Dalam dua insiden terpisah di Tepi Barat, Palestina, pasukan Israel membunuh empat remaja Palestina dalam 24 jam. Pada Jumat (7/10), Adel Ibrahim Daoud (14), tewas setelah ditembak di kepala, di dekat tembok apartheid Israel di Qalqilya. Sementara Mahdi Ladadweh (17), ditembak di dada, di al-Mazra’a al-Gharbiyah, barat laut Ramallah. Selang satu hari, Mahmoud Al-Sous (18), ditembak di leher dan Ahmad Daraghmeh (16), kepalanya dipukuli dengan popor senjata oleh Israel selama serangan besar Israel ke Kamp Pengungsi Jenin pada Sabtu (8/10).
Pengunjuk rasa Palestina menghadapi kendaraan lapis baja Israel, Jenin, 8 Oktober 2022.
(Sumber: Oday Daibes/WAFA)
Video dan foto yang tersebar di media sosial, menunjukkan konfrontasi terjadi setelah militer Israel mengadakan penyerbuan skala besar di daerah-daerah tersebut. Di Al-Mazra’a al-Gharbiyah, saksi mata mengatakan bahwa tentara Israel menembaki penduduk selama konfrontasi dengan pemukim Israel, menewaskan seorang warga Palestina berusia 17 yang diidentifikasi sebagai Mahdi Ladadweh. Militer Israel mengatakan bahwa “perusuh” melemparkan batu ke pemukim dan pasukan Israel sehingga melukai tentara. Pasukan berupaya membubarkan kerusuhan “sesuai dengan prosedur operasi standar”, termasuk dengan mengarahkan tembakan langsung.
Di Jenin, menurut sumber keamanan Palestina, tentara telah menyusup sejak dini hari, yaitu beberapa jam sebelum puluhan kendaraan militer Israel datang dan menyerbu kamp dari berbagai arah, sementara helikopter militer Israel terbang di ketinggian rendah di atas kamp dan daerah sekitarnya. Penyerbuan ini memicu konfrontasi dengan penduduk setempat. Para wartawan dan ambulans dilarang untuk masuk ke area, bahkan pasukan segera melepaskan tembakan langsung ke sekelompok wartawan yang meliput serangan tersebut. Saleh Abu Zeneh, seorang warga kamp pengungsi Jenin, dilaporkan ditangkap oleh militer Israel.
Selain korban tewas, Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan 11 orang lainnya yang terluka oleh pasukan pendudukan Israel selama serangan Israel ke kamp pengungsian Jenin. Mereka dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk perawatan medis dengan kondisi yang digambarkan kritis. Sementara itu, seorang ayah, Anwar Abu as-Sebaa, dan putrinya, Iman, terluka setelah ditabrak oleh kendaraan militer Israel saat mereka berdiri di depan rumah mereka di kamp pengungsian.
Ayah dari Adel Daoud, 14, mengucapkan perpisahan terakhir pada putranya pada 7 Oktober 2022. Sumber: Qudsnen
Rangkaian Pembunuhan
Tahun 2022 belum berakhir, tetapi telah memberi catatan merah yang “luar biasa” di Palestina. Bukan hanya karena agresi militer ke Gaza selama tiga hari pada Agustus lalu yang menewaskan 48 orang, termasuk 4 perempuan dan 17 anak-anak, melainkan juga karena peningkatan intensitas serangan “rutin” di Palestina, seperti pencarian orang, penyerangan rumah-rumah dan masjid, serbuan ke sekolah-sekolah, penggusuran dan pengusiran, hingga serangkaian pembunuhan.
Serangan Israel hampir setiap hari di kota-kota Tepi Barat, khususnya Jenin dan Nablus, telah menyebabkan peningkatan jumlah korban tewas Palestina tahun ini [Raneen Sawafta/Reuters]
Dalam beberapa bulan terakhir, pasukan Israel telah meningkatkan operasi serangan dan penangkapan hampir setiap hari di Tepi Barat, khususnya di kota-kota utara Nablus dan Jenin. Lebih dari 165 warga Palestina telah tewas oleh tembakan Israel tahun ini, termasuk 51 di Jalur Gaza dan setidaknya 110 di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Korban tewas di Tepi Barat pada tahun ini menjadi rekor tertinggi sejak 2015. Bahkan Komisi Eropa juga menyebut 2022 sebagai tahun paling mematikan di Tepi Barat yang diduduki. Menurut Defense for Children International, sebanyak 44 anak-anak Palestina telah terbunuh pada 2022, termasuk 27 anak-anak Palestina yang ditembak dan dibunuh oleh pasukan atau pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki.
