• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Kekejaman Blokade Israel, Gaza Kian Terpuruk

by Adara Relief International
Agustus 7, 2022
in Artikel
Reading Time: 17 mins read
0 0
0
Warga Gaza menunggu izin perjalanan untuk menyeberang ke Mesir melalui perbatasan Rafah

Warga Gaza menunggu izin perjalanan untuk menyeberang ke Mesir melalui perbatasan Rafah

90
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

15 tahun telah berlalu, sejak Israel memberlakukan blokade atas Gaza pada tahun 2007, namun tidak ada tanda-tanda blokade akan dihentikan atau dicabut. Hingga kini rakyat Gaza bagaikan terpenjara karena tidak bisa keluar dari wilayahnya. Mereka juga kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan pokok ataupun fasilitas kesehatan. Kemiskinan menjadi hal lazim yang ditemui, karena blokade telah menggerogoti ekonomi Gaza.  Bahkan di tahun 2012, UN melaporkan bahwa jika blokade tetap berlanjut, maka di tahun 2020 Gaza menjadi tempat tak layak huni. Ini adalah gambaran betapa beratnya kehidupan di Gaza, meski hingga kini penjara terbesar di dunia tersebut masih menjadi tempat bagi rakyat dan pengungsi Palestina dengan kehidupan yang memprihatinkan.

Tidak hanya blokade, Gaza juga mengalami agresi militer yang dilakukan secara berulangkali oleh Israel sehingga  menghancurkan wilayah di bagian selatan Palestina ini. Korban tewas dan terluka  dari  kalangan sipil mencapai ribuan jiwa.  Menurut Pusat Hak Asasi Manusia Al-Mezan, keseluruhan jumlah korban jiwa yang tewas karena agresi militer Israel di Gaza  mencapai  5.418 orang warga Palestina.

Sementara itu, kerugian materi yang dialami Gaza juga terbilang sangat besar. Selama satu dekade terakhir, kerugian ekonomi per kapita di Gaza mencapai sekitar $9.000 akibat blokade dan agresi militer. Sedangkan menurut laporan Konferensi Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) yang dikeluarkan pada 25 November 2020, biaya ekonomi pendudukan Israel di Jalur Gaza selama 1 dekade terakhir diperkirakan mencapai 16,7 miliar.[1]

Periode Intifada Pertama dan Kedua

Sebenarnya, blokade Gaza oleh israel telah dimulai jauh sebelum tahun 2007, yaitu  sejak Intifada pertama di Palestina (1987-1993). Intifada yang berarti ‘pemberontakan’ merupakan momen dimana terjadi pemberontakan besar warga Palestina melawan Israel. Peristiwa ini terjadi selama dua kali, yaitu pada 1987 (Intifada pertama) dan 2000 (Intifada kedua).

Intifada Pertama bermula pada tanggal 9 Desember 1987, ketika sebuah truk militer Israel menewaskan empat warga Palestina di pos pemeriksaan. Meskipun insiden ini bukan satu-satunya penyebab pemberontakan, namun kejadian tersebut memotivasi banyak orang Palestina untuk memberontak. Semua kelas sosial ikut berpartisipasi pada pemberontakan ini dalam bentuk pemogokan umum dan boikot. Sementara itu, tentara Israel melawan pemberontakan dengan kebrutalan yang tidak sebanding, yaitu dengan menembak dan memukuli para pengunjuk rasa.

Menurut Pusat Informasi Israel untuk Hak Asasi Manusia di Wilayah Pendudukan, BTselem, sebanyak 1124 orang Palestina kehilangan nyawa mereka dalam Intifada pertama. Sekitar 16.000 dipenjara dan banyak yang disiksa secara rutin. Sedangkan di pihak Israel, jumlah korban relatif jauh lebih sedikit, yaitu sejumlah 50 warga sipil Israel yang menjadi korban tewas.[2] Pada periode intifada pertama ini, Israel berhasil menduduki 40% Jalur Gaza, sementara 60% sisanya dipadati warga Gaza.[3]

Tahun 1991 menandai pertama kalinya Israel mulai melarang warga Palestina untuk keluar dari wilayah Gaza. Sejak itu, perlahan penutupan dan blokade telah menjadi pola kehidupan di Gaza. Pada 1994, Israel mulai membangun pagar elektronik dan dinding beton di sekitar Jalur Gaza.

Selanjutnya pada tahun 2000, ketika Intifada kedua meletus, otoritas Israel mulai sering membatalkan banyak perizinan perjalanan. Di antaranya yaitu larangan pekerja dan pelajar Gaza yang belajar di tepi barat, serta pembatasan ketat impor ke gaza dan hampir terhentinya ekspor karena pembatasan. Selain di daratan, mereka juga mencegah otoritas Palestina membangun pelabuhan laut dan memblokir jalur udara.

