Panggil Aku Salam
Salam, itulah namaku, atau setidaknya, nama yang telah disiapkan ibuku untukku. Ibuku bilang, namaku diambil dari bahasa Arab yang berarti ‘perdamaian’, sebuah kata yang sangat kontradiktif dengan apa yang terjadi di tempat aku akan dilahirkan–jika aku sempat dilahirkan. Yang terjadi di sini terlalu mengerikan, sebab jika tidak, ibuku mungkin tidak akan merasa perlu menyiapkan nama terlalu cepat untukku, bahkan sebelum mengetahui apakah aku laki-laki atau perempuan. Masih sekitar enam bulan lagi hingga aku bisa dilahirkan–jika sempat. Akan tetapi, di tempat ini, di tempat nyawa hanya dihargai sebagai angka, ibuku dan para ibu lainnya tetap ingin menunjukkan kepada dunia bahwa nama kami berharga dan kisah kami ini nyata.
Ibuku bernama Haneen Mousa, usianya masih 28 tahun, masih tergolong cukup muda untuk seorang ibu yang sedang mengandung anak ketiga. Ibuku adalah satu di antara sekian banyak orang yang diusir dari wilayah Jabalia di Gaza Utara ke Gaza Selatan saat Israel mengancam akan menginvasi wilayah tersebut dengan serangan brutal. Kondisi sangat mengerikan saat itu, bom berjatuhan di mana-mana, merenggut ribuan nyawa dalam sekejap mata. Di tengah situasi mencekam yang bisa saja merenggut nyawanya, ibuku sibuk memikirkan nasib diriku, yang bahkan belum pernah dilihatnya; tapi tentu saja jantungku dan jantung ibuku sudah saling bertaut sejak awal.
Pada hari saat ibu terpaksa mengungsi, ibu membawa serta dua kakakku yang berusia dua dan tiga tahun. Air mata mengalir di pipinya, tapi yang paling menyiksanya sebenarnya adalah rasa takutnya, rasa takut akan kehilangan aku yang ada di perutnya. Rasa takut yang semakin lama semakin besar tersebut kemudian mengirimkan sinyal ke tubuhnya, memicu pendarahan yang semakin menambah kepanikannya.
Nahas, dalam situasi yang sangat tidak menentu seperti ini, sebenarnya kami ‘dilarang’ untuk sakit. Bagaimana tidak, bom yang dijatuhkan terus-menerus telah melumpuhkan fasilitas kesehatan dan layanan medis, terutama bagi perempuan hamil. Akses internet dan komunikasi juga sangat dibatasi, maka jangan harap bisa memanggil ambulans. Melalui siaran radio yang sangat langka, ibuku kemudian mengetahui bahwa klinik yang biasa ia kunjungi untuk memeriksa kondisiku telah dibom. Kemudian, bersamaan dengan diserangnya perusahaan telekomunikasi, ibuku tidak bisa menghubungi dokter kandungan atau bidan mana pun.
Syukurnya, aku cukup kuat untuk bertahan sehingga bisa menceritakan kisah ibuku kepada kalian. Ibuku berhasil mencari perlindungan di Kamp Pengungsian al-Maghazi di jantung Jalur Gaza, tempat orang tuanya menetap. Meski di sini pun tidak ada jaminan bahwa kondisinya akan lebih baik, tapi setidaknya ibuku memiliki keluarga lain di sisinya selain kami, anak-anak yang belum mengerti apa yang sedang terjadi. Ibuku harus memiliki waktu sejenak untuk menenangkan diri, sebab apa yang disaksikannya di perjalanan sungguh di luar nalar dan rasa kemanusiaan.
Ibuku bukanlah satu-satunya perempuan hamil yang menderita akibat agresi. Selain ibuku, masih ada lebih dari 50.000 perempuan hamil lainnya yang bernasib sama. Mereka ketakutan akan masa depan kami, anak-anaknya yang belum lahir, namun tak bisa berharap banyak selain mendoakan keselamatan kami. Tak sedikit dari mereka yang kemudian mengalami pendarahan, komplikasi, dan stress berkepanjangan karena kengerian yang harus mereka hadapi tanpa henti.
Semakin mendekati hari kelahiran, alih-alih bahagia karena akan segera berjumpa dengan kami, banyak ibu justru semakin takut karena tak sedikit yang terpaksa melahirkan di mobil, jalanan, atau entah di mana pun itu. Kami, bayi-bayi yang berada di kandungan ibu kami yang bertahan di tengah agresi, hanya menunggu waktu sebelum dilahirkan ke dunia yang keji, atau mati terbunuh oleh serangan Zionis Israel yang tak punya nurani.
Kami, Keajaiban yang Disia-siakan
Namaku Maha, dan aku adalah seorang bayi perempuan yang berasal dari Gaza. Aku memiliki tiga saudara kembar, Khaled, Abdul-Khaleq, dan Mahmoud. Ya, kami berempat adalah saudara kembar yang lahir dari ibu kami yang bernama Wafaa dan ayah kami Fadi al-Baba.
Satu bulan yang lalu, saat kami dilahirkan, seluruh kota bersukacita. Wajah kami dimuat di berita lokal, berita kelahiran kami tersebar luas. Banyak orang mengatakan bahwa kami berempat adalah keajaiban. Kami lahir setelah ibu dan ayah kami berjuang selama 15 tahun menanti keturunan. Lebih dari satu dekade berusaha, ayah dan ibu melakukan proses fertilisasi in-vitro, hingga akhirnya kami berempat bisa hadir di keluarga ini.
