Setelah lebih dari dua tahun genosida, Israel hampir sepenuhnya menghancurkan Jalur Gaza, meninggalkannya dengan krisis kelaparan yang meluas. Pasokan yang masuk ke wilayah yang terkepung itu tidak memenuhi kebutuhan gizi penduduk di sana, kata Program Pangan Dunia PBB (WFP). Bantuan yang masuk ke wilayah tersebut jauh di bawah target harian 2.000 ton karena hanya dua penyeberangan ke wilayah Palestina yang dibuka, dan Israel telah membatasi pengiriman.
Biro Pusat Statistik Palestina dalam laporannya yang diterbitkan pertengahan Oktober menyatakan bahwa selama genosida Israel, tingkat pengangguran di Palestina meningkat menjadi 50 persen, sementara khusus di Gaza angka pengangguran melesat menjadi 80 persen. Biro tersebut juga mengatakan bahwa terdapat 550 ribu orang yang menganggur di seluruh Palestina.
Sebuah laporan dari Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menyatakan bahwa produk domestik bruto (PDB) Palestina telah mengalami kemunduran ke level tahun 2010 pada akhir tahun lalu, sementara PDB per kapita kembali ke level yang terlihat pada 2003, menghapus hasil 22 tahun pembangunan hanya dalam dua tahun.
“Sebelum genosida, Jalur Gaza menyaksikan pertumbuhan ekonomi, dengan dibukanya banyak proyek komersial, pariwisata, dan industri, dan menjadi tempat perlindungan bagi banyak investasi di semua sektor,” kata Maher Altabbaa, Dirjen Kamar Dagang dan Industri Gaza, kepada Al Jazeera.
Kini, PDB wilayah tersebut anjlok 83 persen pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penurunan 87 persen selama dua tahun menjadi $362 juta. PDB per kapita merosot menjadi $161, menempatkan Palestina di antara yang terendah di dunia.
Secara historis, sektor swasta di Gaza telah menjadi mesin ekonomi terbesarnya, dan menyumbang sebagian besar PDB-nya. “Sektor pertanian merupakan penggerak utama di Jalur Gaza. Sektor ini dulunya menyumbang lebih dari 52 persen lapangan kerja, dengan mengandalkan usaha kecil dan menengah (UKM) sebagai tulang punggungnya,” jelas Altabbaa, menambahkan bahwa sektor pertanian telah mencapai swasembada dalam banyak produk, dan Jalur Gaza menyumbang sekitar 17 persen dari PDB Palestina.
Namun, perekonomian Jalur Gaza tidak begitu baik bahkan sebelum Oktober 2023, karena Israel memberlakukan blokade darat, laut, dan udara pada 2007. Beberapa perkiraan warga Palestina setempat menyebutkan tingkat kemiskinan mencapai lebih dari 63 persen dari populasi sebelum genosida ini, dan pemerintah Inggris memperkirakan bahwa sekitar 80 persen penduduk bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Pemerintah Gaza memperkirakan bahwa 90 persen dari semua sektor, termasuk perumahan dan infrastruktur, kini telah hancur. Namun, pemerintah mengatakan memiliki rencana untuk memperbaiki ekonomi dan menciptakan lapangan kerja – tetapi hal itu akan bergantung pada banyak faktor.
Gencatan senjata dan rencana perdamaian yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum sepenuhnya diterapkan oleh Israel, dan fase kedua dari rencana tersebut masih belum jelas. Namun yang pasti, Gaza menghadapi tantangan besar untuk pulih secara ekonomi dan bangkit dari puing-puing genosida.
Sumber: Al Jazeera