Tak cukup dengan blokade, masih pada tahun yang sama, pasukan Israel mengebom pelabuhan Gaza. Kemudian pada tahun 2001, Israel kembali meluncurkan bom  dan menghancurkan bandara Gaza yang baru dibuka selama tiga tahun. Setahun kemudian, pada Januari 2002, pasukan Israel memblokir pembukaan kembali bandara dan membuatnya tidak dapat dioperasikan.[4]

Kemudian pada tahun 2006, penutupan dan blokade Gaza menjadi semakin intens. Saat itu, sedang ada konflik internal militer antara dua faksi, yang yang dikenal sebagai ‘Pertempuran Gaza’. Salah satu dari faksi tersebut berhasil memenangkan pemilihan parlemen dan menjadi kekuatan dominan dalam politik domestik Gaza. Oleh karena itu, Israel semakin berusaha keras untuk melemahkan faksi tersebut, salah satunya dengan membatasi pasokan makanan ke Gaza. Pasukan Israel juga mengebom enam transformator utama pada satu-satunya pembangkit listrik Gaza, sehingga kota itu mengalami krisis listrik.

Meski kemudian pembangkit listrik itu diperbaiki sebagian, kekurangan bahan bakar masih  tetap ada. Akibatnya, Gaza mengalami defisit energi listrik yang besar dengan tingkat pemadaman listrik hingga 12 jam per hari. Krisis ini sangat mempengaruhi aktivitas warga. Sebanyak 30% penduduk Gaza kehilangan hak mereka atas air sebagai akibat dari pemadaman listrik yang terus-menerus. Selain itu, sekitar 100 juta liter air limbah tidak dapat diolah setiap hari sehingga mencemari pantai Mediterania.[5]

Setelah segala upaya tersebut, Israel kemudian benar-benar melumpuhkan Gaza pada Juni 2007. Para pejabat Israel menggambarkan penutupan itu sebagai ‘perang ekonomi’ yang dirancang untuk memberikan tekanan pada penduduk sipil dengan harapan akan melemahkan otoritas Gaza.[6] Melalui blokade, Israel benar-benar memisahkan Jalur Gaza  dengan dunia luar. Semua jenis bahan bakar, termasuk bensin dan solar, serta barang-barang seperti daging dan bahan pangan lainnya semakin dibatasi.

Linimasa pengepungan dan blokade Gaza
Sumber: visualizingpalestine.org
Blokade Gaza 2007

Gaza adalah salah satu wilayah yang terpadat di Palestina, yaitu dengan sekitar dua juta lebih penduduk yang tinggal terpenjara di jalur yang hanya seluas 365 km2.[7] Terdapat tujuh perbatasan penyeberangan yang mengelilingi Jalur Gaza untuk pergerakan orang maupun barang keluar-masuk Gaza.

Pada 2007, Israel memberlakukan sebuah pengepungan total yang menjadi babak baru blokade yang mereka lakukan atas wilayah ini.  Pada awal pemberlakuan blokade di tahun tersebut, semua akses penyeberangan keluar Gaza ditutup, kecuali tiga. Ketiga penyeberangan tersebut adalah penyeberangan Rafah dan Beit Hanoun, yang diperuntukkan bagi pergerakan orang, dan penyeberangan Karem Abu Salem, yang diperuntukkan bagi pengangkutan barang. Israel mengendalikan Beit Hanoun (juga dikenal oleh orang Israel sebagai Erez) dan Karem Abu Salem (Kerem Shalom), sementara Mesir mengendalikan Rafah.

Israel sering menggunakan alasan “keamanan” sebagai dalih untuk membatasi pergerakan warga Gaza. Mereka membatasi semua perjalanan antara Gaza dan Tepi Barat, bahkan juga ketika perjalanan tersebut dilakukan melalui rute memutar, yaitu melalui Mesir dan Yordania. Kebijakan ini berlaku bukan hanya terkait akses ekonomi, namun juga untuk akses kesehatan penduduk Gaza, dengan seringkali melarang perizinan keluar mereka yang  membutuhkan perawatan medis.

Bukti yang dikumpulkan oleh Human Rights Watch (HRW) menunjukkan bahwa tujuan utama dari pembatasan adalah untuk mengontrol demografi Palestina di Tepi Barat, yang tanahnya ingin Israel ambil. Sementara negara zionis, memberlakukan blokade sebagai sebuah penjara besar yang mengisolasi Gaza dari dunia luar, mereka meningkatkan pertumbuhan pemukim di Tepi Barat.

