Di dekat tenda darurat berbahan kain yang hampir tak mampu melindungi dari dinginnya musim dingin, Jihad Mahmoud, bocah tiga tahun, duduk di atas pasir yang dingin sambil bermain dengan temannya. Menggunakan tangannya untuk menggerakkan bola, Jihad berjuang untuk tetap beraktivitas meski dua kakinya telah diamputasi akibat terkena serangan udara Israel di area yang disebut sebagai “zona aman” di Al-Mawasi, Gaza selatan, sebagaimana laporan Anadolu Agency.
Jihad, seorang anak energik yang dulunya gemar bermain dengan keluarganya, kini menghadapi keterbatasan mobilitas. Lebih dari empat bulan lalu, serangan udara merenggut kedua kakinya dan tiga jari di tangan kirinya. Meski mengalami cedera parah, Jihad tetap menunjukkan semangat, ceria, dan sering tertawa lepas saat ibunya bermain dengannya.
Keluarganya berharap ada bantuan kaki palsu yang dapat mengembalikan sebagian kehidupan normalnya.
Jihad adalah salah satu dari lebih dari 22.000 warga Palestina yang mengalami cedera permanen, menurut Sigrid Kaag, koordinator kemanusiaan PBB untuk Gaza, per September 2024. Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa dari jumlah tersebut, sekitar 4.000 orang telah diamputasi akibat genosida Israel.
“Dalam sejarah modern, Gaza adalah rumah bagi kelompok terbesar anak yang mengalami amputasi,” ungkap Lisa Doughten, pejabat Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), pada Oktober 2024.
“Setiap hari, sepuluh anak kehilangan satu atau kedua kaki mereka,” tambahnya, mengutip data dari badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA).
Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, menyebut cedera ini sebagai “pandemi disabilitas” yang diperparah oleh kurangnya fasilitas rehabilitasi dan prostetik.
Satu-satunya pusat rehabilitasi khusus di Gaza – Rumah Sakit Rehabilitasi Hamad dan Pusat Prostetik Gaza – terpaksa berhenti beroperasi setelah menjadi sasaran serangan udara Israel, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Mimpi Buruk Seorang Ibu
Mai Al-Shaer mengenang teror akibat serangan udara Israel di apa yang disebut “zona aman” Gaza. Lewat tengah malam, ledakan mengguncang tenda mereka di wilayah al-Mawasi. Mai menemukan kedua anaknya, Jihad (3) dan Ahmed (1), terkubur di bawah pasir. Baru di rumah sakit ia mengetahui bahwa Jihad kehilangan kedua kakinya dan beberapa jarinya.
Serangan itu membunuh saudara laki-lakinya dan iparnya yang sedang hamil, serta melukai kedua orang tuanya dan suaminya yang terluka parah. Dalam situasi seperti itu, Mai sendirian merawat Jihad dalam kondisi pengungsian yang sangat memprihatinkan.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah membunuh hampir 46.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, meski ada seruan gencatan senjata dari PBB. Pada November 2024, ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin Israel atas kejahatan perang.
Sumber:
https://www.#
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








