Pengungsi Palestina di kamp-kamp Lebanon berduka atas hilangnya empat warga Palestina dari Shatila dan 24 lainnya dari Kamp Nahr al-Bared, yang mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Kapal migran yang mereka tumpangi pada 21 September memulai perjalanannya dari pantai utara Kota Tripoli, menuju Siprus. Akan tetapi, kapal itu tenggelam di lepas pantai Suriah.
Memburuknya kondisi ekonomi pengungsi Palestina, ditambah dengan krisis ekonomi Lebanon, telah mendorong banyak warga Palestina di Lebanon untuk berani menghadapi kondisi berbahaya di laut dengan harapan menemukan kehidupan yang lebih baik. Banyak dari mereka telah tewas dalam upaya tersebut, dan peristiwa kapal karam baru-baru ini telah menjadi yang paling mematikan dalam beberapa tahun.
Menurut saksi mata yang masih hidup, antara 120 hingga 150 pencari suaka dari berbagai negara – Lebanon, Suriah, dan Palestina – berada di dalam perahu tersebut. Akibat gangguan teknis, kondisi laut yang tidak stabil, dan beban yang bertambah, kapal berhenti bekerja dan tenggelam. Ini menjadi salah satu insiden migrasi paling mematikan di Lebanon dalam beberapa dekade terakhir.
Di rumahnya yang berada di gang-gang kumuh Kamp Shatila, dengan mata berkaca-kaca, Malaka Abou Shoukair (58), menceritakan tentang Rawad (16), anak bungsunya yang menjadi korban tenggelamnya perahu. “Saya memohon kepada Rawad untuk tidak pergi, tetapi dia begitu ingin melakukannya. Saya sudah tua sekarang, namun masih bekerja mengantarkan pesanan. Rawad tidak menyukainya. Dia memutuskan untuk melakukan perjalanan ini karena dia ingin saya berhenti bekerja. Dia berencana pergi ke Belanda karena dia mendengar itu adalah negara termudah untuk penyatuan keluarga.” katanya.
Satu-satunya dokumen yang dibawa Rawad adalah kartu pengungsi UNRWA dan akta kematian ayahnya, untuk membuktikan bahwa Malaka tinggal sendirian. “Dia melakukan ini hanya untuk memberi saya kehidupan yang lebih baik,” katanya, dengan air mata terus mengalir di pipinya. “Saya masih tidak percaya dia meninggalkan dunia ini sebelum saya – dia masih terlalu muda.”
Malaka bukan satu-satunya orang yang berbagi kisahnya. Tepat di sebelahnya, keluarga Al-Hajj berduka karena kehilangan dua putra yang masih muda, Ahmad (17) dan Nour (21). Keduanya adalah teman Rawad, dan rekannya dalam perjalanan. Sementara pihak keluarga sudah bisa mengenali jasad Ahmad yang dikenali dari cincin yang sering ia kenakan dan bentuk giginya, Nour masih menunggu hasil DNA untuk mencocokkan identitasnya dengan salah satu jasad yang ditemukan dari kejadian tersebut, sehingga ia masih dianggap hilang.
Merhi Al-Hajj, sang kakek, tidak bisa menyembunyikan kesedihannya atas kehilangan cucu-cucunya. “Mereka menjadi yatim piatu sejak usia sangat muda setelah kematian ayah mereka, dan menjalani hidup mereka di rumah sederhana bersama saudara-saudara mereka,” katanya. “Ahmad dan Nour ingin mengubah nasib mereka dengan cara apa pun. Tapi yang mengikuti mereka hanyalah kematian. Hal terburuk yang bisa hilang dari seseorang adalah harapan. Karena dengan begitu mereka mungkin akan melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan konsekuensinya,” tambahnya.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







