• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Kisah dari Beddawi dan Ain Al-Hilweh: Penjara Sempit dan Pahitnya Mata Air yang Dirasakan Pengungsi Palestina di Lebanon

by Adara Relief International
Juni 19, 2023
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 12 mins read
0 0
0
Kisah dari Beddawi dan Ain Al-Hilweh: Penjara Sempit dan Pahitnya Mata Air yang Dirasakan Pengungsi Palestina di Lebanon
49
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

“Sejatinya ini adalah penjara. Penjara kecil,” ujar Mohammad Bashir (26), ketika menggambarkan kamp pengungsi Palestina Beddawi. Kamp pengungsian yang didirikan pada tahun 1995 ini terletak di sebuah bukit, sekitar 5 kilometer di timur laut Tripoli, Lebanon. Sama seperti 11 kamp pengungsian Palestina lainnya di Lebanon, Beddawi menampung ribuan warga Palestina yang terusir dari rumah mereka selama Nakba tahun 1948. Beddawi dan kamp-kamp pengungsian Palestina di Lebanon dideskripsikan “seperti kota-kota kecil di dalam sebuah kota, dengan rutinitas mereka sendiri yang penuh dengan tantangan dan kebutuhan,” tulis Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional yang terbit pada 2015.

“Kami, sebagai orang Palestina, adalah orang-orang yang tertindas,” kata Bashir. “Kami telah tertindas untuk waktu yang sangat lama. Sejak kami datang ke sini, kami tidak memiliki hak. Jika kami ingin melamar pekerjaan, maka kami harus membayar 50.000 lira,” kata Bashir, nada suaranya terdengar marah. “50.000 lira sekarang seperti $2! Bagaimana seorang pria bisa memberi makan keluarganya? Di mana dia akan mendapatkan barang-barang untuk kebutuhan anaknya? Susu untuk bayinya? Makanan, minuman, roti, di mana seorang pria bisa mendapatkan barang-barang ini?!”

dsc07725
penjara kecil, kota di dalam kota

Krisis ekonomi telah menjadi masalah utama di kamp pengungsian Palestina di Lebanon, tetapi situasi di Beddawi lebih rumit lagi. Bagaimana tidak, selama lima dekade pertama setelah didirikan, Beddawi menjadi tempat pelarian bagi sejumlah besar pengungsi Palestina yang mengungsi dari kamp pengungsian lainnya seperti Nabatieh dan Tal el-Zaatar, yang dihancurkan masing-masing pada 1974 dan 1976. Selanjutnya pada 2007, lebih banyak lagi pengungsi yang berdatangan ke Beddawi setelah kamp pengungsian Nahr-el Bared dihancurkan, membuat populasi melonjak menjadi 30.000 orang dalam semalam.

Setelah tahun 2011, perang saudara Suriah juga menambah ketegangan di kamp karena berdasarkan laporan UNRWA, lebih dari 30.000 pengungsi Palestina dari Suriah yang melarikan diri dari perang berusaha mencari perlindungan ke Lebanon, lantas menetap juga sebagai pengungsi di Beddawi. Puluhan tahun berlalu, generasi pengungsi berkembang menjadi puluhan ribu, sedangkan luas kamp pengungsian tidak berubah. Beddawi menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang “dua kali menjadi pengungsi”.

Peta Kamp Pengungsian Palestina di Lebanon (UNRWA)

Melonjaknya jumlah pengungsi di Beddawi berbanding terbalik dengan kesejahteraan yang mereka dapatkan, mengingat bantuan UNRWA hanyalah satu-satunya sumber kehidupan bagi banyak rumah tangga pengungsi Palestina di sana. Itu terjadi bukan karena para pengungsi malas untuk bekerja, melainkan karena pekerjaan yang tersedia bagi orang Palestina sangat terbatas sebab undang-undang Lebanon mengizinkan mereka bekerja hanya dengan status “orang asing”.

