Gaza saat ini menghadapi krisis kemanusiaan yang kian memburuk. Pasien-pasien di rumah sakit dilaporkan meninggal dunia akibat luka yang seharusnya dapat disembuhkan, tetapi kondisi malnutrisi akibat blokade Israel menghalangi pemulihan tubuh mereka. Hal ini disampaikan oleh Prof. Nick Maynard, seorang ahli bedah gastrointestinal asal Inggris yang saat ini bertugas di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, bersama tim medis darurat dari organisasi Medical Aid for Palestinians (MAP).
Maynard, yang kini untuk ketiga kalinya menjadi relawan medis di Gaza sejak perang dimulai pada Oktober 2023, menyebut bahwa tingkat malnutrisi yang ia saksikan kali ini “tak terbayangkan buruknya” dan “jauh lebih parah dibandingkan setahun lalu.” Ia menegaskan bahwa kekurangan gizi telah berkontribusi langsung terhadap kematian pasien, karena tubuh mereka tidak mampu memulihkan diri setelah operasi.
“Penanganan medis yang kami lakukan hancur berantakan; pasien mengalami infeksi parah dan akhirnya meninggal,” ujarnya. “Saya telah kehilangan begitu banyak pasien hanya karena mereka tidak mendapatkan cukup makanan untuk pulih. Ini sangat menyakitkan karena sebetulnya bisa dicegah dan diobati.”
Kondisi ini tidak hanya memengaruhi pasien, tetapi juga tenaga kesehatan setempat. Maynard menyebut banyak rekan medis Palestina yang kehilangan berat badan hingga 20–30 kg dalam setahun terakhir akibat kekurangan makanan.
Di unit neonatal rumah sakit, empat bayi dilaporkan meninggal karena kekurangan gizi. Salah satu kasus yang membuat Maynard menangis adalah seorang bayi tujuh bulan yang tubuhnya menyerupai bayi baru lahir. “Ungkapan ‘kulit dan tulang’ saja tidak cukup menggambarkan kondisinya,” katanya. “Kami hampir tidak memiliki cairan nutrisi intravena. Anak-anak hanya diberi air gula 10 persen, yang jelas-jelas bukan dukungan gizi yang memadai.”
Dalam laporan terbaru kepada Dewan Keamanan PBB, Kepala UNICEF Catherine Russell menyampaikan bahwa malnutrisi akut anak-anak di Gaza meningkat hingga hampir tiga kali lipat pasca blokade makanan selama 11 pekan yang diberlakukan Israel sejak Maret. Dari lebih dari 113.000 anak yang diperiksa pada Juni, hampir 6.000 anak dinyatakan mengalami malnutrisi akut—lonjakan 180 persen dibandingkan Februari.
Maynard juga menyoroti kasus-kasus penembakan terhadap warga sipil, terutama anak-anak, di sekitar pusat distribusi bantuan makanan yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), proyek bersama Israel dan AS. Ia menyebut banyak korban berusia 12 hingga 13 tahun yang datang mencari makanan untuk keluarga mereka justru menjadi korban tembakan.
“Saya menangani seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang ditembak dadanya saat mengambil bantuan makanan. Ia meninggal di atas meja operasi,” kenangnya.
PBB melaporkan bahwa 865 warga Palestina telah terbunuh dalam enam pekan terakhir di dekat pusat distribusi bantuan, termasuk 674 orang yang terbunuh di lokasi yang dikelola GHF. Sebagian besar korban disinyalir ditembak oleh tentara Israel atau personel bersenjata yang beroperasi di lokasi distribusi.
GHF menuai kritik global, PBB menyebut cara distribusi bantuan mereka sebagai “sistem mematikan.” Israel pun dinilai menggunakan kelaparan sebagai senjata perang. “Malnutrisi yang dipaksakan dan serangan terhadap warga sipil yang kami saksikan akan membunuh ribuan orang lagi jika tidak dihentikan,” tegas Maynard. “Fakta bahwa dunia membiarkan ini terjadi sungguh mengecewakan. Ini adalah bentuk hukuman kolektif terhadap seluruh penduduk Gaza.”
Kondisi ini juga dikecam oleh organisasi Save the Children. Direktur kemanusiaan untuk Gaza, Rachel Cummings, menyatakan bahwa selain anak-anak yang meninggal, banyak ibu hamil dan menyusui juga mengalami malnutrisi parah akibat kelangkaan pangan. Ia mendesak Israel untuk membuka akses bantuan kemanusiaan.
“Pemerintah Israel harus mengizinkan masuknya makanan, pasokan medis, dan tenaga kesehatan atau tim penyelamat melalui sistem kemanusiaan yang telah ada, guna mencegah hilangnya nyawa anak-anak dan hancurnya masa depan mereka karena kelaparan dan penyakit,” kata Cummings kepada The New Arab.
Sejak agresi militer Israel dimulai Oktober 2023, setidaknya 58.573 warga Palestina telah terbunuh dan 139.607 lainnya terluka, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza. Angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi. Israel kini menghadapi berbagai tuduhan kejahatan perang, termasuk dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant.
Sementara itu, menurut Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang didukung PBB, 93 persen penduduk Gaza menghadapi ketidakamanan pangan akut, dengan satu dari empat orang hidup dalam kondisi menyerupai kelaparan.
Sumber:
https://www.newarab.com/news/surgeon-warns-gaza-patients-dying-wounds-due-starvation