Agresi Militer 2007- 2021

Tak cukup hanya dengan blokade, setelah tahun 2007, Gaza berulang kali mengalami operasi militer Israel. Sebanyak empat kali agresi besar terjadi pada tahun 2008, 2012, 2014, dan 2021. Semuanya memiliki dampak yang signifikan yang membawa jalur Gaza dalam kehancuran.

Agresi pertama, yang disebut sebagai Operation Cast Lead, dimulai pada 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009, berlangsung selama 21 hari. Selama tiga minggu, pasukan Israel menjatuhkan sekitar 1 juta kg bahan peledak di Jalur Gaza. pengeboman tersebut menyebabkan kehancuran hampir 4.100 rumah dan merusak 17.500 lainnya. Hampir 1.500 warga Palestina tewas dan sekitar 5.400 lainnya terluka, termasuk banyak anak-anak dan perempuan.

Kemudian pada tahun 2012, Operation Pillar of Defense berlangsung selama delapan hari. Penyerangan dimulai pada 14 November 2012 dan berakhir pada 21 November 2012. Pesawat-pesawat tempur Israel menewaskan 162 warga Palestina, melukai hampir 1.300 orang, menghancurkan 200 rumah, dan mengakibatkan 1.500 rumah lainnya rusak.[8]

Agresi berikutnya adalah Operation Protective Edge 2014, yang merupakan agresi terlama. Agresi yang berlangsung selama 51 hari ini meninggalkan kehancuran besar dan kondisi kemanusiaan yang sulit. Pasukan Israel terus menembakkan 390.000 peluru tank, 34.000 peluru artileri, dan hampir 5 juta peluru lainnya ke penduduk Gaza. Dampak dari agresi tersebut sangat besar.  Sebanyak hampir 2.200 orang Palestina tewas, 81% di antaranya adalah warga sipil, termasuk 530 anak-anak. Adapun sekitar 11.000 orang terluka selama agresi. Pengeboman Israel di Jalur Gaza ini membawa pada banyak kehancuran bangunan, tercatat 17.123 rumah rusak dan 2.465 di antaranya hancur. Sekitar 100.000 warga pun terpaksa menjadi tunawisma. Meski PBB telah mengatakan bahwa Gaza sudah benar-benar tidak layak huni, tetapi pesawat tempur Israel terus menggempur Jalur Gaza hampir setiap bulan sejak itu.

Dengan ribuan orang yang terluka setiap harinya saat itu, Operation Protective Edge 2014 menjadi neraka bagi para staf medis. Dokter terus melayani para korban sepanjang waktu dalam ruang operasi, sehingga menimbulkan trauma tersendiri. Sebuah studi oleh Islamic University of Gaza, menunjukkan bahwa lebih dari 69% perawat Gaza, khususnya, menunjukkan tanda-tanda Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dan memerlukan program intervensi. PTSD adalah gangguan kejiwaan yang terjadi pada orang yang pernah mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis.

Seakan kebal dengan hukum internasional, Zionis Israel kembali menghujani Palestina dengan peluru dan bom pada Mei 2021 yang lalu. Saat itu, Gaza sedang dalam kekurangan obat-obatan terlebih karena pandemi Covid-19. Oleh karena itu, agresi yang berlangsung selama 11 hari di bulan Mei 2021 semakin memperparah situasi kondisi. Sebanyak 260 warga Palestina tewas dan dua ribuan korban terluka, termasuk lebih dari 600 anak-anak dan 400 wanita, di antaranya sekitar 10 persen mungkin menderita cacat jangka panjang yang membutuhkan rehabilitasi. Selain itu, hampir 600.000 anak usia sekolah juga harus menghentikan jenjang pendidikannya.[9]

Ledakan bom dan berbagai serangan pada agresi 2021 merusak lebih dari 50.000 rumah dan menghancurkan berbagai infrastruktur utama. Akibatnya, warga menjadi kesulitan mengakses air karena rusaknya sumur, air tanah, instalasi desalinasi, dan instalasi pengolahan limbah. Banyak bangunan-bangunan dan rumah-rumah yang tidak jatuh sepenuhnya, tetapi juga tidak stabil dan dianggap terlalu rapuh sehingga tidak layak untuk digunakan kembali. Menara komersial Al-Shorouk di jalan Omar Al-Mukhtar, pusat kota Gaza, merupakan salah satu yang paling terkena dampak akibat pengeboman Israel selama agresi Mei 2021 ini. Israel mengebom menara itu tepat pada malam Hari Raya Idul Fitri.