Nablus dan Jenin, dua wilayah yang terletak di sisi utara Tepi Barat, merupakan daerah dengan intensitas konflik tertinggi. Serangan dan pembunuhan militer Israel telah menjadi mimpi buruk hampir setiap hari di wilayah itu selama beberapa tahun terakhir. Militer Israel memberlakukan sebuah operasi militer yang disebut sebagai “Break the Wave”, sebuah operasi yang dilancarkan oleh militer Israel untuk melakukan penangkapan massal dan pembunuhan dengan dalih menghentikan gerakan perlawanan Palestina.
Orang Palestina tidak akan melupakan Ibrahim al-Nabulsi (19), seorang pejuang kemerdekan Palestina asal Nablus, yang tewas ditembak mati tentara Israel pada 9 Agustus yang lalu. “Singa Nablus”, begitu ia dikenal, menjadi lambang dari generasi baru perjuangan kelompok pemuda Palestina, sebuah fenomena yang sedang dihadapi oleh militer Israel dan ingin segera mereka hentikan. Fenomena ini muncul sejak September 2021, yang diawali dari upaya penduduk dalam melindungi enam tawanan Palestina dari Jenin yang melarikan diri dari Penjara Gilboa yang diklaim Israel sebagai penjara dengan keamanan tinggi.
Menurut para pengamat, kelompok-kelompok pemuda Palestina ini tidak melakukan operasi apa pun, melainkan hanya melakukan upaya pertahanan diri dalam melawan pendudukan. Meski demikian, Israel merasa sangat terancam.
“Dari sudut pandang Israel, yang berbahaya dari fenomena ini bukanlah operasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ini; karena mereka [Jenin] tidak benar-benar melakukan operasi apa pun,” kata pengamat politik Isma Mansour. “Ini tentang penyebarannya yang semakin meluas; mulai dari Jenin, lalu ke Nablus, dan kini terjadi bentrokan bersenjata di beberapa tempat dekat Ramallah. Manifestasi ini dianggap seperti penyakit menular. Realitas di Tepi Barat berubah dengan cara yang dapat diamati dan Otoritas Palestina tidak dapat mengendalikan situasi.”
Oleh karena itulah, menurut Mansour, militer Israel melakukan apa yang disebut sebagai operasi bedah, yang bertujuan untuk menghentikan penyebaran fenomena ini dengan cara-cara yang paling mungkin dilakukan. Dalam pelaksanaannya, Israel memilih untuk menghentikan gelombang perjuangan kemerdekaan Palestina dengan cara menyerang para penduduk, sehingga menimbulkan bentrokan besar yang melibatkan banyak warga. Sementara itu, tentara Israel sering menggunakan senjata mematikan yang berlebihan sehingga menimbulkan banyak korban.
Meski demikian, serangan Israel terhadap warga Palestina tidak terbatas pada operasi “Break the Wave” atau operasi lain yang serupa. Pembunuhan seringkali dilakukan secara insidental dan tanpa motif jelas. Berikut merupakan serangkaian pembunuhan yang dilakukan militer Israel dalam beberapa pekan sepanjang akhir September hingga awal Oktober 2022:
- Pembunuhan terhadap 4 orang pada Jumat–Sabtu (7–8/10), yang menewaskan remaja belia, Adel Ibrahim Daoud (14) di Qalqilya, Mahdi Ladadweh (17) di al-Mazra’a al-Gharbiyah, serta Mahmoud Al-Sous (18) dan Ahmad Daraghmeh (16) di Kamp Pengungsi Jenin.
- Rabu, 5 Oktober di Kota Deir el-Hatab, timur Nablus, seorang pemuda, Alaa Zaghal yang berusia 21 tahun tewas ditembak tentara Israel. Saksi lokal mengatakan bahwa sejumlah besar tentara Israel menutup pintu masuk desa, melakukan pengepungan disertai sebuah buldoser militer untuk menangkap seorang pria Palestina. Pencarian tersebut ditanggapi dengan perlawanan oleh penduduk, kemudian dibalas dengan rentetan senjata tajam. Selain menimbulkan korban jiwa, setidaknya tujuh warga Palestina lainnya, termasuk dua wartawan, terluka oleh tembakan Israel akibat kejadian tersebut. Mahmoud Fawzy dan Loai Samhan, terluka di tangan dan satu lagi di bahu. Mereka kemudian dibawa dengan ambulans ke rumah sakit terdekat.
- Senin, 3 Oktober, tentara Israel menembaki sebuah kendaraan Palestina berisikan tiga pemuda dengan tuduhan “melakukan aktivitas mencurigakan”. Israel mengumumkan kematian dua di antaranya, yang disebutkan bernama Khaled Dabbas (22) dan Basel Basbous (19), yang berasal dari Kamp Jalazone. Belakangan, setelah mendapat informasi dari pihak ketiga dan upaya untuk mendesak keberadaan korban, diketahui bahwa ternyata Basel Basbous masih hidup sebagai tawanan Israel.
- Pada 28 September, tentara Israel membunuh 4 orang Palestina dan melukai 20 lainnya, termasuk 4 anak, dengan 2 orang dalam kondisi kritis. Korban tewas setelah tentara menyerbu kamp pengungsian di Jenin, mengepung sebuah rumah dan membombardirnya dengan rentetan peluru dan rudal.
- Pada 24 September, Mohammad ‘Awad Abu Koufa (37) dari Al-Quds Timur tewas terbunuh setelah tentara menembak kendaraan yang ia bawa karena bertabrakan dengan kendaraan polisi Israel di barat Nablus.
- Pada 22 September 2022, Mohammad Osama Abu Jum’a (23), seorang penduduk di lingkungan Al-Tur, dibunuh oleh tembakan polisi di dekat pintu masuk permukiman Modi’in. Pembunuhan terjadi setelah Abu Jum’a berseteru dengan pemukim yahudi. Ia dituduh melakukan percobaan penikaman meskipun saksi mata menolak pernyataan yang disampaikan media Israel tersebut.
Peningkatan jumlah pembunuhan ini bukan sekadar angka, tetapi bukti bahwa pemerintah Zionis Israel terus meningkatkan strategi represif mereka dalam sebuah penjajahan dan sistem apartheid yang berlangsung selama 74 tahun. Pada Nakba atau malapetaka 1948, sistem ini berarti pembantaian dan pengusiran terhadap hampir sembilan ratus ribu penduduk Palestina. Sementara pada 2022, sistem apartheid ini berupa 6.515 serangan ke Tepi Barat, penangkapan 3.802 penduduk Palestina (termasuk 353 anak-anak dan 33 perempuan), pendirian 3.298 pos pemeriksaan militer sementara yang disertai penangkapan ratusan warga Palestina, perampasan tempat tinggal milik 115 keluarga, pembongkaran 121 rumah dan 41 tenda tempat tinggal, serta penghancuran 92 objek ekonomi sipil lainnya; selain meratakan sejumlah besar lahan kosong dan mengirimkan sejumlah besar pemberitahuan pembongkaran, penghentian konstruksi, dan berbagai bentuk pengusiran untuk penduduk di Tepi Barat dan Al-Quds, hanya karena mereka Palestina.
—
“Pada titik tertentu dalam kehidupan setiap orang palestina, kami menyadari bahwa Nakba masih jauh dari selesai, ia (Nakba) terus berlanjut setiap kali pendudukan Israel mencabut residensi Al-Quds, melucuti bahasa Arab dari rambu-rambu jalan, nama desa, dan kota, menggantinya dengan istilah dan nama Yahudi. Nakba terus berlangsung melalui kampanye dehumanisasi yang terus-menerus. Jika Anda tidak diusir dari rumah Anda, rumah Anda akan dihancurkan. Jika Anda tidak dipenjara, Anda ditembak di jalan. Jika Anda tidak ditembak di jalan, ada drone yang mengintai, dan jika bukan bom, maka pengasingan. Saya lelah melaporkan kebrutalan yang sama setiap hari, memikirkan cara baru untuk menggambarkan yang sudah jelas.” Muhammad el-Kurd, pada pidato di Majelis Umum PBB, 29 November 2021. (IHU)
Sumber:
https://qudsnen.co/two-palestinian-teenagers-killed-by-israeli-forces-during-jenin-raid/
https://www.aljazeera.com/news/2022/10/5/israeli-soldiers-kill-palestinian-man-wound-two-journalists
https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-killed-raid-nablus-west-bank
https://www.aljazeera.com/news/2022/10/3/israeli-forces-kill-two-palestinians-near-ramallah
https://www.aljazeera.com/features/2022/9/13/why-is-israel-targeting-jenin-and-nablus
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








