Setelah satu tahun genosida Israel yang berlangsung di Gaza, kepala UNICEF memperingatkan bahwa anak-anak di sana akan menghadapi tantangan pasca-generasi akibat agresi tersebut, Reuters melaporkan.
“Jika Anda benar-benar melihat Gaza melalui mata seorang anak, itu adalah neraka,” kata direktur eksekutif UNICEF Catherine Russell kepada acara “Face the Nation” CBS News pada Ahad (6/10) mencatat banyaknya korban jiwa dan pengungsian keluarga, serta kurangnya makanan dan air bersih yang terus berlanjut.
“Mereka sangat trauma dengan apa yang terjadi,” kata Russell tentang anak-anak tersebut. “Bahkan jika kami dapat menyediakan lebih banyak perlengkapan di sana, trauma yang dialami anak-anak ini akan menjadi tantangan seumur hidup dan bahkan akan dialami generasi setelah mereka.”
Russell mengatakan bahwa memindahkan bantuan kemanusiaan ke Gaza tetap sangat berbahaya. Namun, ia memuji organisasinya karena memiliki kisah sukses dalam memvaksinasi ribuan anak untuk polio di wilayah tersebut.
Terkait operasi militer Israel terkini di Lebanon, direktur UNICEF mengatakan kecepatan dan intensitasnya sangat mengejutkan” dan bahwa “ini menjadi tantangan bagi kami untuk menjangkau sekitar 1 juta orang yang mengungsi di sana.
“Saat ini saya merasa yakin bahwa kami dapat memenuhi kebutuhan, tetapi butuh usaha yang sangat besar dari pihak kami untuk melakukannya,” kata Russell.
Selain itu, Pejabat Komunikasi UNRWA Louise Wateridge mengatakan kemarin bahwa warga Palestina di Jalur Gaza yang terkepung telah hidup dalam “teror yang tak terbayangkan” selama setahun terakhir di bawah serangan Israel.
“Jalur Gaza telah mengalami serangan Israel yang terus-menerus sejak 7 Oktober 2023. Perang di Gaza telah berlangsung selama satu tahun, yang mengakibatkan pengungsian bagi 1,9 juta warga Palestina dan hilangnya lebih dari 41.000 jiwa,” tulis Wateridge di X.
Kengerian yang dialami warga Gaza selama 12 bulan, setiap hari dan setiap jam, tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata,” katanya, seraya menjelaskan bahwa “rumah sakit berbau darah, dan dokter tidak dapat menyelamatkan banyak nyawa anak-anak.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