Gedung-gedung di Gaza hancur dan tidak bisa ditempati
Sumber: middleeasteye.net

Dihitung secara total sejak 14 Juni 2007 hingga 14 Juni 2022, serangan Israel telah menghancurkan 3.118 fasilitas komersial, 557 pabrik, 2.237 kendaraan, 2.755 fasilitas umum, 12.631 unit perumahan, dan 41.780 gedung lainnya. Angka ini tampaknya masih akan terus bertambah selama penjajahan zionis masih ada. Serangan terbaru yaitu, pada dini hari Sabtu, 16 Juli 2022, dan Selasa malam, 19 Juli 2022. Israel menembakkan sedikitnya 10 rudal, pada hari Sabtu, dan menembakkan tiga rudal, pada hari Selasa, ke beberapa lokasi di Gaza. Meski tidak ada laporan korban dalam serangan tersebut, namun memicu kebakaran dan kepulan asap. Rudal benar-benar menghancurkan situs yang menjadi sasaran dan menyebabkan kerusakan berat pada rumah-rumah di sekitarnya. Pesawat-pesawat tempur Israel juga menyerang lokasi lain, yaitu di sebelah barat kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah, menghancurkannya sepenuhnya.[10]

Keruntuhan Perekonomian Gaza

Blokade Israel selama 15 tahun telah sangat menghalangi keluar-masuk barang maupun penduduk Gaza yang hendak bepergian dan memperbaiki kehidupan mereka. Di bawah blokade Israel, sebelum adanya pembatasan Covid-19 yaitu antara Januari 2015 dan Desember 2019, rata-rata jumlah warga Gaza yang mendapatkan izin untuk menyeberangi Beit Hanoun adalah sekitar 373 warga Palestina  per hari. Jumlah tersebut bahkan masih kurang dari 1,5% rata-rata pergerakan orang per hari yang sebesar 26.000 pada saat sebelum blokade, yaitu berdasarkan data pada September 2000, menurut Kelompok hak asasi Israel Gisha. Kemudian selama pandemi Covid-19, antara Maret 2020 dan Desember 2020, Otoritas Israel semakin memperketat izin penyeberangan sehingga  rata-rata hanya sekitar 143 warga Palestina yang dapat meninggalkan Gaza melalui Beit Hanoun setiap harinya.

Sementara itu, di penyeberangan Rafah, Pemerintah Mesir juga memiliki kebijakan yang membatasi Gaza dan melanggar hak penduduknya. Petugas penyeberangan Rafah sering melakukan penundaan yang tidak perlu dan memberi perlakuan buruk terhadap para pelancong Palestina. Terkadang mereka sepenuhnya menutup perbatasan Rafah sebagai satu-satunya jalur Gaza ke dunia luar.

Banyak kasus menunjukkan bahwa pihak berwenang Mesir telah memperburuk dampak penutupan Israel terhadap Gaza. Salah satunya yaitu pada Februari 2021 saat seorang pria berusia 73 tahun berusaha melakukan perjalanan melalui Rafah bersama putrinya (46 tahun) untuk menjalani operasi penggantian lutut di rumah sakit al-Sheikh Zayed di Kairo. Perjalanan ini sangat mereka butuhkan karena Gaza tidak memiliki kapasitas untuk menyediakan operasi semacam itu. Namun, setelah mereka menunggu selama beberapa jam di aula di Rafah pada hari perjalanan, pihak berwenang Mesir hanya mengeluarkan izin bagi sang ayah untuk dapat masuk ke Mesir.

Selain itu, orang-orang yang berhasil melakukan perjalanan melalui Rafah mengatakan bahwa mereka mengalami perlakuan yang buruk oleh pihak berwenang Mesir. Mereka merasa pihak berwenang Mesir memperlakukan mereka seperti penjahat. Beberapa dari mereka juga mengatakan bahwa petugas Mesir menyita barang-barang mereka selama perjalanan dan mencegah penumpang menggunakan telepon mereka.

Gerbang penyeberangan Rafah Gerbang penyeberangan Rafah
Sumber: #

Tak hanya membatasi pergerakan orang, Otoritas Israel juga membatasi keluar-masuk barang ke Gaza. Mereka secara tegas memblokade barang yang lagi-lagi dengan alasan keamanan. Jumlah rata-rata truk yang diizinkan masuk ke Gaza, 7000 truk barang masuk Gaza melalui penyeberangan Karem Salem per bulan selama tahun 2020, dibandingkan dengan 10.400 pada tahun 2005. Adapun 316 truk meninggalkan Gaza setiap bulan melalui penyeberangan komersial Karem Salem pada tahun 2020, dibandingkan dengan 835 pada tahun 2005. Oleh karena itu, tak terelakan bahwa perekonomian Gaza jatuh ke dalam kehancuran. Ekonomi Gaza mengalami beban kerugian yang luar biasa sebagai akibat dari blokade dan empat agresi militer Israel pada tahun 2008, 2012, 2014, dan 2021. Kerugian per kapita secara total diperkirakan mencapai $9.000 dan penurunan PDB per kapita sebesar 27%.[11]

