Direktur Kompleks Medis Al-Shifa di Kota Gaza, Dokter Mohammad Abu Salmiya, mengungkapkan pada Senin (1/7) bahwa meskipun telah diadili tiga kali selama lebih dari tujuh bulan penahanannya, Israel tidak pernah mendakwanya dengan kejahatan apa pun, lapor Anadolu Agency.
Menurut kesaksian para penyintas dari RS al-Shifa dan tawanan lain yang dibebaskan, Dokter Abu Salmiya ditangkap setelah ia menolak untuk membuat klaim publik bahwa pejuang Hamas menggunakan al-Shifa untuk tujuan militer.
Dalam konferensi pers yang diadakan di Kompleks Medis Nasser di Khan Yunis, Gaza selatan, beberapa jam setelah pembebasannya, Abu Salmiya mengatakan: “Para tawanan Palestina di penjara Israel mengalami berbagai jenis penyiksaan. Tentara memperlakukan mereka seolah-olah mereka adalah benda mati, dan dokter Israel menyerang kami secara fisik.”
“Layanan Penjara Israel tidak pernah mengajukan dakwaan yang jelas terhadap saya, meskipun telah tiga kali diadili,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan bahwa ia dan tawanan lainnya menghadapi serangan dan penyiksaan hampir setiap hari di dalam penjara dan dilarang mendapatkan perawatan medis. Mengekspresikan keterkejutannya terhadap klaim pejabat pemerintah Israel yang tidak mengetahui tentang pembebasannya, Abu Salmiya menekankan bahwa pembebasannya dilakukan melalui saluran resmi.
“Tidak ada organisasi internasional yang mengunjungi kami di penjara Israel, dan kami dilarang bertemu dengan pengacara. Banyak tawanan masih tertinggal dalam kondisi kesehatan dan psikologis yang sangat buruk,” lanjut Abu Salmiya.
Abu Salmiya ditangkap pada 23 November, bersama beberapa staf medis saat bepergian melalui Jalan Salah Al-Din dari Kota Gaza ke daerah selatan Jalur Gaza setelah militer Israel menyerang Rumah Sakit Al-Shifa.
Pada Senin pagi, Israel membebaskan sekitar 54 warga Palestina, termasuk dokter yang ditahan dari Kompleks Medis Al-Shifa dan rumah sakit lainnya di Gaza selama operasi militer terpisah beberapa bulan terakhir.
Sebagai reaksi, Menteri Keamanan Israel Itamar Ben-Gvir mengatakan bahwa pembebasan Dr. Abu Salmiya adalah “pengabaian keamanan” oleh intelijen dan dinas penjara Israel. Benny Gantz, pemimpin oposisi, juga mengkritik pembebasan Dr. Abu Salmiya dan 50 warga Palestina lainnya, dengan menyebutnya sebagai “kesalahan operasional dan moral.” Sebagai tanggapan, layanan penyiaran publik Israel mengatakan bahwa para tawanan tersebut dibebaskan karena penjara-penjara Israel sudah penuh.
Kondisi penahanan warga Palestina, terutama dari Gaza, terus menjadi subjek peringatan oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia. Sebelumnya pada bulan Juni, pengacara Palestina Khaled Mahajneh berhasil menjadi pengacara Palestina pertama yang memasuki pusat penahanan Sde Teiman di Naqab dan berbicara tentang bagaimana para tawanan menjadi sasaran berbagai bentuk penyiksaan dan penghinaan yang brutal, termasuk pelecehan seksual terhadap tawanan Palestina oleh tentara Israel.
Sumber: https://www.#
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








