Jana Majdi Zakarneh, seorang remaja Palestina berusia 15 tahun, sedang berada di atap dengan piyamanya, bermain dengan kucingnya pada Minggu malam, ketika pasukan Israel menembaknya berkali-kali, termasuk dua kali di wajahnya. Keesokan harinya, keterkejutan atas kematian Jana dapat dirasakan di Kota Jenin, tempat dia dibunuh. Para pelayat duduk di kursi plastik di luar upacara pemakamannya dalam kesunyian yang suram.
Suara bibinya, Hanan Said Zakarneh terdengar, “Apa yang dilakukan anak ini hingga ditembak seperti ini?” “Apa kejahatannya?” dia bertanya, sambil menahan air mata. “Dia masih kecil. Dia menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan orang tuanya, dan tidak pernah berkeliaran keluar dari rumah,” kata Hanan kepada Middle East Eye, menjelaskan bahwa kedua orang tua Jana merupakan penyandang disabilitas dan membutuhkan perawatan dan dukungan penuh waktu. Jana, yang akan berusia 16 tahun akhir bulan ini, selalu merawat mereka. “Kakak saya (orang tua Jana), hanya punya anak perempuan, yang sekarang sudah syahid, dan anak laki-laki yang masih kecil,” kata Hanan.
Minggu malam itu suara tembakan menggelegar di seluruh lingkungan, saat pasukan Israel melakukan serangan, tetapi tidak ada yang segera menyadari bahwa Jana telah ditembak. Penggerebekan dimulai sekitar pukul 21.30, dan sekitar 20 menit setelah tentara mundur, jenazah Jana ditemukan. Pamannya, Majid Zakarneh, memberi tahu MEE bahwa ayah dan adik laki-lakinya, 13, adalah orang yang menemukannya tewas di atap setelah keluarga menyadari dan pergi mencarinya.
“Dia sedang berada di loteng, duduk dengan kucingnya. Dia pergi ke sana setelah penembakan dimulai, tapi dia tidak berada di dekat tentara,” kata Majid. Dia mengatakan bahwa empat peluru tajam mengenainya, dua di wajah, satu di leher, dan satu di bahu. “Keluarga menyadari ketidakhadirannya dan memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab. Ketika saya sampai di sana, dia tergeletak di lantai, darah mengalir dari mana-mana,” kata Majid. “Ada banyak darah di lantai. Tidak ada yang tahu apa yang harus dilakukan. “Adikku bahkan tidak mengerti putrinya telah meninggal. Dia berada di dunia yang berbeda dan tidak dapat memahami apa yang terjadi di sekitarnya.”
Saleem al-Subar, seorang aktivis lokal di Jenin, mengatakan kepada MEE. “Tentara menyerang saat warga sipil masih berada di jalanan, termasuk keluarga dengan anak-anaknya,” kata Subar. “Kami baru saja mulai mendengar tembakan di mana-mana, dan orang-orang bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka mulai lari dan bersembunyi karena tidak tahu dari mana tentara menembak.”
“Bahkan jika bersembunyi di dalam rumah sendiri, itu tidak aman. Lihat Jana, dia ada di rumahnya, dan dia dibunuh. Jadi ketika orang lari, mereka tidak tahu apakah mereka akan selamat,” kata Subar. “Ke mana orang harus pergi jika bahkan di rumah mereka sendiri mereka tidak merasa aman? Ke manakah dunia? Mengapa mereka tidak membela kita?”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