Para pengungsi Palestina hanya bisa melamar pekerjaan di bidang keperawatan dan sektor swasta, itu pun jika lowongan dan izin kerja bagi mereka tersedia. Kebanyakan pengungsi akhirnya memilih untuk bekerja secara ilegal dan dibayar dengan upah rendah. Kondisi yang sudah sulit tersebut kemudian semakin parah sejak terjadinya krisis ekonomi di seluruh Lebanon yang membuat semakin banyak perusahaan menolak mempekerjakan orang asing.

“Yang mereka butuhkan adalah bantuan tunai. Sangat banyak pengungsi yang harus berjuang sangat keras hanya untuk bisa mendapatkan makanan di atas meja,” kata Samra dari UNRWA. “Mereka dulu bekerja sepanjang hari untuk memperoleh 30.000 lira hingga 50.000 lira jika mereka beruntung. Sekarang, dengan 50.000 lira, Anda tidak bisa membeli sedikit pun roti atau bahkan sebungkus keju.”

Perwakilan regional di Lebanon utara, Abu Jihad Fayyad, juga mengungkapkan hal serupa. Bantuan untuk pengungsi seringkali hanya datang dalam jumlah yang sangat sedikit berupa sumbangan uang atau kotak makanan yang dibagikan ke seluruh kamp. Itu membantu, tetapi tidak bisa bertahan lama karena keterbatasan jumlah. Pada akhirnya, bantuan yang hanya datang sesekali itu tidak memberikan dampak signifikan bagi kehidupan para pengungsi.

“Kehidupan di kamp pengungsian sama seperti yang terjadi di seluruh Lebanon,” kata Fayyad. “Kalau tidak ada tenaga listrik, maka tidak akan ada listrik selama berjam-jam. Di sini juga menderita krisis gas. Bagi orang Lebanon, situasi mereka sudah sulit, dan bagi warga Palestina di kamp pengungsian Lebanon, kondisinya lebih sulit lagi.”

Frustrasi akan kehidupannya yang memprihatinkan di kamp pengungsian, Bashir, seperti banyak orang seusianya, pernah berpikiran untuk meninggalkan Lebanon. Akan tetapi, gagasan tersebut tidak semudah itu untuk dijalankan. Untuk bisa pergi ke luar negeri, pengungsi harus diselundupkan ke luar negeri secara ilegal dengan kapal. Karena Bashir adalah seorang Palestina yang tinggal di Lebanon, dia hanya memiliki dokumen pengungsi Palestina yang membuat hampir mustahil baginya untuk bisa mendapatkan visa atau menemukan permukiman di negara lain. Satu hal lagi yang menahannya untuk pergi adalah perkara keselamatan. Tak sedikit pengungsi yang memutuskan pergi, hanya untuk meninggal di perjalanan karena medan yang berat.

Melihat bahwa kemungkinan untuk bisa pergi ke luar negeri dengan selamat sangatlah kecil, banyak pemuda Palestina di kamp pengungsi berharap bahwa pendidikan akan dapat membantu menyelamatkan masa depan mereka. Mereka beranggapan bahwa lulus dari universitas akan memudahkan mereka dalam mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Tapi lagi-lagi harapan tersebut harus pupus, sebab mereka dengan cepat menyadari bahwa hanya ada sedikit sekali kesempatan untuk bekerja, bahkan nyaris tidak ada, bagi pengungsi yang tinggal di kamp, kecuali jika mereka pergi ke luar negeri, dengan mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.

Dib Zeit (40), salah seorang pengungsi lainnya, berinisiatif untuk membuka toko roti kecil tepat sebelum pandemi virus corona mencapai Lebanon. “Di sini Anda bekerja dari pagi hingga larut malam hanya untuk menafkahi anak-anak Anda,” kata Zeit. “Tidak ada alternatif lain. Pekerjaan ini buruk, tetapi tidak ada alternatif lain.” “Anda bisa belajar di universitas tapi itu tidak berarti. Anda tetap tidak akan menemukan lapangan pekerjaan,” jelas Zeit. “Jika Anda belajar teknik, Anda tidak akan mendapatkan pekerjaan sebagai insinyur. Orang Lebanon sendiri bahkan tidak bisa mendapatkan pekerjaan!”

