Situasi di Gaza terus memburuk dan warga sipil semakin kelaparan. Sementara itu, blokade militer Israel semakin diperketat pada tahun ini, dengan hanya mengizinkan bantuan terbatas ke wilayah selatan Gaza dan hampir tidak ada bantuan ke wilayah utara.
Israel berencana menerapkan jeda empat jam sehari, mulai pukul 10 pagi hingga 2 siang waktu setempat, yang akan berlangsung di berbagai wilayah Gaza setiap hari yang dimaksudkan untuk memasok distribusi bantuan.
Namun, Hani Mahmoud jurnalis Al Jazeera melaporkan dari Rafah, dan mengatakan bahwa tidak ada hal positif mengenai rencana jeda tersebut.
“Kami melihat jalan-jalan yang dipenuhi puing-puing, anak-anak mencari sisa makanan, dan pasar-pasar kosong di Rafah. Jika makanan tersedia, harganya sangat tinggi. Tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk membeli makanan. Tanpa gaji selama lima bulan, kemampuan finansial mereka terkuras habis.”
“Selain itu, jumlah truk bantuan yang diizinkan masuk ke Jalur Gaza sejauh ini tidak mencukupi. Kalaupun ada 300 truk sehari, itu masih belum bisa memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat yang mengungsi, mengalami trauma, dan tidak mempunyai kebutuhan pokok,” lanjut Hani.
Sementara itu, di Gaza utara, masyarakat menghadapi kelaparan dan terpaksa mengonsumsi tumbuhan dan pakan ternak.
“Mekanisme bantuan secara keseluruhan rusak, mulai dari pos pemeriksaan dan penyeberangan hingga fakta bahwa organisasi bantuan internasional tidak dapat menjamin keselamatan awak kapal mereka di lapangan. Artinya, bantuan tidak sampai ke lokasi yang ditentukan,” kata Hani.
Bahkan ketika bantuan tersebut sampai ke daerah distribusi yang ditentukan, warga Palestina menjadi sasaran karena mencoba mengaksesnya.
Di Kota Gaza, Ramy Abdu, Kepala Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Med, melaporkan bahwa pasukan Israel menembaki warga Palestina yang mendekati truk bantuan.
Abdu menggambarkan insiden yang terjadi di Jalan Al-Rasheed, sebelah barat Kota Gaza, sebagai peristiwa yang “mengerikan, menyakitkan, dan brutal.”
“Makanan tiba dalam jumlah yang sangat sedikit dan tidak mungkin bagi mereka untuk mencapai kamp-kamp di Gaza utara,” lanjutnya.
Insiden ini tidak hanya terjadi satu kali saja, namun pasukan Israel telah berulang kali menargetkan orang-orang yang mengantri untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan. Pada Januari, pasukan Israel membunuh sedikitnya 20 orang yang mencoba mendapatkan bantuan kemanusiaan di Kota Gaza.
sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








