Di atap Universitas Al-Aqsa di Distrik Mawasi, Gaza, Umm Mohammed al-Masri menggendong putranya yang berusia tujuh bulan, Ramadan. Tubuh bayi itu rapuh, dilanda demam tinggi dan dipenuhi luka lepuh yang terus menyebar. Cuaca yang menyengat, air yang terkontaminasi, serta ketiadaan obat membuat sang ibu tak berdaya menyaksikan penderitaan anaknya.
Umm Mohammed mengaku melarikan diri dari Beit Hanoun untuk menghindari pengeboman. Namun kini anaknya menghadapi ancaman lain yang tidak kalah mematikan, yaitu infeksi bakteri dalam darah yang tak dapat diatasi antibiotik.
Ramadan adalah satu dari ribuan anak Gaza yang terperangkap dalam lingkaran agresi, kelaparan, dan wabah penyakit. Keluarganya hanya bertahan hidup dengan roti dan dukkah (campuran tepung, biji-bijian, dan rempah), karena susu, popok, dan air bersih sudah tidak tersedia.
Sang ayah setiap hari mempertaruhkan nyawa demi mencari makanan, namun sering pulang tanpa hasil. Kondisi ini diperburuk oleh runtuhnya sistem kesehatan: rumah sakit kehabisan obat, peralatan diagnostik langka, pasien memenuhi lorong, sementara tenaga medis bekerja dalam kelelahan tanpa fasilitas memadai.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sejak Januari 2025, sedikitnya 103 anak meninggal akibat malnutrisi, 500 bayi mengalami gizi buruk akut, dan tercatat lebih dari 28.000 kasus kekurangan gizi sepanjang tahun.
Sejak agresi dimulai pada Oktober 2023, serangan Israel telah membunuh 18.430 anak dan 9.300 perempuan, termasuk 8.505 ibu. Situasi semakin kritis setelah Israel menutup seluruh jalur masuk pada 2 Maret, menghalangi distribusi bantuan kemanusiaan meski truk bantuan menumpuk di perbatasan. Lebih dari dua juta warga Palestina kini hidup dalam pengungsian hampir dua tahun, berdesakan di tenda-tenda yang menjadi sarang penyakit menular.
Sambil menatap putranya yang kian lemah, Umm Mohammed dengan suara bergetar menyampaikan kepedihannya: “Dua tahun agresi tanpa perubahan. Bayiku perlahan hilang di hadapan mata, dan aku tak mampu menolongnya. Yang bisa kulakukan hanyalah memohon dunia agar melihat dan bertindak.”
Sumber:
https://www.#/20250818-gazas-daily-wounded-toll-triples-following-aid-centre-openings-msf-reports/