Sama seperti Bashir, Zeit juga beranggapan bahwa emigrasi merupakan satu-satunya cara untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dari kehidupannya sekarang di kamp pengungsian Beddawi. Akan tetapi, ia dengan putus asa mengatakan, “Ini sulit. Ini benar-benar sangat sulit. Siapa pun yang mengatakan hal yan sebaliknya adalah pembohong. Bagaimana Anda bisa menikah? Bagaimana Anda bisa memiliki masa depan? Tidak ada sedikit pun harapan!”

Ketika Narkoba Lebih Murah dari Makanan

Mohammed sedang berdiri di tepi jalan yang dipenuhi sampah di jalan utama kamp pengungsi Beddawi ketika ia melihat temannya, Louay Eid, melambaikan tangan kepadanya. “Lihat! Tidak apa-apa di sini!” katanya sambil tertawa getir. “Ketika tidak ada pekerjaan, tidak ada kehidupan. Jadi, orang memilih narkoba.” demikian Louay menambahkan. Lebih jauh mereka berjalan, terlihat seorang anak, duduk dengan punggung menghadap ke dinding, menatap langit dengan mata berkaca-kaca. Dia sama sekali tidak bergerak, pun tidak menanggapi panggilan. Mohammed kemudian menunjuk ke arahnya, seolah berkata, “Nah, kamu lihat?”

Lebanon telah mengalami krisis ekonomi sejak tahun 2019, yang digambarkan oleh Bank Dunia sebagai salah satu krisis terburuk di zaman modern. Mata uang Lebanon jatuh, menyebabkan hiperinflasi dan menyebabkan nilai upah, pensiun, dan tabungan menguap. Akibatnya, setidaknya 75 persen penduduk Lebanon hidup dalam kemiskinan, dan jangan tanyakan bagaimana nasib pengungsi Palestina, sebab penduduk Lebanon sendiri saja tersiksa di negara mereka.

Krisis ekonomi telah menyebarkan dampak buruk pada standar hidup di seluruh negeri. Terjadi kekurangan bahan bakar yang melumpuhkan, membuat sebagian besar rumah hanya mendapatkan listrik negara paling lama hanya dua jam atau lebih sedikit dalam sehari. Beberapa orang yang membutuhkan listrik lebih lama diharuskan untuk membeli daya ekstra yang disuplai oleh generator swasta, tetapi harganya melonjak menjadi sangat tinggi karena bahan bakar yang semakin langka.

Dan ketika masalah-masalah tersebut terus bertumpuk tanpa adanya titik terang, para pengungsi yang depresi terpaksa mencari pelarian instan: narkoba. Captagon adalah nama merek palsu yang dicap ke berbagai amfetamin yang membanjiri kamp pengungsi. Barang tersebut sangat murah untuk dibuat dan menyebabkan dorongan energi yang sangat besar dan aliran euforia, membuat penggunanya bisa melupakan masalah hidup mereka, setidaknya untuk sementara hingga efeknya reda.

Ahmed Hassan, seorang pria yang menjalankan apotek kecil di jalan raya utama Beddawi mengatakan, “Tidak ada pekerjaan untuk kaum muda. Tidak ada obat, dan makanan menjadi sangat mahal.” “Satu pil di sini harganya hanya 7.000 lira ($0,35),” ia menambahkan bahwa harga tersebut hampir sama dengan sekaleng Pepsi. “Ini lebih murah daripada harga makanan,” katanya.

Narkoba telah menjadi pelarian bagi banyak pengungsi yang hidup dalam keadaan memprihatinkan seperti ini. Namun, Hassan melanjutkan, tidak ada yang berusaha menangani masalah ini, pun tidak disediakan pusat rehabilitasi bagi para pecandu. Obat-obatan terlarang hanyalah salah satu di antara banyak masalah yang memengaruhi para pengungsi Palestina di Lebanon yang kondisinya paling rentan. Selama dukungan rehabilitasi untuk para pecandu, atau bagi orang-orang yang mencoba membantu mereka tidak pernah datang, maka tidak akan pernah ada solusi untuk berbagai krisis yang melanda Lebanon, khususnya bagi para pengungsi.

