sempit dan kepadatan penduduk yang tinggi, dengan area yang tidak lebih dari 0,6 kilometer persegi. Sebagian besar pengungsi yang berlindung di Maghazi adalah mereka yang berasal dari desa-desa di Palestina tengah dan selatan yang mengungsi akibat Nakba 1948. Seperti kamp-kamp lain di Gaza, Penduduk di Al-Maghazi menderita pengangguran dan kemiskinan yang tinggi.
7-Kamp Nuseirat
Kamp pengungsi Nuseirat merupakan lingkungan yang sibuk dan padat yang terletak di tengah Jalur Gaza. Kamp Nuseirat, yang namanya berasal dari nama suku Badui setempat, awalnya menampung 16.000 pengungsi Nakba 1948 dari distrik selatan Palestina. Sebelum kamp tersebut ada, para pengungsi tinggal di bekas penjara militer Inggris yang berada di daerah tersebut.
8-Kamp Khan Younis
Kamp pengungsi Khan Younis terletak sekitar dua kilometer dari pantai Mediterania, utara Rafah. Kamp ini terletak di sebelah barat Kota Khan Younis, pusat komersial utama dan titik perhentian di rute perdagangan kuno ke Mesir. Sebagian besar pengungsi di daerah ini berasal dari daerah Bir Saba’ (Beersheba).
Kamp Khan Younis merujuk pada nama Distrik Khan Younis, rumah bagi 400,000 jiwa. Di Tengah distrik inilah terdapat kamp pengungsi dengan populasi 87,000 orang. Pada 2005, Perdana Menteri Ariel Sharon memerintahkan sekitar 8,000 pemukim dan tentara Israel yang tinggal di Gaza untuk pindah ke Tepi Barat. Kebanyakan permukiman di Gaza tersebut terdapat di Khan Yunis.
Kebutuhan Darurat pengungsi Palestina di Gaza
Pengungsi di Gaza memiliki masalah kerawanan pangan yang signifikan, penyebabnya adalah tingkat pengangguran yang tinggi akibat pengepungan Israel maupun agresi. Selain itu, pandemi covid-19 juga telah banyak memperburuk kondisi di wilayah ini.
Menurut UNRWA, sebanyak 1,2 juta jiwa atau 85,71% populasi dari pengungsi di Gaza membutuhkan bantuan pangan. Sebagai akibat dari pengepungan zionis, penduduk Gaza, terutama para pengungsi, sangat mengandalkan bantuan dari luar.

Sumber: PCBS, UNRWA
Melihat kondisi kemanusiaan di Palestina, khususnya di Jalur Gaza, prioritas utama dalam mencapai Sustainable Development Goal (tujuan pembangunan berkelanjutan) adalah mengentaskan kelaparan, meningkatkan ketahanan dan memperbaiki gizi. Pada 2022, kebutuhan pendanaan untuk mendukung ketahanan pangan para pengungsi di Palestina adalah sekitar sebesar 406 juta dollar AS. Bagaimanapun, pangan merupakan kebutuhan paling mendasar manusia untuk dapat bertahan hidup, terlepas apapun tekanan yang pengungsi di Palestina hadapi.
Sumber: Occupied Palestinian Territory Emergency Appeal, UNRWA 2021
“Semakin Israel berpikir tentang memusnahkan orang-orang kami dan mengambil tanah kami, semakin kami bertekad untuk bertahan hidup.” Abu Anwar Jahjouh, Penjual Jagung di Gaza.[13] (Ihhu)
Referensi:
[1] https://prc.org.uk/en/news/4779/gaza-family-recovers-from-traumatic-home-destruction-with-h elp-from-unrwa
[2] The Palestinian Central Bureau of Statistics, 2022.
[3] Sumber: Humanitarian Programme Cycle OPT, December 2021, OCHA.
[4] Amos Harel and Avi Issacharoff, ‘One humiliation too many’, Haaretz, 13 July 2006.
[5] https://www.trtworld.com/magazine/israel-s-dahiya-doctrine-a-plan-for-mass-civilian-deaths-in- gaza-46709
[6] Gabi Siboni, ‘The Third Threat’, Haaretz, 30 September 2009.
[7] Pappe, Ilan, The Biggest Prison on Earth, a History of the Occupied Territories (London: Oneworld Publications, 2017)
[8] https://www.aljazeera.com/news/2021/12/7/israel-announces-completion-of-underground-gaza -border-barrier
[9] https://www.middleeasteye.net/news/israel-iron-wall-gaza-palestinians-siege
[10] The Palestinian Central Bureau of Statistics, 2022.
[11] https://www.unrwa.org/sites/default/files/unrwa_2022_gva_english.pdf
[12] https://www.scirp.org/journal/paperinformation.aspx?paperid=91510
[13] https://interactive.aljazeera.com/aje/palestineremix/phone/gaza-lives-on.html
https://www.aljazeera.com/gallery/2021/8/26/palestinians-gaza-strip-protest-israel-blockade https://www.aljazeera.com/news/2021/12/31/palestine-gaza-young-victims-israel-bombardment- may
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







