Lebih dari 100 lembaga kemanusiaan dan media internasional, termasuk Committee to Protect Journalists (CPJ), menyerukan diakhirinya pengepungan dan kelaparan sistematis yang diberlakukan Israel terhadap warga sipil dan jurnalis di Gaza. Mereka memperingatkan, “Selamatkan nyawa sebelum tak ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan.”
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 100 orang yang kebanyakan anak-anak telah meninggal karena kelaparan sejak Israel memutus total bantuan ke wilayah tersebut sejak Maret. Meskipun blokade sempat sedikit dilonggarkan pada akhir Mei saat Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang didukung Israel dan AS mulai mendistribusikan makanan, banyak pihak mengecamnya sebagai “perangkap maut”. Lebih dari 1.000 warga Palestina dilaporkan terbunuh saat berusaha mendapatkan bantuan dari lokasi distribusi GHF.
Sementara itu, CPJ menyatakan bahwa para jurnalis Gaza tidak hanya dilaparkan, tetapi juga dibungkam secara sistematis. Mereka adalah saksi garis depan yang kini ditinggalkan tanpa dukungan, karena media internasional telah ditarik keluar dan tidak diizinkan masuk. “Respons dunia atas keberanian mereka meliput perang selama lebih dari 650 hari tidak boleh berupa membiarkan mereka mati kelaparan,” ujar Sara Qudah, Direktur Regional CPJ.
Kondisi para jurnalis di lapangan sangat mengkhawatirkan. Banyak dari mereka mengalami penurunan berat badan drastis, pusing, kelelahan, bahkan pingsan saat siaran langsung. Anas Al-Sharif dari Al Jazeera, misalnya, menulis: “Aku tenggelam dalam kelaparan, gemetar karena kelelahan, dan menahan pingsan di setiap detik, Gaza sedang sekarat, dan kami mati bersamanya.” Jurnalis lainnya, Sally Thabet pingsan usai siaran karena seharian tidak makan, ia kemudian dirawat di RS Al-Shifa. Tiga jurnalis dilaporkan kolaps karena kelaparan hanya dalam satu minggu.
Wesam Abu Zaid, reporter TV Aljazair, turut memprotes kondisi ini dengan membawa poster bertuliskan, “Seorang jurnalis kelaparan melaporkan kelaparan.” Menurutnya, hampir semua jurnalis mengalami pusing, kehilangan berat badan, dan kesulitan berdiri akibat kurang makan.
Kecaman juga datang dari berbagai kantor berita internasional seperti AFP, AP, BBC, dan Reuters. Dalam pernyataan bersama, mereka menyebut para jurnalis Gaza sebagai “mata dan telinga dunia” yang kini tidak mampu lagi memberi makan diri dan keluarganya. “Ancaman kelaparan kini menjadi bagian dari risiko profesi jurnalis di zona perang.”
Israel menyangkal membatasi bantuan dan menyalahkan organisasi kemanusiaan atas keterlambatan distribusi. Namun tuduhan terhadap jurnalis pun terus dimunculkan Israel. Anas Al-Sharif, misalnya, dituduh oleh juru bicara militer Israel sebagai anggota Hamas, tuduhan yang ia bantah keras. “Saya adalah jurnalis tanpa afiliasi politik. Tugas saya hanya melaporkan kebenaran di tengah bencana kelaparan yang mematikan ini,” tulisnya di media sosial.
Tragedi juga menimpa Walaa Al-Jaabari, jurnalis yang sedang hamil, yang terbunuh bersama suami dan empat anaknya dalam serangan udara Israel. Dalam unggahan terakhirnya di Facebook, ia menulis, “Saya tidak takut mati karena dilaparkan. Saya takut hati ini hancur jika perang gila ini tidak juga berakhir.”
Pemerintah Gaza menyebut pembunuhan Walaa sebagai bagian dari upaya sistematis Israel untuk membungkam jurnalis dan mengaburkan kebenaran. Dengan kematiannya, jumlah jurnalis yang terbunuh sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 232 orang.
Sumber:
https://cpj.org/2025/07/cpj-israel-is-starving-gazan-journalists-into-silence/#:~:text=%E2%80%9CIsrael%20is%20starving%20Gazan%20journalists,CPJ%20Regional%20Director%20Sara%20Qudah.
https://www.newarab.com/news/cpj-says-israel-starving-gazan-journalists-silence