Saya Ingin Melihat Senyum di Wajah Mereka

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ghusoun Tahhan telah membayar harga yang sangat mahal selama konflik di Suriah: nyawa suaminya. Dalam semalam, dunianya runtuh, dan dia kehilangan segalanya – suaminya, rumahnya, dan tetangga-tetangganya. “Suami saya terkena pecahan peluru selama pengepungan al-Husseina dan meninggal karena luka-lukanya,” kenangnya.

Ghusoun adalah seorang pengungsi Palestina dari Suriah yang kini tinggal di kamp Pengungsi Palestina Beddawi di Lebanon bersama kelima anaknya. Sejak kematian suaminya lima tahun lalu, dia harus mengurus anak-anaknya sendiri sebagai single parent. Di kamp Beddawi, tiga anak bungsunya bersekolah di sekolah UNRWA, sedangkan dua anak sulungnya terpaksa berhenti sejak meninggalkan sekolah mereka di Suriah tanpa punya kesempatan untuk melanjutkan studinya.

Untuk menghidupi keluarganya, Ghusoun bekerja membersihkan rumah. Dia berkata, “Kami mendapat manfaat dari bantuan bulanan UNRWA, tetapi itu tidak cukup akhir-akhir ini karena ekonomi Lebanon yang runtuh. Saya membayar US$50 setiap bulan untuk sewa apartemen yang tidak layak huni.” Sementara, untuk memenuhi kebutuhan dan menghidupi anak-anaknya, Ghusoun mulai bekerja dengan tambahan US$40/bulan.

“Semua anak saya menderita asma dan membutuhkan perawatan khusus ketika kambuh. Minggu lalu, putri saya menderita serangan ginjal di malam hari, jadi saya harus membawanya ke klinik swasta. Biaya pengobatan dan obat-obatan saya lebih mahal dari US$30. Saya harus meminjam uang dari tuan tanah saya untuk menutupi biayanya. Ini sangat melelahkan.”

Ghusoun dan anak-anaknya termasuk di antara 31.400 Pengungsi Palestina di Lebanon yang melarikan diri dari perang Suriah untuk mencari keselamatan. Hampir semuanya hidup dalam kemiskinan, hanya bisa mengandalkan bantuan tunai UNRWA sebagai sumber pendapatan utama mereka. Krisis ekonomi dan keuangan, dampak COVID-19 dan ledakan Pelabuhan Beirut pada Agustus 2020 telah mendorong Lebanon ke dalam krisis ekonomi yang parah hingga saat ini. Hal ini menyebabkan melonjaknya harga kebutuhan pokok – terutama listrik, obat-obatan, dan makanan. Secara keseluruhan, sebagian besar penduduk Lebanon, termasuk pengungsi Palestina, tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasarnya.

Dalam lingkungan sosio-ekonomi lebanon yang sangat pelik, para pengungsi Palestina melaporkan bahwa mereka selalu merasa cemas, putus asa, dan takut: “Menyedihkan sekali berdiri sendirian dan mengurus anak-anak Anda tanpa suami atau bantuan dari keluarga. Perang telah memisahkan kami. Tetapi saya bertekad untuk menghadapi tantangan besar ini demi anak-anak saya. Saya bertekad untuk mendukung mereka dan selalu melihat senyum lebar di wajah mereka,” kata Ghusoun.

Kami Tidur dengan Sepatu

Pagi hari di kamp Ain al-Hilweh dimulai pada pukul 07.15 pagi. Jousour, seorang jurnalis Palestina, sebenarnya belum memiliki kegiatan apa-apa sepagi itu. Akan tetapi, fakta bahwa rumah-rumah di kamp pengungsian itu begitu padat dan sesak, memaksanya untuk bangun pagi-pagi sekali setiap hari bersamaan dengan tetangganya yang membangunkan anak-anaknya untuk sekolah. Ia terbangun sambil mengutuk tetangganya yang berteriak begitu kencang sehingga membuatnya bangun terlalu pagi untuk jadwal kuliah pada jam sepuluh.

