Jurnalis dan aktivis Palestina Saleh Al-Jaafarawi terbunuh pada Ahad (12/10) saat meliput kehancuran besar yang ditinggalkan agresi militer Israel di Kota Gaza. Menurut sumber medis, jasad Al-Jaafarawi yang ditembak mati oleh milisi bersenjata di wilayah selatan Kota Gaza telah dipindahkan ke Rumah Sakit Al-Ahli.
Komunikasi dengan Al-Jaafarawi sempat terputus pada Ahad (12/10) malam ketika ia melaporkan kejahatan Israel di lingkungan Al-Sabra. Saksi mata menyebutkan bahwa geng bersenjata menyerang, menembaknya hingga terkena tujuh peluru, lalu mengambil barang-barangnya. Beberapa laporan di media sosial menyebut bahwa geng tersebut adalah milisi yang didukung Israel.
Kementerian Dalam Negeri Gaza mengonfirmasi bahwa bentrokan bersenjata terjadi antara pasukan keamanan dan geng yang “terkait dengan pendudukan Israel”. Beberapa anggota geng dilaporkan terbunuh dalam baku tembak, sementara otoritas Gaza kini telah menguasai penuh wilayah tersebut dan melakukan penyisiran untuk menangkap para pelaku yang tersisa. Geng itu juga diketahui membunuh sejumlah pengungsi yang tengah kembali dari Gaza bagian selatan ke Kota Gaza.
Al-Jaafarawi dikenal sebagai jurnalis dan aktivis yang vokal dalam menyuarakan narasi Palestina serta mendokumentasikan genosida Israel di Gaza. Melalui akun media sosialnya, ia kerap menyoroti penderitaan warga sipil, pengungsian massal, dan kehancuran akibat blokade serta serangan Israel.
Sumber keluarga menyebut bahwa Al-Jaafarawi telah menerima ancaman pembunuhan dan penargetan langsung dari pendudukan Israel selama perang, hingga akhirnya ancaman itu benar-benar terjadi. Israel bahkan dilaporkan memasukkannya ke dalam “daftar merah” target, seperti halnya jurnalis Al-Jazeera, Anas Al-Sharif.
Terbunuhnya Al-Jaafarawi menambah panjang daftar jurnalis Palestina yang gugur dalam dua tahun genosida Israel di Jalur Gaza, banyak di antaranya dibunuh saat menjalankan tugas jurnalistik mereka untuk menunjukkan kebenaran dari lapangan.
Sumber: Palinfo, Qudsnen