Blokade yang dilakukan Israel juga telah secara tajam membatasi penggunaan wilayah udara dan perairan teritorial Gaza oleh warga Palestina. Para nelayan ikan terus mendapat pengurangan zona penangkapan, yang sebelumnya sejauh 6 mil menjadi hanya 3 mil laut. Secara paksa, tentara mencegah para nelayan mengakses 85% perairan yang telah disepakati berdasarkan Kesepakatan Oslo.[12] Seringkali, kapal angkatan laut Israel juga menembaki nelayan yang berlayar. Meskipun tidak terdapat korban, tetapi penembakan itu bertujuan untuk menghentikan aktivitas mata pencaharian para nelayan. Secara keseluruhan, pembatasan darat dan laut mengakibatkan perkiraan kerugian tahunan sebesar US$ 76,7 juta dari produksi pertanian dan perikanan, dalam laporan Office for the Coordination of Humanitarian Affairs and World Food Programme tahun 2010.[13]

Akibatnya, warga Gaza kian kesulitan untuk memperoleh atau membuka lapangan pekerjaan, sehingga tingkat pengangguran melonjak hingga 49% pada tahun 2020, menjadikan Gaza sebagai salah satu wilayah dengan tingkat pengangguran tertinggi di dunia. Tingkat kemiskinan pun melonjak dari 40% pada 2005 menjadi 56% pada 2020.[14] Menurut laporan 2021 kantor urusan kemanusiaan PBB (OCHA), utang rata-rata di antara keluarga pengungsi termiskin di Jalur Gaza meningkat hingga lebih dari dua kali lipat pendapatan tahunan mereka. Pada laporan tersebut terdapat 25% keluarga di Gaza berisiko dipenjara karena utang dan 23% merasa tidak aman terkait utang mereka.

Menanggapi kondisi memprihatinkan yang dialami Gaza, HRW menyerukan Israel untuk mengakhiri blokade Gaza dan memberikan kebebasan bergerak bagi para penduduknya. Selain itu, Mesir pun juga harus mengakhiri kebijakan pembatasannya, termasuk penundaan dan perlakuan buruk terhadap para pelancong yang telah memperbesar efek dari kebijakan penutupan Israel.

Meski demikian, hingga 2022, blokade masih belum berakhir. Pada awal bulan Juni, penghubung militer negara penjajah ke Palestina, COGAT, mengumumkan bahwa izin bekerja bagi warga Palestina di Gaza akan meningkat dari 14.000 menjadi 15.500. Namun, Israel mencabut keputusan tersebut dan hanya mengizinkan 1.500 warga. Itu terjadi setelah mereka menyerang wilayah yang terkepung dengan rentetan rudal pada hari Sabtu (16/7).[15]

Dampak Blokade dan Agresi Militer terhadap Anak-anak Gaza

Sara Al-Metrabi, seorang anak berusia 4 tahun tidak lagi bisa berlarian seperti anak lainnya. Kaki Sara lumpuh karena ia terperangkap di bawah puing-puing rumahnya. Sara harus melalui fisioterapi untuk bisa berjalan kembali. Sara bertanya-tanya: “Apakah akan memakan waktu yang lama?” dan “Kapan saya tidak bisa berjalan?”.

Meskipun demikian, Sara masih bisa tersenyum seraya mengatakan, “Ketika saya besar nanti, saya ingin menjadi dokter sehingga saya bisa menolong anak-anak”.

Sara adalah satu dari sekian anak di Gaza yang harus menjalani kisah kehidupan yang memilukan akibat blokade dan agresi militer. Tak jarang dari anak-anak ini merasa tidak adil sehingga kerap bertanya-tanya, “kenapa ini semua terjadi pada kami?”

Sara Al-Metrabi berjalan dengan kursi rodanyaSara Al-Metrabi berjalan dengan kursi rodanya
Sumber: middleeasteye.net

Trauma atas agresi mei 2021, anak-anak di Gaza berdoa setiap malam agar langit-langit kamar tidak runtuh menimpanya saat tidur. Nadine Abdullatifa berusia 11 tahun seorang anak yang rumahnya diratakan karena serangan udara Israel pada 13 Mei 2021. Ia menangis menunjuk puing-puing bangunan, “Anda melihat semua ini? Apa yang Anda harapkan dari saya? Perbaiki? Saya baru 10 tahun.”