Ain Al-Hilweh, kamp pengungsian Palestina yang terletak di selatan Saida, Lebanon, adalah kamp pengungsian Palestina terbesar di Lebanon. Memiliki arti “mata air yang manis”, Ain Al-Hilweh mendapatkan nama tersebut dari staf PBB setelah melihat aliran mata air terdekat di area tersebut. Kamp pengungsian ini didirikan pada 1948 oleh Komite Palang Merah Internasional yang pada saat itu mendirikan tenda di wilayah tersebut untuk para pengungsi Palestina.

Pada awalnya, kamp pengungsi Ain Al-Hilweh diperuntukkan untuk pengungsi yang berasal dari Palestina utara yang terusir ketika peristiwa Nakba tahun 1948. Waktu berlalu, populasi pengungsi kemudian bertambah karena kamp tersebut harus menerima para pengungsi Palestina yang melarikan diri dari Tripoli selama perang saudara Lebanon. Pada tahun 2007, sama seperti kamp pengungsian Beddawi, Ain Al-Hilweh juga menjadi tujuan para pengungsi dari kamp Nahr Al-Bared yang dihancurkan.

Peta Kamp Pengungsian Ain Al-Hilweh (OCHA)

Sejak dulu, kamp tersebut tidak berubah. Pemandangan jalanan kamp pengungsian tersebut mengarah ke sebagian kota di pesisir Palestina, yang hanya bisa dipandang oleh para pengungsi tanpa bisa mereka datangi. Di dalam kamp, bangunan-bangunan di sana mengelilingi dari segala arah, membuat seolah-olah sedang berada di dasar neraka yang dikepung oleh batu bata. Tidak ada pohon, tidak ada bunga, tidak ada kicauan burung; yang terdengar hanyalah suara-suara antartetangga yang sedang bergosip, teriakan ibu-ibu, dan suara tukang sayur.

Kemudian siksaan di awal hari pun dimulai, yaitu perjalanan ke universitas: melintasi pos pemeriksaan kamp dan berputar-putar mencari jalan keluar yang tidak terlalu ramai. Proses pencarian jalan ini terkadang memakan waktu satu jam penuh, padahal seharusnya hanya memakan waktu 10 menit jika jalan bisa dilalui. Setelah kuliah, Jousour seringkali harus berjalan pulang karena mobil tidak bisa masuk ke kamp. Pertama, karena lalu lintas, dan kedua, karena para pengungsi takut akan terjadi bentrokan mendadak. Jadi, ia menyimpulkan bahwa semua penghuni kamp saat ini ​​​​hidup dalam kekacauan bencana dan Nakba yang terus berlanjut. Butuh waktu setengah jam, terkadang lebih, untuk menemukan seseorang yang akan mengantarnya pulang, baik itu di tengah hujan atau di bawah terik matahari.

Salah satu keistimewaan kehidupan di kamp adalah semua penghuninya diharuskan, setiap saat dan di semua tempat, untuk tidur dengan memakai sepatu. Hal tersebut seakan-akan menjadi aturan tak tertulis, untuk berjaga-jaga apabila tiba-tiba terjadi pertempuran, mereka bisa langsung menyelamatkan diri. Di rumah, misalnya, ia mengakui selalu membawa tas kalau-kalau suatu saat secara mendadak harus melakukan evakuasi. Di dalam tasnya tersimpan pakaian, surat-surat penting, dan beberapa buku langka, yang langsung siap untuk dibawa saat tembakan atau ledakan pertama terdengar.

Di kamp pengungsian Ain Al-Hilweh, hari yang tenang tanpa suara dan kebisingan adalah mimpi di siang bolong. Bahkan di tengah ketenangan hari Jumat, kesunyian dipecahkan oleh suara anak-anak yang menghabiskan hari libur mingguannya di jalanan. Mereka bermain sepak bola dan menendang bola ke segala arah. Hal tersebut tidaklah mengherankan, sebab Jousour melihat masa kecilnya sendiri saat melihat anak-anak itu berlarian. Ia mengenang masa kanak-kanaknya yang kehilangan ruang untuk bermain dan kebahagiaan yang dinikmati oleh anak-anak lain di seluruh dunia. Jadi, jalanan adalah tempat bermain satu-satunya meskipun mereka mengetahui risiko tertabrak mobil atau peluru nyasar cukup tinggi.

