Di tengah kamp pengungsian darurat yang tersebar di Gaza, kelaparan dan kelangkaan pangan tidak hanya melanda manusia, tetapi juga hewan peliharaan yang menjadi bagian dari kehidupan keluarga Palestina. Mahmoud Zidan, 31 tahun, warga al-Nuseirat, tetap membawa serta dua ekor kucingnya dalam setiap pengungsian. Ia memberi mereka sisa roti kering dan kacang-kacangan, meski keduanya kini lemah dan kekurangan gizi. Demikian pula Ahmed Hamouda yang mengungsi di Sheikh Radwan, ia tetap merawat anjingnya, Rex, meskipun tubuh hewan itu menyusut drastis akibat malnutrisi dan ketiadaan layanan veteriner.
Banyak warga lain terpaksa melepaskan hewan peliharaan karena tidak lagi mampu berbagi jatah makanan keluarga. Kondisi serupa tampak di jalan-jalan Gaza; kucing dan anjing liar terlihat mencari sisa makanan di reruntuhan atau mengitari antrean bantuan. Situasi ini menegaskan bahwa agresi yang berlangsung tidak hanya membunuh manusia, tetapi juga memusnahkan ekosistem kehidupan secara menyeluruh.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 61.000 warga Palestina terbunuh, sementara sebagian besar penduduk terusir dari tempat tinggalnya. Penutupan perbatasan sejak awal Maret memperparah kelaparan: dari kebutuhan minimal 600 truk bantuan per hari, Gaza hanya menerima kurang dari 80 truk, atau di bawah 15 persen dari standar minimum. Kondisi tersebut menyebabkan kekurangan akut, sehingga pemenuhan kebutuhan dasar manusia pun gagal terpenuhi, apalagi kebutuhan hewan.
Bagi sebagian warga, merawat hewan dalam keterbatasan ini dipandang sebagai bentuk perlawanan moral: upaya mempertahankan kemanusiaan dan martabat di tengah kehancuran. Hewan peliharaan menjadi simbol ketahanan sekaligus saksi penderitaan, mencerminkan bagaimana agresi dan blokade Israel mengancam keberlanjutan seluruh makhluk hidup di Gaza.
Sumber:
https://www.newarab.com/news/israeli-made-famine-starving-animal-companions-alongside-humans