Bagaikan mimpi buruk, anak-anak Gaza terhantui suara ledakan bom, tembakan, dan teriakan. Mereka takut apabila semua keluarga mereka tewas saat serangan dan meninggalkan mereka sendirian. Tak sedikit anak Gaza yang kini hidup sebatang kara sebagai yatim piatu ditinggal orang tua dan keluarganya. Pada agresi 2021, diperkirakan bahwa sebanyak 241 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya. Sementara itu, 72.000 anak-anak mengungsi ke sekolah UNRWA atau rumah kerabat selama serangan Israel.[16] Anak-anak bertahan hidup dalam kegelapan air mata.

“Penjajah Zionis Israel mencoba mencetak kemenangan atas tubuh anak-anak” ucap Khaled al-Hadidi, seorang ayah yang kehilangan 4 anaknya pada Mei 2021.[17]

Sekretaris jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan kehidupan anak di Gaza sebagai “Hell on Earth” saat rapat Majelis Umum PBB.[18] Hal ini karena fisik dan psikologis anak-anak di Gaza telah terkepung rasa kengerian. Bertahun-tahun mereka  hidup lama di bawah blokade Israel, sehingga merasakan ketakutan, kesedihan, depresi, bahkan berhasrat ingin bunuh diri. Sebanyak 41% populasi dari dua juta warga Gaza adalah anak-anak berusia sekitar 14 tahun dan di bawahnya. Menurut visualizing palestine, pada Juni 2021, terdata bahwa 88% anak-anak Gaza hidup dalam trauma dan 54% anak mendapat diagnosis PTSD.

Kondisi masa kecil anak-anak GazaKondisi masa kecil anak-anak Gaza
Sumber: visualizingpalestine.org

Sejalan dengan itu, laporan Save the Children juga menunjukkan peningkatan drastis sejak penelitian terakhir mereka pada 2018. Jumlah anak yang mengalami gejala depresi, kesedihan dan ketakutan telah meningkat dari 55% menjadi 80%. Peningkatan jumlah anak yang merasa ketakutan naik signifikan yaitu sebesar 84%, sementara pada tahun 2018 hanya sebesar 50%. Persentase anak yang merasa gugup naik menjadi 80% dari 55%. Anak yang mengalami gejala depresi juga meningkat menjadi 77% dari 62%. Adapun anak yang mengalami kesedihan meningkat menjadi 78% dari sebelumnya 55%. Banyak anak yang sulit berkonsentrasi, dan menarik diri dari sosial karena trauma yang dialami. Berdasarkan laporan bylinetimes, ditemukan  bahwa 81% anak sekolah Gaza berjuang secara akademis karena stres dan trauma. Trauma seperti itu akan bisa berkepanjangan hingga mereka dewasa.

Dengan kondisi berat secara psikologis ini, banyak anak juga harus ikut membantu menafkahi keluarga mereka. Bukan sebagai sebuah perintah dari keluarga, tetapi menjadi sebuah tuntutan kehidupan dan kesadaran akan situasi perekonomian keluarga mereka. Seperti kasus Mohammed Jabr yang lahir di bawah blokade. Ia lahir di kamp pengungsi al-Shati, barat Gaza, tahun 2007. Di ulang tahunnya yang ke-15 ia ingin bisa menyeberangi keluar perbatasan Jalur Gaza yang miskin. Meskipun umurnya masih belia ia sudah bekerja.

“Saya bekerja tidak hanya untuk uang. Saya juga ingin mendukung bisnis paman saya. Dia bekerja sangat keras, tetapi bisnisnya hampir tidak menghasilkan keuntungan bahkan terlilit utang.” ucapnya.

Program Bantuan Kesehatan dan Trauma Healing untuk Anak-anak Gaza

Dampak blokade selama 15 tahun terhadap warga Gaza sangatlah parah dan masih terus berlanjut. Segala kebijakan Israel ini bertujuan untuk menghilangkan kesempatan warga untuk hidup di tanah mereka sendiri. Tak ada celah sedikitpun bagi warganya untuk bisa bernapas di sana.  Meski demikian, warga Gaza hidup dengan “senyum” terbaik mereka. Krisis kesehatan mental warga Gaza digambarkan sebagai luka peluru tak terlihat. Mereka berusaha membangun kembali kehidupan yang telah Zionis hancurkan. Seperti perkataan Muhammad al-Zawaraa, seorang anak 15 tahun,

“Kami baru saja mulai membangun kembali [rumah kami], tetapi siapa yang bisa menjamin itu tidak akan menjadi sasaran [penyerangan] lagi?”[19]

Kita mungkin tidak dapat menghentikan blokade yang dilakukan Israel terhadap Gaza, ataupun serangan militer yang kerap terjadi. Namun kita tidak dapat menutup mata atas krisis kemanusiaan yang harus mereka derita. Kehancuran ekonomi akibat blokade dan agresi militer telah membawa Gaza menjadi wilayah dengan kebutuhan kemanusiaan yang besar, dengan salah satu kebutuhan utama yaitu dalam hal kesehatan.