Akan tetapi, jika diceritakan kembali di masa kini, semua kisah tersebut terkesan seperti candaan belaka, mimpi indah yang direkayasa. Dulu orang-orang bilang bahwa kami adalah keajaiban, tapi kini nyatanya kami berempat hanya diberi kesempatan sekejap saja untuk menikmati dunia. Ya, aku dan tiga saudaraku beserta ibu kami adalah satu di antara ribuan korban kekejian Zionis Israel di Gaza. Satu serangan udara yang mereka jatuhkan merenggut nyawa kami berlima, meninggalkan ayah kami sebagai satu-satunya korban yang selamat, meski kami tahu hatinya pasti sangat hancur meski raganya bertahan.
Maka sampaikanlah kisah kami kepada dunia, agar mereka semua paham bahwa keajaiban pun tidak ada istimewanya di sini. Bibi kami, Duaa, mengungkapkan kesedihannya atas kepergian kami dan ibu kami. Ia membagikan foto rumah keluarga kami, yang kini telah berubah menjadi reruntuhan, dengan menambahkan tulisan: “Wahai para tamu, berhati-hatilah saat mengetuk, karena tidak ada lagi orang di dalam rumah.”
Aku, Putra dari Maryam
“Putra Maryam al-Harsh”, hanya itu identitas yang tertulis di kertas merah muda yang melingkari kaki kecilku. Tubuhku masih terlalu kecil untuk bisa bergerak dan bertanya tentang asal-usulku. Aku hanya bisa terbaring lemah di dalam inkubator–yang entah sampai kapan dapat bertahan. Satu-satunya kisah tentang diriku hanya bisa kudapatkan dari dokter yang membantu proses kelahiranku ke dunia.
Dokter Nasser Bulbul namanya. Beliau menceritakan bahwa saat itu ia mendapat telepon dari Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza Utara, mengenai seorang perempuan hamil yang sekarat dan membutuhkan operasi darurat. Ia mengatakan bahwa itu adalah ibuku, yang saat itu telah kehilangan suaminya–ayahku–serta 10 anggota keluarganya, sebelum akhirnya ia juga kehilangan nyawanya.
Dokter Bulbul kemudian bergegas melakukan operasi caesar darurat untuk mengeluarkanku dari perut ibuku yang sudah tidak lagi bernyawa. Begitu aku dikeluarkan dari rahim ibuku, kondisi jantungku terlalu lemah, kemudian diketahui bahwa aku juga menderita iskemia serebral. Itu adalah nama cedera otak akut yang kemungkinan disebabkan oleh kematian ibuku sesaat sebelum aku dilahirkan.
Karena kondisiku yang lemah, aku segera dipindahkan ke Rumah Sakit al-Shifa untuk dipasangkan ventilasi mekanis. Baru aku tahu, ternyata aku bukanlah satu-satunya bayi yang terlahir sendiri tanpa keluarga, sebab saat itu ada 54 bayi lainnya yang memiliki kondisi sama persis sepertiku. Kami terpaksa harus berbagi, saling menguatkan agar selama mungkin bisa sama-sama bertahan hidup di tengah situasi kritis ini.
Dokter Bulbul yang baik mengatakan bahwa kelahiranku dan bayi-bayi lainnya telah memberikan kekuatan dan harapan bahwa kita pasti bisa melewati hari-hari mengerikan ini dan bersabar untuk menanggung penderitaan kita hingga hari nanti. Akan tetapi, kami pun bisa menyadari bahwa kalimat itu mungkin tidak lebih dari sekadar penghiburan diri. Sebab kami, 130 bayi yang hidupnya bergantung pada inkubator, dalam 5 menit bisa saja mati bersama jika aliran listrik terus-menerus dibatasi. Bisa dikatakan, kami dilahirkan hanya untuk dipaksa menjalani simulasi antara hidup dan mati.
Kami, bayi-bayi Palestina yang terlahir–atau akan lahir–di Gaza, memang tidak bisa memilih untuk lahir di sini. Dari rahim ibu kami yang hangat lagi suci, kami kemudian dipaksa untuk menghadapi dingin dan kotornya penjajahan Zionis yang terus menyiksa tanpa henti. Lahir tanpa ibu, tanpa ayah, tanpa keluarga, bahkan tanpa nama, satu-satunya identitas yang kami punya adalah: kami adalah seorang Palestina.
Kami memang tidak memiliki pilihan untuk terlahir di negeri yang telah bertahun-tahun dijajah ini. Tapi di sini, kami berjanji, bahwa kami akan lahir menjadi pejuang Tanah Suci, pembebas Baitul Maqdis dari tangan-tangan keji Zionis yang tidak punya hati. Pilihan kami sebagai anak Palestina hanyalah dua: kami akan lahir menjadi seorang pahlawan sejati, atau mati terhormat sebagai seorang Syahid.
Kami telah mengetahui pilihan hidup kami jika terlahir nanti. Bagaimana dengan kalian, wahai Dunia? Akankah meninggalkan kami hanya dengan dua pilihan itu, atau berjuang memberikan kami pilihan ketiga: tumbuh selayaknya menjadi anak-anak seperti di belahan dunia lainnya.
Speak for Gaza. Speak for Palestine. Your silence is killing.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.#/20231016-unfpa-50000-pregnant-women-in-gaza-without-basic-services/
https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-war-gaza-pregnant-what-its-like-to-be
https://daysofpalestine.ps/?p=52414
https://www.#/20231023-gaza-neonatal-unit-warns-babies-at-risk-within-minutes-if-power-fails/
https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-war-gaza-family-four-babies-years-waiting-killed
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها










