Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara menghadapi krisis besar akibat serangan intensif Israel, yang mengancam nyawa ratusan pasien. Stasiun oksigen utama di rumah sakit tersebut berhenti total pada Rabu (4/12) akibat kerusakan pada jalur pasokan yang disebabkan oleh serangan udara Israel.
Menurut sumber medis, perbaikan stasiun oksigen tampaknya tidak mungkin dilakukan karena serangan terus-menerus di sekitar rumah sakit, termasuk oleh pesawat quadcopter tak berawak. Situasi ini membawa ancaman serius bagi pasien yang membutuhkan oksigen, terutama di unit perawatan intensif.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa lebih dari 100 pasien di rumah sakit tersebut kini berada dalam kondisi kritis dan menghadapi risiko kematian. Upaya darurat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berhasil mengirimkan enam personel medis, bahan bakar, perlengkapan medis, dan makanan pada 1 Desember, tetapi bantuan ini belum cukup untuk mengatasi tekanan luar biasa terhadap fasilitas tersebut.
Direktur rumah sakit, Hussam Abu Safiya, mengungkapkan bahwa rumah sakit ditembaki lima kali oleh pasukan Israel sehari sebelumnya, hingga mengakibatkan tiga staf medis terluka. Bahkan, direktur unit perawatan intensif rumah sakit tersebut dilaporkan terbunuh dalam serangan pesawat tak berawak pekan lalu.
Serangan ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur kesehatan tetapi juga memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza. Banyak rumah sakit terpaksa beroperasi di bawah kapasitas minimal atau tidak berfungsi sama sekali, dan pasien tidak dapat mengakses layanan medis yang mereka butuhkan.
Serangan Israel yang semakin intensif di Gaza utara, khususnya di Beit Lahia, telah menyebabkan kehancuran besar-besaran di daerah tersebut. Pesawat tak berawak menargetkan rumah-rumah sipil dan fasilitas medis tanpa pandang bulu, memperburuk kondisi penduduk sipil yang sudah sangat tertekan oleh blokade dan kekurangan sumber daya.
Kondisi di Rumah Sakit Kamal Adwan menjadi simbol dari krisis kesehatan yang lebih luas di Gaza. Komunitas internasional harus segera bertindak untuk memastikan akses terhadap perawatan kesehatan dan melindungi fasilitas medis yang seharusnya dilindungi oleh hukum internasional. Tanpa upaya nyata untuk menghentikan kekerasan dan memberikan bantuan kemanusiaan, lebih banyak nyawa akan hilang di Gaza.
Selain itu Dokter Palestina dan internasional telah menyerukan untuk mengevakuasi 25.000 orang yang terluka dan sakit dari Gaza ke rumah sakit di Al-Quds (Yerusalem) melalui koridor kemanusiaan antara kedua wilayah tersebut, Quds Press melaporkan.
Seruan itu disampaikan dalam konferensi pers yang digelar kemarin di Rumah Sakit Augusta Victoria di Al-Quds (Yerusalem) yang diduduki, saat pusat-pusat medis di Gaza terus berjuang akibat pengepungan dan penargetan Israel terhadap para profesional medis, kekurangan bahan bakar, obat-obatan, makanan, dan air.
“Perkiraan menunjukkan bahwa 25.000 orang di Gaza memerlukan perawatan medis yang menyelamatkan nyawa karena kondisi mereka yang kritis,” kata para dokter.
Setidaknya 105.250 warga Palestina telah terluka di daerah kantong yang terkepung itu sejak Oktober 2023. Menurut Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Gaza sekarang memiliki “jumlah anak yang diamputasi per kapita tertinggi di dunia.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