Pasca agresi militer dan serangan bom yang digencarkan zionis Israel pada 2021, tak sedikit orang di Gaza telah kehilangan kemampuan anggota atau fungsi tubuhnya. Sementara itu, buruknya perekonomian dan blokade telah membuat mereka kesulitan untuk mendapat pengobatan atau alat bantu kesehatan. Oleh karena itu, Adara Relief International yang berfokus pada anak dan perempuan, menyalurkan bantuan darurat untuk 550 anak, 2143 keluarga, 1952 orang, 19 rumah dan 4 rumah sakit. Adara juga menyalurkan bantuan kesehatan berupa alat bantu dengar untuk  21 orang perempuan menjadi penerima manfaat atas bantuan ini.[20]

Selain itu, sebagai bagian dari program Trauma Healing pasca agresi Mei 2021, Adara juga menyelenggarakan sebuah program “Super Camp 2021”, yang bertujuan sebagai pelipur lara bagi anak-anak Gaza. Super Camp 2021 adalah kelas musim panas di Azhaar Palestine Model Primary School for Special Education. Kegiatan yang berlangsung di kelas musim panas ini meliputi pendidikan karakter, hiburan, olahraga, cara bersosialisasi, dan pengayaan wawasan. Melalui program ini, para peserta yang merupakan anak-anak disabilitas diharapkan dapat  mengekspresikan diri melalui berbagai kegiatan, memberikan peluang kepada mereka agar mendapatkan pendidikan karakter, dan menumbuhkan kepercayaan dalam diri mereka meskipun mengalami cacat fisik akibat agresi.

Kemudian melalui program sembako Ramadan, makanan berbuka puasa dan hadiah Hari Raya pada 2021, Adara juga telah menyalurkan bantuan untuk 3.203 orang penerima manfaat di Gaza. Sementara pada tahun 2022, Adara telah menyalurkan untuk sebanyak 4.359 orang penerima manfaat melalui program bantuan yang sama.

Super camp anak-anak GazaSuper camp anak-anak Gaza
Sumber: adararelief.com
Adara salurkan alat bantu dengar untuk GazaAdara salurkan alat bantu dengar untuk Gaza
Sumber: adararelief.com

 

Vannisa Najchati Silma, S. Hum

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana  jurusan Sastra Arab, FIB UI.

 

[1] https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/suffocation-and-isolation-15-years-israeli-blockade-gaza-enar

[2] https://www.aljazeera.com/news/2003/12/9/the-first-intifada

[3] https://www.history.com/this-day-in-history/intifada-begins-on-gaza-strip

[4] https://www.aljazeera.com/news/2021/3/14/a-guide-to-the-gaza-strip

[5] https://euromedmonitor.org/en/gaza

[6] Khalid Manzoor Butt dan Anam Abid Butt, “Blockade on Gaza Strip: A Living Hell on Earth”,in Journal of Political Studies, Vol. 23, No.1, 2016, hlm. 160-161

[7] Gaza in 2020, Agustus 2012, UN, hlm. 3. https://www.unrwa.org/userfiles/file/publications/gaza/Gaza%20in%202020.pdf

[8] https://euromedmonitor.org/en/gaza

[9] OCHA oPt. (2021), Escalation of Hostilities and Unrest in the oPt, hlm. 11. diakses dalam https://www.ochaopt.org/sites/default/files/flash_appeal_27_05_2021.pdf

[10] https://adararelief.com/israel-serang-gaza-setelah-kunjungan-biden/

https://adararelief.com/israel-serang-di-jalur-gaza/

[11] Euro-Mediterranean Human Rights Monitor, Suffocation and Isolation 15 years of Israel blockade on Gaza, Swiss: Jenewa, 2021, hlm. 5. https://euromedmonitor.org/uploads/reports/Gazareporteng.pdf

[12] https://www.oxfam.org/en/timeline-humanitarian-impact-gaza-blockade

[13] Gaza in 2020, Agustus 2012, UN, hlm. 6. https://www.unrwa.org/userfiles/file/publications/gaza/Gaza%20in%202020.pdf