Tetangga Jousour, Duaa’ datang berkunjung pada hari itu. Dia tidak punya apa-apa untuk diceritakan kecuali cerita sehari-hari yang ‘biasa’: “Tahukah kamu siapa yang terbunuh hari ini? Insiden itu mendorong keadaan siaga di antara para pria bersenjata pada malam hari. Si ‘A’ juga ditembak secara tidak sengaja.” Ini adalah pembicaraan yang sangat lumrah terjadi di antara para tetangga, anak-anak, baik yang tua maupun yang muda. Pertanyaan-pertanyaan yang jelas selalu ada di wajah mereka: “Kapan pertempuran berikutnya? Di mana? Mengapa?”

Di pinggir jalan, para pemuda berdiri sambil berdebat, mengeluh karena tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Beberapa dari mereka duduk di belakang stan yang menjual botol parfum palsu, sementara yang lain berdiri di belakang gerobak sayuran atau sahlab – minuman hangat yang kental seperti krim. Mereka semua juga membicarakan tentang migrasi yang mudah untuk diucapkan namun pelaksanaannya jauh lebih rumit.

Kondisi kamp Ain Al-Hilweh juga digambarkan oleh Sara, seorang gadis berusia 19 tahun yang mengirimkan catatan kepada salah satu relawan organisasi kemanusiaan IRIN. Sara bercerita bahwa ia tinggal bersama ibu dan satu kakak laki-laki, sedangkan kakak laki-laki tertuanya meninggalkan mereka untuk pergi ke Eropa demi mencari kehidupan baru. Ia adalah gadis polos yang sangat suka menari, tapi mengatakan bahwa ia tidak bisa melakukannya terlalu sering karena kamp sudah sangat sesak.

“Situasi pekerjaan sangat buruk. Tidak ada pekerjaan bagi banyak orang dan para mahasiswa pascasarjana, mereka lulus dan hanya tinggal di rumah tanpa bekerja. Rumah dan jalan yang tersedia tidak cocok untuk manusia, saluran listrik berbahaya mudah ditemukan di jalan. Keamanan adalah masalah terbesar karena di sini tidak ada keamanan.

“Soal pendidikan, jumlah siswa memadati kelas dan karena itu hampir semua siswa tidak mengerti (pelajaran). Sebanyak 120.000 pengungsi di Ain al-Hilweh membutuhkan bantuan dari UNRWA, tetapi layanan ini sekarang hanya berlaku untuk sebagian orang–UNRWA telah mengurangi layanannya, seperti medis dan pendidikan.”

Kehidupan di Ain al-Hilweh, “mata air yang manis”, sangat kontras dengan kesengsaraan dan kepahitan yang dihadapi pengungsi Palestina di sana. Kamp pengungsian yang jalanannya menghadap ke kota pesisir Palestina tersebut, hanya cukup untuk menjadi stasiun penantian bagi orang-orang yang menderita demam kerinduan akan Palestina yang belum ada obatnya.

Kami Menangis untuk Tanah Kami

Pada bulan Mei 2021, sejumlah pengungsi Palestina dan warga sipil Lebanon melakukan perjalanan ke perbatasan Lebanon dengan ‘Israel’ selama tiga hari berturut-turut. Mereka berjalan ke tembok yang menjadi pembatas wilayah sambil dengan bangga mengibarkan bendera Palestina sebagai bentuk perlawanan menentang agresi Israel yang telah menewaskan hampir 200 orang di Jalur Gaza.

