Satuan Tugas Human Immunodeficiency Virus (HIV) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dwiyanti Puspitasari mencatat, sebanyak 220 anak-anak di Indonesia didiagnosis dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) selama 2021. Salah satu daerah, yaitu Kabupaten Grobogan mencatat ada 91 anak di wilayahnya terjangkit HIV/AIDS. Kasus ini terjadi lantaran adanya penularan dan turunan dari orang tuanya. ”Ada 91 anak di Kabupaten Grobogan terindikasi terpapar HIV. Rata-rata disebabkan keturunan atau yang berasal dari pihak keluarga. Mereka rata-rata berusia 0–10 tahun. Data tersebut merupakan temuan sejak 2002 hingga 2022 ini,” ujar Sub Koordinator Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Grobogan Gunawan Cahyo Utomo.
Di Indonesia, dia melanjutkan, total sekitar 17 ribu anak dengan usia di bawah 14 tahun didiagnosis menderita HIV/AIDS dan kurang lebih 17 ribu anak di atas 14 tahun juga tertular HIV/AIDS. Ia mengakui dengan obat-obatan yang ada, diharapkan HIV/AIDS bisa disembuhkan suatu saat nanti. Meski mulai ada titik cerahnya, ia mengakui saat ini pengobatan untuk HIV/AIDS masih sebatas mengendalikan. “Jadi, belum benar-benar bisa membunuh virus HIV/AIDS sampai akar,” ujarnya.
Dokter spesialis anak dari RSUP Persahabatan M Ramdhani Yassien mengatakan bahwa infeksi HIV pada anak sering kali tidak menimbulkan gejala khas. Hal itulah yang kadang-kadang dapat mengecoh orang tua. Ramdhani menjelaskan, gejala yang timbul ketika anak terinfeksi HIV akan bergantung pada sistem tubuh mana yang terserang oleh infeksi penyakit. Ia menyebut, infeksi HIV biasanya tidak tunggal. “Tidak sendiri, ada yang nebeng. Virus HIV ibarat yang membawa motor dan ada yang nebeng, yaitu penyakit lainnya. Jadi gejalanya ya tergantung siapa yang nebeng,” jelas Ramdhani. Andaikan infeksi penyerta kuman TBC maka anak akan bergejala penyakit TBC.
Selain itu, Dwiyanti juga mengatakan perawatan anak dengan HIV/AIDS juga harus melihat kondisi tertentu. Yang paling mudah adalah dengan mengajarkan anak untuk mencuci tangan. Ia mencontohkan kalau anak dalam kondisi AIDS atau sakitnya bergejala berat maka pasti butuh perhatian yang lebih. Sebab, dia melanjutkan, lebih banyak obat-obatan yang harus diminum. Artinya selain obat HIV/AIDS, penderita juga minum obat untuk penyakit yang menyertainya.
Namun demikian, anak dengan HIV/AIDS masih bisa bermain normal dan bersosialisasi karena hal itu penting untuk perkembangan anak. “Jangan karena terinfeksi HIV/AIDS kemudian mendapatkan stigma dan akhirnya memisahkan diri. Ini tidak baik untuk kesehatannya,” ujarnya. Yang juga tak kalah pentingnya adalah obat yang harus diminum seumur hidup dan jamnya juga penting untuk dipastikan karena akan memengaruhi efektivitasnya. Dwiyanti juga meminta orang tua melengkapi vaksinasi untuk anak yang didiagnosis HIV/AIDS untuk memperkuat daya tahan tubuhnya.
Sumber:
https://radarkudus.jawapos.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