[14] Euro-Mediterranean Human Rights Monitor, Suffocation and Isolation 15 years of Israel blockade on Gaza, Swiss: Jenewa, 2021, hlm. 5 https://euromedmonitor.org/uploads/reports/Gazareporteng.pdf

[15] https://www.#/20220718-israel-revokes-decision-to-issue-more-work-permits-for-palestinians-in-gaza/

[16] Euro-Mediterranean Human Rights Monitor, One War Order, Juli 2021, hlm. 13 https://euromedmonitor.org/uploads/reports/gazachildrepen.pdf

[17] https://www.middleeasteye.net/news/israel-air-strikes-gaza-kill-palestinian-family

[18] https://news.un.org/en/story/2021/05/1092332

[19] https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-gaza-children-traumatised-year-after-bombardment

[20] https://adararelief.com/salurkan-alat-bantu-dengar-rakyat-gaza-kembali-tertawa/

 

Sumber:

https://www.aljazeera.com/news/2003/12/9/the-first-intifada https://www.aljazeera.com/news/2021/3/14/a-guide-to-the-gaza-strip

https://bylinetimes.com/2022/06/21/werlemans-worldview-the-uks-shameful-contribution-to-15-years-of-suffering-in-gaza/

https://euromedmonitor.org/en/gaza

​​https://www.history.com/this-day-in-history/intifada-begins-on-gaza-strip

https://www.hrw.org/news/2022/06/14/gaza-israels-open-air-prison-15

https://www.#/20220615-israel-killed-5418-palestinians-in-gaza-over-15-years-says-rights-group/

https://www.#/20220615-to-mark-15-years-of-the-siege-gaza-children-suffer-emotional-distress-under-israels-blockade-uk-charity-warns/

https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-gaza-children-traumatised-year-after-bombardment

https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-gaza-children-spent-whole-lives-cut-off-world

https://www.middleeasteye.net/news/israel-air-strikes-gaza-kill-palestinian-family

https://www.middleeasteye.net/news/israel-gaza-devastation-photos-one-year-later

https://www.middleeasteye.net/news/israel-gaza-palestine-air-strikes-rocket-attack

https://www.middleeasteye.net/video/gaza-palestinian-girls-dream-walk-again

https://www.middleeasteye.net/news/gaza-palestine-israel-fifteen-years-blockade-benefits-noone

https://www.#/20220718-israel-revokes-decision-to-issue-more-work-permits-for-palestinians-in-gaza/

https://news.un.org/en/story/2021/05/1092332

https://www.trtworld.com/opinion/who-will-heal-gaza-s-medical-workers–18836

https://www.oxfam.org/en/timeline-humanitarian-impact-gaza-blockade

https://visualizingpalestine.org/visuals/four-wars-old

https://visualizingpalestine.org/visuals/gaza-closure

Baycar, H, Atar, E. (2021). “An Analysis of the Impacts of the First Palestinian Uprising (Intifada) On the Israeli Economy”, İMGELEM, 5 (9): 565-578. Diakses dalam https://dergipark.org.tr/en/download/article-file/1946639

Butt, Khalid Manzoor dan Anam Abid. (2016). “Blockade on Gaza Strip: A Living Hell on Earth”. Journal of Political Studies, 23 (1): 157-182. Diakses dalam https://www.researchgate.net/publication/315843374_Blockade_on_Gaza_Strip_A_Living_Hell_on_Earth

Euro-Mediterranean Human Rights Monitor. Suffocation and Isolation 15 years of Israel blockade on Gaza. Swiss: Jenewa. 2021. Diakses dalam https://euromedmonitor.org/uploads/reports/Gazareporteng.pdf

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Gaza in 2020. Agustus 2012. UN. Diakses dalam https://www.unrwa.org/userfiles/file/publications/gaza/Gaza%20in%202020.pdf

OCHA oPt. (2021). Escalation of Hostilities and Unrest in the oPt. Diakses dalam https://www.ochaopt.org/sites/default/files/flash_appeal_27_05_2021.pdf

The Euro-Mediterranean Human Rights Monitor. One War Order. Juli 2021. Diakses dalam https://euromedmonitor.org/uploads/reports/gazachildrepen.pdf

***

Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.

Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Donasi

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Tags: ArtikelPalestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Duka Menyelimuti Keluarga Allaa Qaddoum, Bocah 5 Tahun yang Terbunuh Rudal Israel

Next Post

Korban Tewas di Gaza Meningkat menjadi 15, sementara 125 Luka-Luka

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
21

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
16
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
19
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
24
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
87
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Korban Tewas di Gaza Meningkat menjadi 15, sementara 125 Luka-Luka

Korban Tewas di Gaza Meningkat menjadi 15, sementara 125 Luka-Luka

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630