Suzanne al-Akhtah (39), seorang perempuan pengungsi dari kamp Ain al-Hilweh di Saida, kamp pengungsi Palestina terbesar di Lebanon, berteriak marah dari bukit tempatnya berdiri. Ia mengungkapkan kerinduannya untuk mengunjungi rumahnya di Haifa, yang sekarang berada di dalam perbatasan Israel. “Saya datang ke sini untuk melihat negara saya karena saya tidak bisa masuk ke dalamnya. Saya tidak bisa kembali ke negara saya, jadi saya ingin melihatnya dari sini.”

Di sepanjang tembok perbatasan menuju desa Adaisseh, beberapa keluarga berswafoto dengan anak-anak mereka menghadap ke wilayah Palestina, sementara sejumlah pria duduk dan berkumpul di dekatnya. Tak jauh dari mereka, terlihat puluhan tentara Lebanon, bersama dengan “penjaga perdamaian” dari Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), yang dikerahkan untuk menjaga jarak aman orang-orang tersebut dari tembok pembatas.

“Kami memiliki hak… Kami adalah orang-orang yang berjuang dan mudah-mudahan, anak-anak kami nanti dapat kembali ke Palestina dan menginjakkan kaki di tanah air mereka,” kata Al-Akhtah. “Mengapa kami tidak punya hak untuk kembali? Mengapa kami menjadi pengungsi? Kami tidak ingin menjadi pengungsi. Tanah ini milik kami, kami ingin kembali… Kami menangis untuk tanah kami,” kata al-Akhtah.

Pengungsi lainnya, Ali Khiam (25), mengatakan kepada Al-Jazeera bahwa penderitaan Palestina adalah pusat dari semua masalah negara Arab. “Apa yang terjadi di Palestina sangat kejam dan kami di sini berusaha membantu mereka dengan cara apa pun, termasuk dengan berdiri di sini dalam solidaritas, dan mendukung di media sosial dengan kata-kata kami,” kata Khiam, sambil berharap agar suatu hari nanti dapat memasuki Palestina yang merdeka, sama seperti impian kita semua.

 

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.

Sumber:

Ein El Hilweh Camp Profile 2017 (OCHA)

Protection Monitoring Report-Quarter Four 2021 (UNRWA)

Protection Monitoring Report-Quarter Four 2022 (UNRWA)

https://www.unrwa.org/where-we-work/lebanon/beddawi-camp

https://www.unrwa.org/where-we-work/lebanon/ein-el-hilweh-camp

https://www.unrwa.org/newsroom/features/surviving-syria-war-lebanon%E2%80%99s-beddawi-camp

https://nowlebanon.com/humans-in-a-camp/

http://newirin.irinnews.org/sara-ain-alhilweh

https://www.middleeasteye.net/news/lebanon-palestinian-refugees-drugs-cheaper-food-baddawi-camp

https://www.anera.org/stories/lifeline-beddawi-refugee-camp-lebanon/

https://refugeehosts.org/2016/09/20/photo-gallery/

https://www.middleeasteye.net/opinion/60-years-shame-palestinian-camps-lebanon

https://www.pbs.org/video/pov-world-not-ours-ain-el-helweh/

https://www.#/20201014-palestinian-refugee-camps-in-lebanon-are-facing-covid-19-alone/

https://www.arabnews.com/node/2261271/middle-east

https://www.interpal.org/20160311-ein-el-hilweh-refugee-camp-lebanon/

https://www.alamy.com/stock-photo/ain-el-helweh-camp.html?sortBy=relevant

https://www.aljazeera.com/news/2021/5/17/protests-in-lebanon-continue-in-support-of-palestine

https://lpdc.gov.lb/josourarticles/a-day-in-ain-al-hilweh-camp/

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

Tags: ArtikelPalestinaPengungsiTawanan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Rekam Serangan di Jenin, Seorang Anak Palestina Diculik Pasukan Israel

Next Post

Adara Relief Satukan Langkah dengan Komunitas Muslimah Magelang Peduli Palestina (KMP2)

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
22

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
24
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
87
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Adara Relief Satukan Langkah dengan Komunitas Muslimah Magelang Peduli Palestina (KMP2)

Adara Relief Satukan Langkah dengan Komunitas Muslimah Magelang Peduli Palestina (KMP2)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630