Fajar menandai awal hari baru di bulan Ramadan. Di Masjid al-Shafii yang rusak sebagain di Khan Younis bagian barat, dengungan drone Israel di atas kepala bukanlah satu-satunya suara yang terdengar saat salat subuh berakhir. Sebaliknya, gema khidmat memenuhi udara – para penghafal Al-Qur’an membacakan ayat-ayat suci dengan lantang.
Barisan demi barisan pria dan anak laki-laki Palestina yang mengenakan jubah putih memenuhi halaman masjid untuk satu tujuan tunggal: membaca seluruh Al-Qur’an sebelum matahari terbenam. Beberapa duduk di kursi sementara yang lain berbaring di lantai, tetapi semuanya tetap fokus pada tugas mulia di hadapan mereka.
Dua ratus lima puluh enam penghafal Al-Qur’an – yang telah menghafal seluruh kitab suci tersebut – duduk di tempat itu sementara sejumlah orang duduk di samping mereka menyimak dengan penuh perhatian, mengikuti setiap kata dengan cermat untuk memastikan bacaan tetap sempurna.
Pertemuan yang diberi nama “Safwat Al-Huffaz” – “Para Elit Penghafal Al-Qur’an”, telah menjadi cara kolektif khusus untuk menjalankan ibadah Ramadan di Gaza. Namun, setelah hampir dua tahun genosida Israel di wilayah tersebut, maknanya menjadi jauh lebih dalam.
Menghafal Al-Qur’an merupakan salah satu kehormatan Islam yang paling mulia, yang membutuhkan bertahun-tahun studi yang disiplin, pengulangan, dan pengabdian. Selama bertahun-tahun, Gaza telah mengembangkan tradisi yang kaya akan kelompok penghafal Al-Qur’an yang memupuk nilai-nilai spiritual dan memperkuat keimanan.
Sesi-sesi pembacaan massal telah menjadi salah satu ekspresi paling terkemuka dari tradisi tersebut. Terlepas dari kehancuran timbul akibat genosida Israel di Gaza, para peserta tetap bersikeras untuk mengadakan pertemuan seperti itu pada tahun ini sebagai bentuk keteguhan spiritual mereka.
Baca juga : “Kabar Anak-Anak Penghafal Al Quran Palestina di Lebanon: Antara Pembatasan, Musim Dingin, dan Harapan yang Terjaga“
Bagi masyarakat Gaza yang mayoritas beragama Islam, masjid telah lama berfungsi sebagai pilar kehidupan spiritual dan sosial. Iman adalah praktik yang dihayati dan terjalin dalam kehidupan sehari-hari, bukan sesuatu yang terbatas pada kata-kata atau isyarat simbolis.
Di hampir setiap lingkungan, masjid berfungsi sebagai pusat komunitas tempat orang-orang mencari ketenangan; bukan sekedar untuk mendapat bimbingan agama melainkan juga untuk melepaskan tekanan kehidupan sehari-hari. Dari generasi ke generasi, ruang-ruang keagamaan ini telah membina warga Palestina dari semua lapisan masyarakat. Cendekiawan, dokter, insinyur, dan buruh, sama-sama pernah berada di lingkungan Al-Qur’an ini, yang mengajarkan disiplin, kesabaran, dan iman.
Namun genosida Israel di Gaza telah merusak infrastruktur spiritual tersebut. Menurut Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza, lebih dari 89 persen masjid di wilayah tersebut, atau lebih dari 1.000 masjid telah hancur total atau rusak parah akibat serangan Israel.
Serangan Israel juga membunuh para jemaah yang sedang berkumpul untuk salat di masjid-masjid. Kerusakan yang meluas telah menyebabkan lembaga-lembaga keagamaan hancur. Kondisi ini memaksa para jemaah dan siswa untuk berpencar ke berbagai kamp pengungsian dan tempat penampungan sementara.
Namun demikian, warga Palestina tidak berdiam diri. Mereka menjadikan pembangunan tempat ibadah darurat sebagai prioritas. Di kamp-kamp dan tempat penampungan, warga membangun masjid-masjid dari kayu, terpal, atau potongan kain. Di sana, orang-orang berkumpul untuk beribadah, belajar, dan membaca Al-Qur’an, meskipun salinan kitab suci itu semakin langka dan seringkali harus dibagi-bagi.
Ruang-ruang yang rapuh ini telah memungkinkan tradisi Al-Qur’an di Gaza untuk bertahan. Ini memungkinkan generasi baru penghafal Al-Qur’an tetap terlahir meskipun menghadapi kesulitan yang sangat besar di sekitar mereka.
Sumber: Al Jazeera








